Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Nasib Buntung



Butuh perjuangan bagi Elang untuk membuat lagi rencana penelitiannya, terlebih ini dilakukan bersama dengan petinggi kampus yang sudah punya gelar minimal master di bidang masing-masing. Dia tidak bisa main-main dengan keputusannya bergabung dalam tim penelitian dosen di kampusnya.


Selain Elang dari teknik kimia, ada Sandra dari teknik geologi dan Mario dari teknik pertambangan. Tiga mahasiswa yang ditunjuk untuk mewakili jurusan masing-masing dalam kerja sama di lapangan.


Elang belum bertemu lagi dengan Nindya sejak insiden ciuman panas di kamarnya, selama tiga hari ini dia sibuk bimbingan awal dengan Pak Ronald. Elang sangat serius dan fokus pada lembaran materi yang diberikan Pak Ronald padanya, dia kembali optimis bisa mengejar jadwal wisuda sesuai target.


Dalam hati, Elang merasa kalau Nindya sungguh-sungguh menghindarinya setelah membuangnya, jadi Elang pun bersikap adil dengan melakukan hal yang sama persis dengan yang sedang dilakukan Nindya. Elang tidak butuh Nindya! Ups ….


Sebenarnya bukan begitu, Elang hanya sedikit melakukan trik agar dia tidak berjumpa dengan Nindya sekarang. Mungkin beberapa hari lagi, agar terasa lebih greget saat bertemu karena terlalu kangen. Eh?


Elang ingin Nindya berpikir bahwa mahasiswa yang dibimbingnya sudah setuju dengan keputusannya berganti dosen, bahwa mereka sudah memulai kehidupan masing-masing tanpa saling mengenal dan memperdulikan.


Kesimpulannya, Elang sedang menyiapkan kejutan kecil untuk dosen muda cantik yang membuat studinya menjadi rumit.


Sementara bagi Nindya, dia sangat bersyukur Elang tidak serewel dugaannya. Dosen muda itu berkali-kali memuji dirinya sendiri karena berhasil menjauhkan Elang dari semua aktivitasnya. Bisa menghindar dari Elang selama tiga hari itu adalah prestasi besar.


Nindya menyadari sepenuhnya kalau dia tidak mungkin selalu beruntung tidak bertemu Elang di kampus. Pemuda itu masih belum lulus dan dia masih bekerja di institusi yang sama di tempat Elang kuliah. Kucing-kucingan adalah salah satu cara terbaik tidak bertemu Elang untuk sementara. Nindya butuh waktu sendirian, waktu untuk menata hatinya yang kacau balau.


Meski Nindya juga tahu kalau hatinya bukan rak buku yang mudah ditata ulang, tapi setidaknya bisa dirapikan dengan mengingat siapa dirinya dan siapa Elang. Fakta dan realita berbicara di kepala Nindya, bahwa dia harus lebih mengontrol diri untuk tidak larut pada permainan mahasiswanya.


Jatuh cinta pada pemuda dengan selisih usia enam tahun tidak menjadi masalah bagi Nindya, tapi pemuda yang dimaksud tentu saja bukanlah anak didiknya sendiri. Terlebih pemuda itu adalah mahasiswa playboy seperti Elang. Nindya juga tidak lupa kalau dia sudah bertunangan.


Menurut Nindya, Elang tidak masuk dalam kriteria calon kepala keluarga yang bisa dibanggakan kaum perempuan. Elang terlalu brengsek pada wanita, tidak setia dan segudang penilaian minus lainnya. Yang terburuk, Nindya takut Elang adalah seseorang dengan sifat yang menduplikasi ayahnya.


Untuk itulah Nindya segera mencoret Elang dari daftar pria yang cocok untuk menjadi bapak dari anak-anaknya kelak. Elang sama sekali tidak masuk dalam type pria ideal yang diinginkannya.


Elang … pemuda sialan yang sayangnya penuh pesona itu bahkan belum menyelesaikan kuliah, masih dalam tahap mencari jati diri. Lalu bagaimana Nindya bisa begitu tega menyamakan Elang dengan mantan suami ibunya? Ayah yang tidak dijumpainya sekian lama.


Dengan langkah berat menuju gedung rektorat, Nindya menyempatkan diri melirik ke atas, ke arah laboratorium tempat Elang menghabiskan waktu untuk penelitian. Dosen muda itu dalam dilema, ternyata dia masih saja belum bisa mengabaikan rasa ingin tahunya tentang Elang.


Dan kali ini Nindya merasa berada pada titik paling konyol dalam hidupnya. Sebelah hatinya ingin Elang pergi, setengahnya ingin Elang tetap tinggal. Lalu bagaimana dengan tunangannya? Entahlah! Seumur hidup, Nindya tidak pernah memiliki masalah serumit ini.


Nindya melepaskan nafas lega, tepatnya hembusan kecewa karena tidak melihat sosok Elang di sana. Matanya tidak mampu menjangkau keseluruhan isi laboratorium dari bawah, jadi sudah dipastikan dia tidak mungkin melihat pemuda yang dicarinya jika ada di bagian dalam ruang penelitian.


Nindya masuk ke dalam lift dan memencet angka empat, mundur sedikit lalu bersandar pada dinding. Kampus begitu sepi di hari Sabtu, tidak perlu berdesakan saat naik, dan Nindya senang menikmati kesendirian di dalam lift tersebut.


Suara 'ting' terdengar dan pintu lift terbuka. Nindya melebarkan mata karena yang ada di depannya adalah mahasiswa tampan yang baru saja dipikirkannya. Nindya berdecak, bingung bagaimana melewati pintu lift yang sekarang penuh oleh tubuh Elang.


Dengan ekspresi jahil, Elang menaikkan alis dan menyeringai jenaka, dia sengaja mencegah langkah Nindya, tidak memberikan kesempatan Nindya keluar lift. Elang menutup pintu lift dengan cepat dan mengatur angka agar turun ke basement tempat dia memarkir kendaraan. Elang kembali memerangkap Nindya dalam ruang sempit bersamanya.


"Sepertinya saya sedang beruntung." Elang menatap tajam dan mendekati Nindya yang makin merapatkan punggung ke dinding lift. "Are you miss me?"


Merindukan Elang? Tidak sama sekali. Tapi Nindya semakin tidak yakin dengan pengakuannya.


"Apa maksud semua ini?" Nindya bertanya galak, ketimbang mendapatkan anugrah … dia lebih menganggap berada di dalam lift bersama Elang adalah sebuah musibah. Elang boleh merasa untung, tapi Nindya pasti bernasib buntung.


***