
Sore di Jalan kaliurang terasa dingin meskipun langit cerah. Nindya membersihkan tempat tinggalnya ala kadar karena sudah merasa lelah. Mbok Sumi yang biasa menemaninya di rumah meminta izin untuk pulang kampung menjenguk cucu.
Hidup sendiri di kota Yogyakarta tidak menyurutkan nyali, Nindya senang mengajar, dia senang mendedikasikan hidupnya untuk berbagi ilmu, Nindya mencintai profesinya sebagai dosen.
Seharusnya, hari ini Nindya pulang ke Semarang tempat ibunya. Karena begitulah rutinitas setiap Sabtu setelah selesai mengajar. Namun, karena besok siang ada janji dengan salah satu dosen yang tergabung dalam grup penelitian ekologi mengenai kunjungan lapangan berikutnya, Nindya menunda untuk bertemu ibunya sampai Sabtu berikutnya.
Hari mulai gelap, Nindya menyeduh teh dan berniat menghabiskan malam minggunya dengan membaca. Tunangannya memiliki kesibukan sendiri di akhir pekan, dan Nindya tidak pernah menuntut untuk kencan malam mingguan. Dia bukan abg lagi, begitu juga dengan Daniel. Pendidikan dan karir adalah prioritas mereka sebelum terikat pernikahan.
Dua buku yang dibeli Nindya masih terpajang rapi di rak dekat tempat menonton televisi, perpustakaan kecil yang menjadi tempat favorit Nindya menghabiskan waktu jika sedang di rumah.
Predikatnya sebagai kutu buku dari sejak kecil belum berubah, Nindya bahkan berterima kasih pada kegemarannya membaca yang akhirnya mengantarkan banyak beasiswa padanya selama menempuh pendidikan formal.
Bahkan keberuntungan itu masih belum berakhir hingga sekarang, Nindya sekarang sedang menunggu konfirmasi ulang dari salah satu universitas di Jepang yang bersedia memberikan pendidikan untuk meraih gelar Doktornya.
Banyak menghabiskan waktu untuk membaca bukan tidak ada akibatnya bagi Nindya. Pergaulan gadis yang sebenarnya cantik tersebut bisa dibilang kurang.
Nindya tumbuh menjadi sosok pendiam dan kekurangan teman, hidupnya hanya dipenuhi dengan ribuan buku, nol pacaran. Tak jarang temannya menyebut Nindya sebagai penjaga perpustakaan karena selalu ada di sana setiap ditemukan.
Sekali lagi Nindya tidak pusing dengan sebuah julukan, dia tetap memiliki keteraturan dalam keseharian yang tidak menggoyahkan pikiran. Meski tanpa pacar dan teman, Nindya tidak begitu kesepian, Nindya cukup pandai mengatur moodnya. Tidak ada perasaan khusus yang bisa mengacaukan hatinya, dari dulu hingga sekarang. Buktinya dia memiliki tunangan di usianya yang matang.
Benarkah?
Seharusnya memang tidak! Tapi Nindya yang sekarang tidak sedang baik-baik saja perasaannya, apalagi setelah dicium Elang tadi siang di dalam lift. Ciuman lembut yang membuat Nindya sedikit mabuk dan kepikiran.
Segala sesuatu tentang Elang adalah hal unik dalam hidup Nindya yang datar-datar saja, mungkin karena itulah dia kesulitan untuk melupakan wajah mengesalkan milik Elang yang justru dia rindukan setelah malam laknat dalam tenda.
Buku yang terbuka ditangan Nindya masih belum bisa mengumpulkan fokusnya yang tercecer karena mengingat kelakuan Elang. Nindya marah, mengutuk pemuda tampan itu dalam hati tanpa bisa meluapkannya pada yang bersangkutan.
Marah karena Elang berlagak seperti bajingan yang melecehkannya di area kampus. Marah karena dia jadi terlalu lembek dan bersikap murahan. Marah karena dia tidak benar-benar menolak saat Elang menekan bibirnya dengan setumpuk kenakalan.
Nindya menutup buku dan berjalan ke arah ruang tamu, bel rumah berbunyi beberapa kali dengan tidak sabar. Nindya merasa tidak ada janji dengan siapapun, mahasiswa yang berkepentingan dengannya semua berkunjung di hari Senin sampai Jumat, hal itu karena setiap Sabtu dan Minggu Nindya akan menghabiskan waktu bersama sang ibu di Semarang.
"Elang?" Nindya belum mempersilahkan masuk anak muda dengan penampilan berantakan dan mata merah seperti mata naga, tapi Elang tanpa permisi dan tanpa sungkan menerobos rumahnya dan langsung duduk di sofa ruang tamunya.
"Selamat malam, Bu Nindya!" Elang menyapa dengan gaya formal sebagai mahasiswa alim. Jarinya menyisir rambut setengah gondrong yang sudah tak karuan modelnya.
Nindya bersedekap dengan teguran jauh dari kata ramah, "Apa keperluanmu datang kemari malam-malam?"
Elang mengeluarkan berkas-berkas penelitian yang diterimanya dari ketua jurusan. Berkas yang harus dipelajari sebelum berangkat ke lapangan hari Senin. Elang sebenarnya tidak ingin ke rumah Nindya untuk membahas soal penelitian, tapi keinginan hati untuk bertemu wanita yang ditinggalkan di lift dengan kurang ajar itu mengganggu niat tidurnya.
Elang ingin minta maaf, Elang tidak ingin membuat keadaan menjadi canggung untuk mereka saat di lapangan melakukan penelitian.
“Pertama aku datang untuk minta maaf, kedua aku butuh penjelasan materi ini sebelum berangkat ke lapangan!" kata Elang serius, membuang sikap formal dengan berkata aku.
"Bagaimana otakmu bisa berpikir dan menyerap materi kalau bau alkohol dari mulutmu tercium sampai sini?" Nindya mengernyit, ada bias ketakutan di matanya. Elang bisa saja bersikap di luar kendali jika terpengaruh minuman.
"Aku baik-baik saja dan masih waras 70%, aku tidak akan mengulangi kejadian salah paha di tepi sungai. Jangan khawatir!" Elang menatap datar tanpa gairah pada perempuan yang sedang sinis padanya.
"Aku tidak bersedia membahas apapun dengan alkohol dalam tubuhmu, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Aku akan menerangkannya besok siang, tapi tidak di sini." Nindya menyebutkan tempat umum yang bisa dipakainya untuk berdiskusi dengan mahasiswa paling menjengkelkan yang pernah dibimbingnya.
"Ya sudah kalau tidak mau tidak apa-apa!" Elang memasukkan semua berkas dari atas meja ke dalam tas. Duduk bersandar sebentar lalu membuka tasnya kembali, mengeluarkan dua botol minuman keras yang dibeli sebelum ke rumah Nindya.
Bukankah Elang sudah menghabiskan dua botol hari ini? Satu saat di rumah orang tuanya dan satu saat di kontrakannya?
Benar, tapi hari ini Elang ingin menambahnya dua botol lagi agar cepat terlelap. Elang sedang merasa pusing dengan hidupnya. Apakah salah jika Elang ingin melupakan beban hatinya dengan cara demikian? Dengan mabuk berat … tidak lebih, tidak kurang.
***