Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Pemuja Kecerdasan



"Bukti apa?" tanya Nindya gelagapan, pura-pura tidak paham dengan maksud Elang.


Tanpa ekspresi, Elang mendekatkan wajahnya hingga jarak satu jengkal di depan Nindya. Memperhatikan dosen muda yang bingung mencari alasan hingga menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Mau aku ingatkan lagi apa yang pernah kita lakukan di tenda pinggir sungai? Biar kamu nggak lupa kalau pas malam keakraban waktu itu aku menyentuhmu tanpa pengaman!"


"El!" Nindya terperangah, kepalanya spontan menoleh ke kiri dan kanan lagi untuk memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Sepi. Dia baru sadar kalau semua tim sudah berangkat, meninggalkan dirinya bersama Elang. Benar-benar sesuai rencana Elang.


"Cari siapa? Semua sudah pulang!"


"Kenapa mereka nggak menunggu kita?" tanya Nindya curiga.


Elang menyeringai santai, "Karena aku bilang sama mereka semua kalau kita akan mampir ke rumah saudara Bu Nindya di Wonosari, ambil titipan buat dibawa ke Semarang!"


"Kamu …! Apa nggak ada alasan lain yang lebih masuk akal? Aku nggak punya saudara di Gunungkidul." Nindya melebarkan mata dan mulai marah pada mahasiswanya yang mulai kumat gilanya.


Elang mendekatkan wajahnya tanpa permisi, mengecup pipi Nindya sebelum wanita tukang marah itu sempat menghindar. Cup! "Itu alasan sebenarnya, aku mau pulang berduaan saja sama Bu Nindya!"


Dengan perasaan berkecamuk, Nindya mengulurkan kunci mobilnya. Dia mundur selangkah lalu mengambil perlengkapannya sebelum melenggang ke arah mobil. "Sebaiknya kita pulang sekarang biar tidak terlalu malam sampai Yogya."


"Biar saya yang bawa!" Elang mengambil alih semua bawaan Nindya dengan senyum kemenangan. Dia tau sekali kalau Nindya tidak bisa melawan keusilannya. Ada kesenangan tersendiri bagi Elang bisa membuat dosen pembimbingnya salah tingkah dan menutupinya dengan marah.


Di dalam mobil, Nindya hanya diam dengan bibir mengerucut kesal. Bukankah Elang semakin berani padanya? Padahal baru beberapa hari yang lalu dia menolak tegas dan sudah membuat Elang pergi dari rumahnya dengan perasaan terluka.


Namun, melihat Elang hari ini yang kembali bersikap manis dan berlebihan membuat Nindya berpikir kalau Elang bukan orang yang bisa dengan mudah dihindari atau ditolaknya. Lagi pula, mereka selalu saja memiliki kesempatan untuk ada dalam ruang dan waktu yang sama. Seperti sudah takdir.


"Bu Nindya pipinya panas," kata Elang peduli. Tangan kirinya yang tidak memegang kemudi menggenggam jemari wanita di sampingnya, memastikan suhu tubuh yang tadi dirasakan bibir Elang memang lebih tinggi dari normal. "Ini juga panas, Bu Nindya sakit ya?"


"Pusing, lelah!" jawab Nindya lemas, tak bertenaga dan juga malas.


"Mau ke dokter dulu?"


"Nggaklah, nanti buat tidur juga sembuh!" Nindya menghindar dengan cepat. Dia tidak mau Elang membawanya berobat. Ada rasa takut jika Elang mendadak meminta dokter untuk memeriksa kondisinya.


Elang justru terkekeh. "Bu Nindya hamil mungkin. Katanya orang hamil muda kadang ada yang ngerasa sering kurang enak badan! Mual nggak, Bu?"


Nindya reflek menarik tangannya dari genggaman Elang. "Jangan ngomong sembarangan kamu! Aku nggak mungkin hamil."


"El!" bentak Nindya emosional.


"Sorry, aku cuma bercanda!" Elang kembali menautkan jari-jarinya pada Nindya, menarik lembut ke arahnya lalu mengecup punggung tangan Nindya singkat. "Dulu kamu nggak pemarah!"


"Orang bisa berubah!" Entah apa yang harus dijelaskan lagi, Nindya merasa Elang tidak punya rasa sungkan atau batas tersinggung padanya yang selalu ketus sejak kejadian makrab di tenda yang sama.


Elang tertawa ringan mendengar jawaban tak masuk akal Nindya. "Aku percaya itu, jadi sejak kapan kamu menyukai pria yang jauh lebih muda? Seorang mahasiswa?"


Nindya menoleh cepat ke arah Elang. Mengamati detail wajah yang tidak asing selama beberapa bulan terakhir karena banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk berdiskusi mengenai penelitian Elang.


Pemuda dengan kulit bersih, lumayan berotot karena ahli memanjat dinding seperti cicak, rambut hitam sedikit gondrong dengan bentuk wajah yang jarang ditemukan. Lalu apa yang berbeda sekarang? Tidak ada!


Secara pribadi, Nindya tidak pernah menaruh perhatian besar pada tampilan fisik pria. Dia dibesarkan bersama dengan buku dan perpustakaan, Nindya lebih tertarik pada kecerdasan daripada ketampanan.


Namun, untuk pertama kali dalam hidupnya, Nindya mengerti kenapa mahasiswinya tergila-gila dengan drama Korea, atau dengan sengaja memutar bola mata saat berdiskusi, hanya karena ada mahasiswa tampan lewat dengan penampilan keren, lalu mereka terkikik sambil menatap memuja dan penuh kekaguman.


Oh Tuhan, Nindya memekik dalam hati merasakan hormonnya mengalami kemunduran. Dia menggigit bibir bawah karena ikut bertingkah seperti remaja liar yang sedang dikuasai nafsu. Nindya menatap wajah yang terpahat sempurna dengan senyum menawan yang seketika seperti sedang meledeknya. Sial!


Bukannya menjawab pertanyaan Elang, Nindya justru melamun. Elang bisa saja benar, mungkin kegemarannya membaca juga akan berubah menjadi penikmat drama Korea dan pemuja oppa-oppa setelah ini.


"Belum mau mengaku kalau kamu juga suka sama aku?" Elang mengulangi pertanyaannya lebih blak-blakan.


Merasa tertangkap basah karena memperhatikan Elang terlalu lama, Nindya melengos ke arah lain. "Aku punya tunangan! Tidak ada alasan untuk suka sama mahasiswa playboy seperti kamu!"


Elang menertawakan kesombongan Nindya. "Benarkah? Boleh aku membuktikannya?"


"Maksud kamu?" Nindya mulai menebak arah pembicaraan Elang, dan entah kenapa hatinya berdesir saat melirik bibir Elang yang sering mempermainkan hormon wanitanya.


Bukannya berhenti, Nindya justru menurunkan pandangannya ke leher sampai ke paha. Lebih gila lagi saat matanya berhenti di pangkal paha Elang lebih lama dari seharusnya.


Memalukan!


***