
Makrab bersama teman-teman mapala menjadi pilihan Elang sepulang dari rumah Nindya. Dia memborong berbotol-botol minuman keras dan camilan untuk berpesta sebelum menuju basecamp mapala.
Makrab atau mabuk akrab alias mabuk bersama teman adalah acara spontan yang terjadi karena ada anggota mapala yang mendadak stres karena kebanyakan beban pikiran. Saling mendengar keluh kesah sambil minum merupakan cara cepat mengalihkan masalah, versi mereka.
Meskipun setelah acara makrab selesai tidak ada satupun yang mengingat apa yang dikeluhkan temannya, tapi mereka menikmati kebersamaan itu. Apalagi setelah ritual mereka benar-benar mabuk dan tidur nyenyak. Mereka mendapatkan kepuasan karena sudah melepas beban di hati dengan berbagi cerita pada teman sehobi yang bisa dipercaya.
Mulai dari masalah cinta sampai tugas kuliah, mulai dari ribut dengan orang tua sampai jatah jajan bulanan yang habis lebih cepat karena dipakai untuk kegiatan petualangan alam. Ya, meski sebenarnya tak punya uang pun tetap bisa hidup di basecamp mapala. Solidaritas dan kekeluargaan sesama anggota dijunjung tinggi dalam organisasi yang selalu mendapat tudingan miring tersebut.
Tidak dipungkiri, Elang dan teman-temannya memang kadang norak, jorok, malas dan mungkin tidak beretika. Tapi tidak sedikit juga dari mereka yang berprestasi mengharumkan nama kampus. Menang lomba tingkat nasional sudah biasa, trophy dan penghargaan berderet-deret memenuhi lemari dan dinding unit kegiatan mapala yang luasnya tak lebih dari 6 x 8 meter.
"Yang lain mana, Ga?" Elang masuk ke dalam basecamp dengan ekspresi pusing, tangannya cekatan membuka tas besarnya, mengeluarkan minuman.
"Woi … waktunya makrab, Elang lagi galau," ledek Arga dengan suara yang sengaja keras agar didengar semua orang yang sedang nongkrong di belakang basecamp mapala.
"Ryan dari Surabaya hadir, siap menemani kamu El…!" Satu makhluk jangkung langsung meninggalkan mesin printer yang sedang mengeluarkan kertas, berjalan mendekati Elang sambil tertawa cengengesan.
"Acan dari Magelang ikut," seru Hasan tak kalah senang, membuka mata dan duduk dengan wajah mengantuk. Minum gratis jangan pernah terlewatkan, itu adalah motto penting dalam hidupnya.
Arga menyeringai lalu nyeletuk pedas, "Bukannya kamu udah ngorok barusan, Can? Denger aja kalau ada yang enak!"
"Eh Gondrong, orang mati aja bisa bangun lagi kalau ada minuman gratisan!" jawab Hasan cuek.
"Dewa mabuk kemana?" tanya Elang pada Arga, mencari satu teman yang paling doyan alkohol di antara yang lain.
"Melendir," jawab Arga singkat.
"Katanya udah putus sama Osin?"
"Siapa yang bakal percaya? Putus nyambung terus dah kayak lagu. Osin semalem jemput dia di sini, paling juga masih uhuk uhuk di kosnya!"
"Undanglah biar rame! Nggak seru kalau nggak ada tuh manusia," ujar Elang peduli.
Arga menelpon Johan, teman satu mapala yang bergelar dewa mabuk sambil mengumpat beberapa kali karena mendengar aktivitas lain di sela-sela obrolan.
"Kenapa, Ga?"
"Dasar kampret, bikin orang mupeng!" jawab Arga dengan nada kesal.
Tak lama, lingkaran kecil sudah terbentuk di basecamp bagian belakang yang tersembunyi dari pandangan umum. Hari belum malam saat Elang dan teman-teman melaksanakan ritual mabuk, jadi tidak bisa dilakukan di tempat biasanya. Depan wall climbing.
Minggu bukan hari libur bagi penggiat petualangan alam bebas, Minggu adalah hari dimana mereka bisa melakukan aktivitas di luar kewajiban kuliah. Berkeliaran di kampus sudah jadi kebiasaan bagi yang tidak punya teman kencan.
Basecamp mapala adalah salah satu tujuan mereka, tempat yang tidak pernah tutup meskipun tanggal merah. Buka 24 jam penuh setiap harinya, kalau bisa malah 24 jam + beberapa jam.
"Kamu malming tidur basecamp sendiri, Can?" tanya Elang memulai pembiacaraan ringan setelah membuka satu botol minuman dan memberikan pada Arga.
"Sama Ryan, Guntur dateng jam 3 kayaknya!" jawab Hasan sambil menguap lebar. "Camilannya siniin Ga! Belum sarapan dah diajak minum ini ceritanya. Lagian tumben amat Elang ngajak makrab siang bolong begini? Masalah sama nangka ya?"
Elang terkekeh geli, sedikit melupakan masalahnya dengan Nindya. Dia spontan mengingat Vivian yang sedang marah padanya saat Hasan menyebut nama buah segarnya. "Iya, ngambek dia, aku lupa belum telepon dari kemarin!"
"Kasihanilah kami yang jomblo!" Ryan, Guntur dan Hasan berbicara bergantian dengan kalimat yang sama.
"Jiah … jadi malming doi nganggur dong? Trus kamu sama siapa semalaman sampai nggak tidur kost, ada buah segar lain?" Arga bertanya beruntun pada teman satu kontrakannya.
Elang menjawab malas, "Pulang ke rumah!"
"Oh pantesan … rupanya dompet lagi tebel ya, makanya botolnya banyak!" ujar Arga menyeringai masam. Dia tau kalau hubungan Elang dengan keluarganya bisa dibilang tidak baik. Arga menebak Elang pasti ribut sama ibu tirinya.
"Pokoknya nggak ada yang boleh pergi sebelum tepar dan lupa segalanya! Setuju?" Hasan terkekeh memanaskan suasana.
"Putaran pertama, Elang sebagai tuan botol dapat minuman kehormatan, asli tanpa campuran!" Arga menyodorkan seloki kecil ke arah Elang sebelum mencampur dengan minuman lain yang berkadar alkohol lebih rendah, hanya 5%.
Elang menerima dan menenggak dengan sekali teguk, menelan dengan gaya menikmati lalu berucap ringan, "Lanjut!"
"Sunrise!" Arga memutar seloki berisi minuman yang disebutnya sebagai sunrise hingga semua kebagian. Minuman yang dianggap dapat mencerahkan semua masalah, seperti matahari terbit mencerahkan dunia. Mapala memang sesuka hati kalau membuat perumpamaan.
Dan apapun yang dirasa tidak baik-baik saja oleh tiap anggota mulai terlupakan dengan cepat. Semua yang duduk dalam lingkaran sudah tertawa dalam canda dan obrolan santai mengenai segala macam petualangan. Mulai dari alam bebas sampai petualangan pribadi dalam kehidupan masing-masing.
Elang juga sudah lupa masalah sakit hati dengan penolakan Nindya. Dalam ingatannya hanya ada bibir manis dan ciuman pagi yang penuh gelora.
Lagi-lagi Elang merindukan Nindya. Tunggu! Bukankah Nindya sedang kencan dengan tunangannya?
***