
Elang mengemudi santai ke arah Malioboro. Membawa Nindya masuk ke salah satu homestay yang berada tak jauh dari kawasan wisata belanja tersebut.
Seperti sudah biasa dan sering ke sana, Nindya melihat Elang disapa ramah oleh resepsionis. Bahkan dipanggil dengan sebutan 'mas' di depan namanya.
Nindya menaruh curiga kalau Elang sering membawa perempuan untuk menginap di homestay itu. Hati Nindya tercubit, merasa gerah dengan pandangan beberapa orang yang menyapa Elang dengan sopan.
Jangan-jangan mereka juga menganggapnya sebagai wanita yang bisa disewa oleh pemuda nakal semacam Elang.
"Kamu mau ikutan berenang nggak?" tanya Elang serius setelah mereka dekat kolam.
"Renang gaya batu?" Nindya mendengus terhina dan ngeloyor pergi menuju kafe.
Elang terbahak-bahak merasakan emosi dosennya yang tidak memiliki keahlian berenang. Pemuda itu mengekor dan duduk di sebelah Nindya. "Mau makan apa, Sayang?"
Nindya melotot, kesal dengan Elang yang mulai berlagak seperti pria hidung belang. Suaranya ketus saat menjawab, "Jus jeruk sama makanan ringan!"
Elang memanggil pegawai kafe, meminta untuk melayani Nindya, juga menyediakan makan siang istimewa untuk mereka nanti.
"Kamu mau tunggu aku di sini apa di taman?"
"Di sini aja, aku mau lihat kamu berenang," jawab Nindya. Matanya iseng mengerjap dengan senyum penuh makna.
"Ayo turun, aku ajarin!"
Nindya menggeleng keras menolak ide buruk Elang yang mungkin bisa mempermalukannya. "Aku nggak tertarik!"
"Nggak ada yang bakal peduli kalau kamu nggak bisa berenang, ngapain malu?"
Nindya memasang ekspresi malas, "Aku nggak malu, cuma males! Bad mood!"
"Kok dadakan bad mood? Aku bikin salah apa?" tanya Elang serius.
"Kamu terkenal ya di sini? Dari resepsionis, pegawai kafe sampai OB kenal semua sama kamu!"
"Ya aku sering kesini, seminggu dua kali berenang …."
"Cuma berenang? Bukannya sewa kamar sama cewek-cewek kamu?" tanya Nindya penuh sarkasme plus menghakimi.
Elang tersenyum senang. Suara terdengar santai saat menanggapi, "Kenapa memangnya kalau aku sering sewa kamar di homestay ini? Kamu mau juga nanti malem nginep sama aku di sini? Aku bisa pesan kamarnya sekarang."
"Crazy! Maniac!"
Elang menyuruh OB untuk memanggil salah satu resepsionis penginapan agar datang padanya.
"Mbak, apa saya pernah sewa kamar di sini? Seberapa sering? Pacar saya penasaran nih!" Elang memberi pertanyaan aneh kepada resepsionis yang baru saja sampai di depannya.
Dengan ekspresi bingung resepsionis itu menjawab sopan, "Mas Elang tidak sekalipun pernah menyewa atau menginap di sini, apalagi membawa perempuan. Mas Elang datang cuma untuk berenang!"
"See? Kamu denger sendiri kan?" Elang menatap Nindya dengan wajah penuh kemenangan.
Nindya tertegun. Wajahnya merah menahan malu, betapa Elang dengan enteng mengatakan kalau dia pacarnya. Namun, Nindya masih belum percaya sepenuhnya informasi yang baru saja didengarnya. Bisa jadi pihak homestay melindungi kepentingan pribadi pelanggan.
"Sorry El, mungkin … aku salah paham!" ucap Nindya tak yakin.
Elang mengusap puncak kepala Nindya, memahami keraguan Nindya. "Kamu benar, nggak perlu percaya sama orang lain, termasuk resepsionis itu, jangan percaya sama aku juga! Ya udah, aku mau ke kolam sekarang, kalau butuh makanan tambahan tinggal minta."
