Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Orang Asing



Nindya masuk ke dalam tenda, menyisir rambut yang masih basah dan memoles make up tipis pada wajah. Tangannya cekatan memasukkan semua barang pribadinya ke dalam tas tanpa merapikan terlebih dahulu.


"Perlu bantuan?" tanya Elang yang ternyata belum beranjak dari depan tenda, tempatnya berdiri sedari tadi. Mengawasi wanita yang sedang rumit dengan pikirannya, juga dengan barang-barang yang sedang disusun ke dalam tas secara asal-asalan.


"Tidak! Sudah selesai semua," jawab Nindya ketus.


"Apa ada masalah? Ibu terlihat banyak pikiran!" tanya Elang konyol.


Menghembuskan nafas berat, Nindya menjawab, "Apa aku perlu mengungkapkan semua kekesalanku lagi?"


Elang menyeringai jenaka, "Jika itu bisa membuat Bu Nindya bahagia … luapkan saja semua, El terima dengan hati lapang!"


"Begini El, aku rasa tidak ada yang perlu kita bahas atau kamu risaukan, aku ingin kita seperti orang tidak kenal saja mulai saat ini!" ungkap Nindya sarkas.


"Hah? Bu Nindya serius?" Elang menyusul masuk ke dalam tenda dan duduk di depan Nindya dengan tatapan tidak percaya.


Bukankah harusnya Elang gembira karena dia tidak perlu berurusan lagi dengan Nindya? Wanita yang dia ambil perawannya tanpa sengaja, sekarang justru berniat melepaskannya begitu saja. Elang memastikan kalimat yang baru didengarnya sekali lagi. "Ibu serius?"


"Aku serius," jawab Nindya menatap lurus ke mata Elang.


"Lalu bagaimana dengan tugas akhir saya?"


"Kajur akan memberikan dosen pembimbing pengganti jika saya mundur, atau kamu bisa ganti materi penelitian untuk mengantisipasi kalau kajur menolak ide saya. Ada atau tidak ada saya, kamu akan tetap lulus dengan normal!” Nindya menjelaskan singkat prosedur pergantian pembimbing penelitian di kampus.


“Stop … enough with the bullshit!” Elang menajamkan matanya tak mengerti.


Apa perempuan ini sedang kehilangan profesionalisme yang harus dijunjungnya? Dia tadi sudah berpikir bahwa Nindya baik-baik saja dan akan memaafkannya seiring berjalannya waktu. Bukan mengacaukan situasi dengan kalimat kejam yang mengancam pendidikannya.


Nindya berusaha fokus pada ucapannya, kepalanya mendongak dengan mata lebih tajam. Dia tidak memungkiri, cara Elang menatapnya membuat risih dan berkeringat dingin. Tapi dia tidak gentar, Nindya sudah mengambil keputusan untuk menjauhi Elang.


Dosen muda itu jelas sekali takut akan ada salah paham yang berkelanjutan. "I am not kidding, Boy!"


"Boy? Aku bahkan bisa membuatkan beberapa baby boy jika kamu mau, Nindya!" ujar Elang ngelunjak tapi tegas.


"Kamu!"


Satu tamparan yang diarahkan ke arah Elang ditangkap dengan mudah, "Jangan lakukan itu lagi, Nindya! Atau kamu akan menyesalinya seumur hidup!"


"Ya, aku memang akan menyesal seumur hidup karena pernah terlibat hubungan satu malam dengan kamu!" desis Nindya dengan air mata yang hampir tumpah.


Lalu, apakah yang dilakukan Nindya menandakan dia perempuan murahan?


Tidak, Nindya menolak disebut murahan. Karena jika dia murahan, bagaimana dia bisa tetap perawan hingga usianya dua puluh delapan?


"Maaf," kata Elang menyesal.


"Dimana kesopananmu, El? Aku masih orang yang sama yang kamu panggil 'bu' saat di kampus. Apa karena kamu sudah berhasil kurang ajar memaksakan hasratmu padaku lalu kamu menganggapku perempuan yang tidak perlu dihargai dengan memanggilku seperti seorang teman? Atau kamu sudah menganggap aku sebagai seorang ******?"


Elang tersentak kaget, dia tidak bermaksud seperti itu. Elang memanggil langsung pada nama karena dosen itu umurnya tidak terlalu jauh darinya. Hanya terpaut enam tahun.


Dan jika saja perempuan cantik di depannya ini mau tampil lebih muda, tidak ada yang akan mengira kalau dia seorang dosen. Semua pasti setuju kalau postur tubuh Nindya yang kecil membuatnya terlihat lebih muda seperti mahasiswi semester akhir dan seumuran dengan Elang.


"Bukan begitu maksud saya," ungkap Elang sopan dan tulus. "Saya hanya tidak setuju dengan rencana Bu Nindya untuk mundur, tapi saya tidak bisa memaksa ibu untuk tetap membimbing saya kan? Jadi jika itu yang terbaik menurut ibu … terserahlah!"


"Baiklah, mulai sekarang kita adalah orang asing! Tidak perlu saling menyapa jika bertemu," lirih Nindya memalingkan tatapannya dari Elang.


Pemuda itu menyisir rambutnya dengan tangan, pikirannya jauh lebih kacau dari yang seharusnya. Elang sangat kecewa dan menyayangkan keputusan Nindya.


Apa karena efek darah perawan membuat Elang keberatan dengan ide Nindya yang ingin menjauh darinya? Atau Elang hanya kecanduan dengan kerapatan wanita di depannya dan berharap bisa mengulanginya sekali lagi?


Elang merutuki hatinya yang tidak terima, memaki otaknya yang liar terhadap Nindya, Elang juga tahu kalau Nindya gugup dan gelisah ditatapnya begitu rupa.


Sebenarnya masalahnya sederhana saja, Elang menginginkan Nindya tetap jadi dosen pembimbingnya apapun situasinya. Nindya juga boleh melakukan apa saja sesuka hatinya asalkan bukan pendidikannya yang dipersulit. Namun, Elang tidak mungkin mendebat wanita yang sedang tak berdaya tersebut sekarang.


“Oke saya setuju, tapi jika dalam seminggu saya tidak mendapatkan pembimbing baru, Bu Nindya akan kembali membantu saya sampai seminar penelitian dilaksanakan, kalaupun saya nantinya harus ganti judul tugas akhir, tujuh puluh persen materi penelitian akan saya bebankan pada Bu Nindya!" kata Elang tegas penuh perhitungan.


Nindya kembali menatap Elang skeptis. "Kamu perhitungan sekali!"


"Saya akan terima kerugian waktu dan terlambat lulus dari jadwal seharusnya! Anggap saja kita saling merugi karena ada hal konyol yang tidak sengaja terjadi!” Itu adalah kalimat paling panjang dan serius yang diucapkan Elang pada Nindya.


Nindya memasang ekspresi runyam. Matanya kembali menghindar agar tidak bertemu dengan milik Elang. Ternyata melepaskan diri dari Elang juga tidak mudah. Sejujurnya, bukan hanya Nindya yang gugup saat mereka bertatap mata, Elang juga demikian.


"Kamu akan menerima berkas penggantian dosen pembimbing secepatnya!" ujar Nindya sebelum keluar tenda.


Dengan sigap Elang menahan tangan Nindya dan berucap lirih di depan bibir Nindya. "Sebenarnya Bu Nindya takut kalau perbuatan kita semalam ketahuan sama tunangan kan?"


***