Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Kamu Marah?



Elang berdiri dari tempat duduknya dan bertanya sekali lagi, "Kamu masih belum selesai bicara? Gak sayang itu kaki udah banyak bentolan?"


Nindya ikut berdiri, melangkahkan kaki lebih dulu ke dalam rumah sembari melanjutkan omelannya. "El, kamu ini sebenarnya dengerin aku nggak sih? Aku tuh kurang suka sama sikap kamu yang sok manis sama Vivian, lagian kalau kamu bisa setia bakalan lebih banyak orang punya penilaian bagus buat kamu!"


"Contohnya?" tanya Elang menaikkan satu alisnya.


"Wah Elang udah ganteng setia pula!" jawab Nindya sembari terkikik. Bagaimanapun juga Nindya tidak tahan menahan tawa saat mengucapkan pujian tulus itu.


Elang terbahak-bahak mendengar kalimat Nindya yang diucapkan dengan intonasi berlebihan. "Hm, trus?"


"Lagian apa sih hebatnya Vivian selain perabotannya yang besar depan belakang?"


Elang menyeringai sekaligus menaikkan kedua alisnya bersamaan. Ingin menjawab kalau Vivian memiliki daya tarik Afrodit, yang bisa membuat laki-laki waras menjadi gila saat berfantasi … tapi semua kalimat itu ditahan demi menghormati Nindya.


"Hm … ya aku suka aja bisa dapetin cewek yang jadi rebutan banyak orang," jawab Elang cengengesan. Dia duduk di ruang tamu, mulai membuka tas dan mengeluarkan berkas laporan untuk kepala jurusan.


"Bangga gitu ya jadi pemenang?"


Elang menjawab dengan cueknya, "Begitulah!"


"Emang kamu nggak diajarin bagaimana caranya menghormati wanita sama mama kamu? Mama kamu juga wanita, El! Atau kamu lahir dari pohon pisang, makanya kamu menjelma jadi orang yang punya jantung tapi nggak punya hati? Mustahil aku meninggalkan Daniel demi laki-laki seperti ayahku, laki-laki playboy seperti kamu itu!"


Nindya tercekat, dia membuat kesalahan tanpa disengaja. Kalimat-kalimatnya terlalu menghakimi, dan membawa-bawa orang tersayang Elang yang sudah tiada adalah tindakan yang sangat tidak bijak.


Elang hanya diam, menatap sekilas pada Nindya yang gelagapan bersiap meralat kalimat. Elang dengan segera membereskan semua kertas yang baru dikeluarkan dan memasukkan kembali ke dalam tas dengan kasar.


Tanpa berkomentar ataupun menjawab pertanyaan Nindya, Elang berdiri membawa tasnya dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Nindya boleh saja menghina dirinya sesuka hati, karena memang begitulah keadaannya. Nol kebaikan.


Tapi jika itu menyangkut mamanya, Elang tidak bisa menerima dengan mudah. Menurut Elang, tidak ada seorang ibu di dunia yang mengajarkan keburukan pada anaknya, dan kata-kata Nindya barusan sangat menyinggung perasaan Elang sebagai anak.


Mamanya tidak seperti anggapan Nindya. Mamanya banyak mengajarkan kasih sayang dan penghormatan pada wanita, jadi kalau Elang tumbuh menjadi pemuda brengsek itu sama sekali bukan salah beliau. Elang memilih jalannya karena marah pada takdir perpisahan yang belum bisa diterimanya hingga sekarang.


"El …." Nindya bersuara lirih, penyesalan hadir terlambat. Pemuda yang dihinanya tidak menoleh ataupun menghentikan langkah.


Nindya tidak mungkin membiarkan Elang pergi dalam suasana hati yang buruk. Nindya khawatir Elang melampiaskan emosinya pada minuman keras atau narkoba. Nindya tau sudah menyinggung perasaan Elang, dan dia wajib memperbaikinya sebelum Elang keluar dari rumahnya.


"El! Tunggu …!" Nindya tergopoh-gopoh mengejar Elang, berdiri menghadang Elang yang hampir sampai di pintu.


"Minggir!" perintah Elang serius.


"El, aku … aku minta maaf! Aku tidak bermaksud …."


