Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Buah Segar



Elang menatap jenaka pada wajah Vivian yang merona. Tidak meneruskan godaannya, Elang mengambil dan membuka kaleng minuman, menenggaknya perlahan sembari mengambil duduk di karpet.


Sementara Vivian kembali menelan ludah melihat jakun dan leher Elang yang berkulit putih bersih. Entah sejak kapan dia merasa kalau Elang sengaja memancing dengan banyak bahasa tak terucap.


"Kok bengong? Kamu mau pulang sekarang?" tanya Elang memecah kesunyian dengan tawanya.


"Nggak kak, tapi bingung mau ngapain!" Vivian mengerjap bodoh dan ikut tertawa garing, Elang terlalu blak-blakan saat bicara dan Vivian kehabisan kata untuk menyangkal keinginannya.


Elang semakin terkekeh, "Mau nonton film? Atau mau bantuin aku garap laporan penelitian? Aku udah seminggu nggak bimbingan. Duduk sini!"


"Kenapa? Bukannya biasanya kamu rajin ya, Kak?" tanya Vivian heran. Meski kegiatannya banyak, Vivian mendengar gosip kalau Elang termasuk orang yang serius dengan urusan pendidikan.


"Lagi beku nih otak, jenuh!" Elang menunjuk kepalanya dengan ekspresi malas.


"Aku bisa bantu apa coba? Beda jurusan, beda angkatan, beda semuanya. Vivi juga nggak ngerti reaksi kimia, bodoh dulu pas mata pelajaran itu di sekolah!" ujar Vivian serius.


"Trus kenapa kamu ambil jurusan teknik kimia?" Elang menaikkan sebelah alisnya.


"Ya biar nggak bodoh lagi sama yang bau-bau kimia," jawab Vivian asal.


"Oh … ya udah kita nonton film aja kalau gitu, ada satu film bagus belum sempat aku tonton!" Elang menjawab kalem. Ekspresinya tidak menunjukkan apapun.


Vivian deg-degan setengah mati, dia takut kalau diajak nonton film penuh dengan adegan dewasa. Vivian takut tidak bisa mengendalikan diri meskipun dia juga menginginkan sesuatu yang manis terjadi antara dirinya dan Elang saat itu juga.


"Film apa, Kak? Bukan horor kan?"


"Action, dark romance," jawab Elang santai.


Vivian menahan nafas, pasti akan banyak adegan romantis dan panas dalam film action itu. Dia menjawab dengan salah tingkah, "Boleh deh!"


Setelah memutar film, Elang duduk bersandar ranjang, kaki terlipat santai dengan mata menatap layar datar televisinya. Sesekali melirik Vivian yang jadi kikuk mendadak.


"Sini, Vi! Katanya tadi nggak takut … kok jauh bener jarak duduknya? Sakit nanti leher kamu kalau liat filmnya miring begitu!"


Vivian bergeser ke dekat Elang. Menyunggingkan senyum manis lalu mengangguk samar. "Tiba-tiba Vivi jadi ingin pulang, Kak!"


Kalimat hindar yang dilemparkan Vivian tidak digubris serius oleh Elang. Dia tau Vivian malu menonton film mafia yang ada adegan dewasa dengannya.


"Iya aku anter nanti, tanggung filmnya udah mulai," jawab Elang ringan. Tangannya menarik lengan Vivian agar bergeser lebih dekat dan rapat padanya.


Vivian tidak menolak bersebelahan dengan Elang, juga tidak menampik tangan yang melingkar di bahunya. Hanya saja, jantungnya berpacu di atas kecepatan normal.


Satu kecupan singkat dari Elang mendarat di pipi mulus Vivian. "Tegang bener kamu!"


Vivian menoleh ke arah Elang yang melihatnya dengan mata kelam. Mata yang membiusnya hingga kehilangan kata-kata yang seharusnya terucap. "Em, nggak tegang kok, ini biasa aja!"


"Eh maksudnya gimana kak?" Vivian meleleh seketika merasakan jari Elang menempel pada dagunya, menyentuh ringan dan mengangkatnya sedikit agar berada dalam satu raupan jika ingin melanjutkan.


"Kamu kesini untuk ini kan?!" Elang bertanya seraya mendekatkan bibirnya, mengecup pelan beberapa bagian wajah Vivian. Sarat dengan kelembutan dan kasih sayang yang dibuat-buat.


"Kak? Eh …" Vivian gelagapan mendapatkan hujan ciuman di wajahnya.


"Kalau kamu nggak mau lanjut tinggal bilang, nggak ada unsur-unsur pemaksaan di sini, Vi!" ujar Elang dengan senyum setan.


Vivian merasa terjebak dengan perasaannya, linglung karena harus mengambil keputusan cepat. Dadanya sudah bergemuruh tak nyaman, dan kelakuan Elang barusan memicu hormonnya naik ke permukaan.


"Vivi takut, Kak!"


Jawaban Vivian terdengar polos. Tapi maksudnya berkata demikian hanya untuk mengulur waktu, Vivian butuh menata pikirannya yang berangsur-angsur menjadi liar.


Gadis itu jelas sekali sedang mempersiapkan diri seutuhnya! Vivian sedang berpikir keras, menimbang … apakah setelah semua ini Elang akan menganggap dirinya istimewa?


"Ya udah kita nonton film aja dulu!" Elang melepas tangannya dari dagu Vivian dan mengarahkan matanya pada aksi baku tembak para mafia.


Elang butuh, tapi juga tidak ingin terburu-buru. Dia punya banyak waktu untuk menunggu Vivian yang sedang ragu-ragu.


"Vivi numpang kamar mandi ya, Kak!" pamit Vivian bergegas keluar kamar. Nafasnya sedikit lebih lega, tapi dirinya jadi kehilangan sentuhan manis arjunanya.


"Hm …," jawab Elang datar. Membiarkan Vivian menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia tidak mau Vivian bimbang pada keputusannya.


Ciuman kecil Elang pada wajah Vivian memberi efek besar pada jiwa wanitanya, hasratnya tersulut dan ada rasa terbakar di seluruh kepala. Vivian ingin Elang mendekapnya, tapi masih terlalu malu untuk mengakuinya.


Kembali dari kamar mandi, Vivian memberanikan diri duduk lebih rapat di dekat Elang dibandingkan sebelumnya. Keputusannya sudah mantap untuk bersama Elang sekarang, karena jika tidak berani mengambil peluang mungkin dia akan dilewatkan oleh Elang.


Mendapatkan isyarat samar, Elang tertawa dalam hati. Senyum mautnya mengembang saat menatap wajah merah Vivian. "AC nya kurang dingin?"


"Bukan, ini karena dekat Kak El aja!" Akhirnya Vivian bisa berkata jujur.


Elang lebih mendekatkan wajahnya hingga nafasnya bisa dirasakan Vivian, "Panas ya?"


Pertanyaan Elang terdengar ambigu, Vivian tidak tau harus menjawab bagaimana. Perasaannya campur aduk menghadapi situasi yang seketika intim.


Tapi Elang tidak butuh jawaban, dia langsung memulai langkahnya dengan mengecup perlahan, merayu dengan sentuhan ringan agar Vivian mau membuka bibir untuknya.


Elang ingin Vivian memberikan jawaban atas penawarannya untuk berbagi rasa sementara lewat sebuah ciuman. Elang berharap Vivian menyerahkan diri secara utuh padanya meski dia tak bicara cinta.


Karena bagi Elang, Vivian adalah jenis buah segar yang bisa dipetik kapan saja tanpa perlu repot memelihara pohonnya.


***