Nindya masih enggan ditinggalkan Elang, pertanyaannya terdengar asal dan konyol untuk menunda Elang berenang. "El … mapala harus bisa berenang ya?"
"Ya nggaklah, kalau dia di dalam organisasi mapala spesialisasinya keorganisasian atau manjat tebing, buat apa dia bisa berenang?"
"Kamu berenang terus, bahkan dua kali seminggu," ucap Nindya bernada cemburu.
Elang menjawab ringan, "Aku suka berenang, membuatku merasa rileks dan juga bugar."
"Apa tidak ada tempat lain untuk berenang selain di sini? Banyak kolam renang yang tidak ada penginapannya!"
"Hah, jadi kamu masih nggak percaya kalau aku datang kesini hanya untuk olahraga?"
Nindya mengedikkan bahu acuh. "Kamu masih berstatus mahasiswa tapi sering keluar masuk penginapan … dengan perempuan!"
"Stigma sosial? Aku tidak begitu peduli mengenai hal-hal seperti itu, sering keluar masuk penginapan ini benar, tapi tidak pernah membawa perempuan. Kamu adalah pengecualian."
"Di sini memang tidak! Bagaimana dengan penginapan lain?"
Elang menaikkan kedua alisnya tak percaya, "Kamu sebenarnya cuma penasaran sama kelakuanku atau mau buat undang-undang untuk mahasiswa agar tidak kelayapan di area penginapan?"
"Entahlah! Cuma ingin tau aja mungkin."
"Ada hal lain lagi yang ingin kamu ketahui nggak? Biar sekalian aku jawab." Elang mulai tak sabar.
"Untuk sementara belum ada sih, mungkin nanti atau besok."
"Siapin aja pertanyaan yang banyak, aku yakin kamu pasti penasaran sama latar belakangku!" pamit Elang.
Setelah Elang pergi, Nindya mengeluarkan buku dari tas dan mulai membaca, di tempat duduk kafe yang berada persis di pinggir kolam. Tapi dibanding membaca buku yang dibawanya, mata Nindya lebih fokus ke arah pemuda yang sibuk berenang di tengah kolam. Pemandangan yang jarang sekali dinikmati Nindya di saat luang.
Waktu Nindya sudah habis untuk mendedikasikan ilmu pada anak bangsa, anak didiknya. Terkadang, kencan dengan tunangannya pun hanya dilakukan sebagai formalitas karena mereka sudah terikat hubungan.
Apalagi di usianya yang ke-30 tahun, Daniel menjadi dosen sibuk. Mengajar di kampus lain dan terkadang menjadi dosen undangan ke luar kota. Jam mengajarnya semakin banyak seiring prestasi yang didapatnya di beberapa penelitian geologis.
Dan Nindya, lebih banyak memanfaatkan waktu sendirinya di perpustakaan jika sedang tidak ada kegiatan. Baik perpustakaan kampus maupun di rumah.
Keluar rumah bersama Elang ternyata memberi perbedaan, Nindya merasa lebih menikmati hidup. Dia merasa lebih muda dan lebih banyak tertawa. Sikapnya yang kaku perlahan terlihat natural, dan hatinya yang cenderung dingin jadi lebih hangat.
Memperhatikan Elang sekali lagi membuat Nindya berdesir. Bagaimanapun Elang sudah menjadi racun bagi otaknya yang lurus. Dan dalam kondisi basah serta toples seperti itu, Nindya yakin Elang bisa membuat wanita normal pun berfantasi abnormal. Tak terkecuali dirinya.
Arrggg … Elang benar-benar bisa menggugah gairah primitif yang selama ini ditahan Nindya. Lalu, bagaimana dengan tunangannya jika Nindya benar-benar jatuh pada pesona mahasiswa nakalnya itu?
***