Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Barisan Penggemar



Faktanya kata-kata Mayra merasuk ke dalam pikiran Elang dengan sangat dalam. Elang tidak berhenti mempertanyakan dirinya sendiri mengenai cinta yang dijatuhkannya untuk Nindya.


Elang tidak menyangkal kalau dia sangat tertarik dan masih penasaran dengan Nindya setelah kejadian malam keakraban di tenda. Tapi jatuh cinta pada dosen pembimbingnya? Elang terpekur kembali, menimbang perasaannya.


Bayangan Nindya memang tidak pernah pergi dari benaknya, dan godaan untuk selalu bertemu Nindya menjadi sangat menyiksa setiap hari. Apalagi jika malam, Elang tidak bisa menghentikan fantasi lelakinya bersama Nindya. Mengulangi kejadian salah sasaran dengan lebih romantis menjadi cita-cita utamanya.


Kemudian cita-cita itu terus mengganggu dan terbayang, dan terbayang dan terus saja terbayang! Fantasi paling memabukkan yang membuat Elang tak berkutik. Well, tamatlah dia jika sampai jatuh cinta pada Nindya!


Elang meninggalkan laboratorium sesuai jadwal, beristirahat makan ditemani Vivian hingga masuk jadwal latihan memanjat di wall climbing.


"Kamu pulang aja, Vi! Aku latihan lebih lama hari ini, nanti kemaleman!"


"Aku pulang sama temen nanti, mau lihat kamu latihan sebentar boleh kan?" Vivian bergelayut manja di lengan Elang. Sengaja mengumbar keromantisan di kampus, unjuk diri sebagai penakluk salah satu pemuda paling diminati di institusi tempat mereka mengenyam pendidikan.


"Oke, tunggu di depan wall aja kalau gitu ya! Aku mau ambil alat di basecamp mapala lebih dulu," ujar Elang tidak berkeberatan.


Selang lima belas menit, Elang, Arga dan beberapa atlet lain sudah berkumpul di depan wall climbing. Elang membuat jalur pemanjatan lead climbing (salah satu kategori yang dilombakan selain speed climbing dan bouldering), memasang runner pada hanger yang sudah tersedia di papan panjat, lantas menguji tingkat kesulitannya.


Selanjutnya mereka bergantian memanjat dinding dengan tingkat kesulitan sesuai standar lomba yang dipedomankan oleh FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) secepat mungkin, yaitu antara lima sampai tujuh menit.


Suara seruan penyemangat datang dari anggota mapala maupun mahasiswa yang ikut nongkrong, sekedar menonton mencari hiburan. Vivian dan temannya hadir sebagai bahan bakar Elang. Ya meskipun Elang tidak sempat memperhatikan karena sibuk dengan sulitnya jalur pemanjatan. Dia bahkan tidak tau kalau Nindya turut hadir menontonnya, berdiri di dekat Vivian.


"Vi … jangan marah ya! Aku horny liat pacarmu! Duh, penampilannya itu loh?" Riska menatap memuja pada Elang yang sedang merayap di wall climbing.


"Gimana rasanya dipanjat Elang, Vi? Ototnya keras ya, keliatan dari bisepnya … pasti perutnya kotak-kotak! Njirrr … kenapa gue jadi penasaran, kamu bisa nggak Vi suruh dia latihan nggak usah pake baju? Lagian kaosnya udah basah tuh, nyeplak semua bentuk badannya. Arrgghh serius pacarmu bikin orang panas dingin, Vi!" Riska nyerocos tanpa batasan.


Vivian mendelik jengkel, sahabatnya tidak berkedip menatap Elang yang sedang berkeringat banyak. Bukan tatapan biasa, tapi sejenis tatapan penuh gairah membara. "Dasar otak mesum!"


Mendengar obrolan vulgar kedua mahasiswi yang berdiri tak jauh darinya, Nindya gerah sendiri. Dia pernah merasakan Elang di dalam tubuhnya, juga nyaris bercinta dua malam yang lalu, dan sering sekali terlibat ciuman panas dengan Elang. Kalimat Riska benar-benar mengganggu kinerja otaknya yang sedang lurus.


Nindya meradang, baru sadar sepenuhnya kalau dia tidak suka orang lain dekat dengan Elang, atau menjadikan mahasiswa bimbingannya itu sebagai objek fantasi sexual seperti yang terjadi pada teman Vivian.


"Serius Vi, aku beneran penasaran gimana dia kalau lagi di kamar sama kamu. Panas nggak sih?" tanya Riska menggila. Secara tak sadar dia mengusap-usap lengan dan tengkuknya sendiri.


Vivian memegang kening Riska dan menonyornya kasar. Dengan suara lebih keras, Vivian menjawab sambil melirik Nindya. "Dia memang panas, tapi nggak usah dibayangin! Aku nggak rela pesona pacarku jadi bahan imajinasi liarmu!"


Nindya semakin jengah mendengar obrolan tak pantas di sekitarnya, tapi dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Kalau Vivian dengan sengaja mengumbar kata-kata yang tujuannya membakar emosinya, Nindya juga bisa membalas dengan caranya.


Tak disangka, Elang menatap Nindya dari atas papan panjat lebih lama daripada menatap Vivian. Senyumnya juga diberikan pada Nindya lebih dulu sebelum berakhir ke Vivian. Posisi jamming (teknik panjat yang biasa dipakai untuk mengistirahatkan tangan dan kaki, biasanya dilakukan dengan ujung jari kaki/tumit) yang Elang lakukan memang memungkinkannya untuk melihat-lihat sekitar.


Melihat peluang bagus, Nindya membalas Elang dengan senyum semanis mungkin. Tentu saja dilakukan sambil melirik Vivian. Diam-diam dia mulai membanding-bandingkan diri dengan Vivian. Kulit Nindya memang tak sama dengan Vivian yang berwarna putih susu. Nindya berkulit kuning langsat, bentuk tubuh juga tak sebagus Vivian, juga kalah tinggi.


Tapi kalau soal cantik, Nindya sama sekali tidak kalah, bisa dibilang di atas Vivian. Ditunjang dengan kecerdasannya, Nindya bukan lawan yang mudah untuk disingkirkan barisan perempuan penggemar Elang, termasuk Vivian.


***