Elang memegang kedua bahu Nindya, dengan halus tapi bertenaga memaksa Nindya menyingkir dari hadapannya. Tidak ada yang perlu dijelaskan pada perempuan keras kepala dengan mulut tajam seperti Nindya. Kaki Elang mantap melangkah keluar.


"El, kamu mau kemana?" tanya Nindya serius. Tangannya menarik kaos Elang kuat-kuat untuk menghentikannya.


"Bukan urusan Bu Nindya!" jawab Elang formal, dengan nada getir yang ditahan.


"El, bisa kita bicara sebentar?"


Elang membisu, tidak melangkahkan kaki karena bajunya masih dipegang Nindya erat-erat.


"Kamu marah ya?" tanya Nindya bodoh. Ternyata Elang jauh lebih menakutkan ketika diam. Nindya merasa mati langkah untuk meredakan amarah Elang yang tidak diungkapkan.


"El … aku minta maaf ya!" Nindya seketika memeluk Elang dari belakang.


Elang menjawab datar, "Ya."


"Saya ada kepentingan lain, urusan pribadi!"


Mendengar kalimat formal dan nada dingin dalam suara Elang, tak urung membuat Nindya didera rasa bersalah dan sedih. Elang membangun jarak yang tidak diinginkan Nindya.


"Kamu marah?"


"Nggak!"


"Trus kenapa pulang?"


Elang menjawab malas pertanyaan konyol dosennya. "Saya harus buat laporan untuk Pak Ronald!"


"El, kamu kan bisa bikin laporan di sini, nanti aku bantuin."


"Mungkin lain kali," tolak Elang tegas, tangannya berusaha mengurai jemari Nindya yang melingkar di perutnya dan terjalin satu sama lain membentuk kuncian.


"Kamu nggak mau ngerjakan laporan di sini karena malas liat aku ya?"


"Saya butuh konsentrasi untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, saya mau pulang," jawab Elang datar.


"El, aku minta maaf. Aku terbawa emosi, tidak seharusnya aku bicara buruk seperti itu … aku menyesal! Kamu mau maafin aku?"


Elang menghembus nafas berat. "Sudah saya maafkan. Bisakah Bu Nindya melepaskan saya sekarang?"


"Tapi kamu masih marah, El!"


"Saya nggak marah!"


"Iya kamu masih marah, kamu ngomongnya masih nggak enak gitu!" sangkal Nindya keras kepala.


Elang menghembuskan nafas berat, "Saya mau pulang … dan saya sudah nggak marah. Harusnya Bu Nindya paham kalimat sederhana itu."


"Apa buktinya kalau kamu udah nggak marah?" Astaga, kenapa Nindya berubah seperti remaja kekanakan yang merajuk hanya karena akan ditinggal pulang sang pacar?


"Kamu masih marah, iya kan? Kamu masih panggil aku 'bu', biasanya juga ngomongnya aku-kamu!"


"Bu Nindya dosen pembimbing saya, sudah seharusnya saya hormat dan tidak bersikap kurang ajar. Ini juga sudah malam, sudah waktunya Bu Nindya istirahat!"


"Tuh kan kamu masih belum maafin aku!" Nindya mengeratkan pelukan, menyandarkan kepalanya di punggung Elang dan menghirup aroma Elang yang akhir-akhir ini menjadi candu baginya.


"Sudah saya maafkan dan saya sudah nggak marah, tolong lepaskan saya!" ujar Elang mengulang kalimatnya dengan lebih lambat.


"Nggak mau, buktiin kalau kamu udah nggak marah!" Nindya tidak menyangka dirinya bisa serewel ini pada mahasiswanya.


Elang mengelus tangan Nindya, menggenggamnya lembut. "Aku nggak marah, Nindya!"


Mendengar Elang berbicara lembut, Nindya melepas jalinan tangan yang ada di perut Elang dengan perlahan, memutari Elang, lalu memeluk dari depan. "Berapa tinggimu, El?


"Hah? Cuma 178 …," jawab Elang mengernyitkan dahi.


"Aku tidak mungkin bertambah tinggi 20 cm lagi untuk bisa menciummu sambil berdiri begini! Jadi … bisakah kamu sedikit menunduk? Aku mau minta maaf!" Nindya berjinjit, setengahya sambil menarik baju Elang agar menuruti perintahnya. "El, please!"


Dasar perempuan!


***