
Elang menanggapi gerak tubuh Nindya yang semakin merapat padanya dengan mencumbu lebih liar, lebih terampil dan penuh semangat muda. Darahnya juga panas, bagian tubuhnya yang lain sudah mengeras sempurna, minta pertanggungjawaban Nindya untuk menyelesaikan segera atau dia akan sakit kepala karena tersiksa.
Hasrat meletup dari tubuh Nindya, panas bagai api yang berkobar dan membakar naluri lelaki Elang. Secara sadar, Nindya menarik Elang dalam badai asmara yang bergejolak tak terbendung dalam dirinya. Meminta Elang menyesatkannya lebih jauh dalam gerakan-gerakan e*otis yang akan membuatnya terlena.
Tangan Elang menangkup bokong Nindya, menekankan ke arah kemaskulinannya yang telah menegang di balik celana dan menggeseknya perlahan-lahan. Intens dan teratur seraya memuja puncak-puncak Nindya dengan lidahnya.
"El …!" bisik Nindya lirih, mesra dan sangat manja di telinga Elang.
Nindya merasakan Elang menyerang dengan banyak kenikmatan di titik pusat bagian bawah. Entah disadari Elang atau tidak, Nindya tidak menggunakan pembalut wanita meski beralasan sedang datang bulan. Hanya lapisan kain tipis yang memisahkan gairah mereka, dan menjadi tidak masalah karena keduanya sedang dalam kobaran asmara.
Nindya melenguh di antara gerungan Elang yang mulai menggesek bokongnya lebih cepat, berpegangan pada bahu kokoh Elang, lalu mendongak dengan mata terpejam. Membayangkan Elang berada dalam dirinya secara utuh, tanpa penghalang apapun, kulit bertemu kulit.
"Ahhh … Elang!" Satu desah panjang Nindya melepas hormon dalam tubuhnya. Mengakhiri hasratnya yang meminta tanpa kata pada Elang. Pusat tubuhnya berkedut nikmat dan basah dalam waktu bersamaan, membuang beban birahi yang menumpuk dari entah sejak kapan.
Elang menyusul dalam gumaman dan pelukan posesif yang teramat erat, mengikat Nindya dengan kedua tangannya hingga tubuh mereka tanpa jarak. Elang meledak dalam penyatuan semu yang tidak bisa disebutnya dengan bercinta.
Konyol! Elang bahkan merasa seperti ABG tak berpengalaman yang mengeluarkan benihnya di dalam celana hanya karena efek menonton film dewasa. Tapi Elang tidak peduli, perasaannya berkecamuk, hasratnya meluap begitu cepat saat menyentuh bagian tubuh Nindya, dan Elang tidak bisa menahan untuk tidak melepaskan ketegangannya.
Yang jelas Elang tidak menyangkal kalau rudalnya jadi sangat baperan saat bersama Nindya. Elang tertawa ringan melihat wajah cantik Nindya merona sewarna kepiting di wajan penggorengan. "Maaf … kalau ini agak keterlaluan, aku nggak bisa menahannya!"
Tangan Elang cekatan menurunkan kembali bra Nindya yang tersingkap ke atas, juga mengancingkan piyama yang bagian depannya terbuka karena ulahnya. Elang masih saja menyentuh dengan usapan-usapan lembut meski dada Nindya sudah tertutup sepenuhnya.
"Ini seksi sekali," kata Elang memuji, mengecup ringan beberapa kali dada Nindya yang sudah berlapis dua kain. Enggan melepaskan keindahan yang sangat disukainya. Dada Nindya tidak terlalu besar, tapi tidak akan mengecewakan fantasi pria manapun karena bentuknya yang bulat penuh. Serasi dengan tubuhnya yang ramping. "Ini milikku!"
Nindya mengangguk malu, mengulas senyum kikuk sebelum minta dilepaskan. Bagian bawahnya lengket dan pakaian dalamnya pasti sangat basah. Ada kebanggaan besar karena Elang menyukai bagian depan tubuhnya yang tidak terlalu besar, dan Elang memujanya seperti dewi kecantikan. "Aku perlu ke kamar mandi, El!"
"I love you, Nindya!" Elang mengecup bibir Nindya sekali lagi, hanya sekilas, lalu membiarkan dosennya turun dari pangkuannya. Hasrat Elang belum turun semua, tapi yang barusan terjadi cukup untuk meredam gejolak yang membludak tak tepat waktu.
Dengan senyum sinting, Elang mencari tasnya untuk mengambil pakaian ganti. Pelepasannya yang terkesan jorok bukanlah hal yang salah, dia memang menginginkan Nindya, dan menjadi gila karena wanita itu meresponnya dengan malu-malu tapi mau.
Nindya tidak menjawab, juga tidak memiliki keberanian untuk bertatap mata dengan Elang. Nindya tidak mau Elang tau apa yang dirasakannya sekarang setelah mendapatkan pelepasan bersama. Terlalu malu untuk mengaku kalau dia menikmati, ingin mengulangi dan ingin menyatakan semua keinginannya itu secara blak-blakan.
Apa Elang butuh jawaban? Tentu saja tidak, dia lebih suka menilai situasi dengan perbuatan. Menyukai fakta yang ada daripada kata yang keluar dari mulut Nindya.
Setelah berganti baju dan kembali mengobrol ringan soal penelitian, Elang akhirnya undur diri. Dia tidak mungkin menginap di rumah Nindya. Elang tidak yakin apa yang baru saja terjadi di antara mereka tidak terulang, Elang takut tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Nindya lebih jauh jika tidur di sana.
"Siang, setelah bimbingan sama Pak Ronald aku pulang ke rumah. Aku nggak mau ayah datang ke kost menjemputku seperti anak kecil."
"Kamu tidur di rumah?"
"Tergantung mood, kalau ada Dewa di rumah mungkin tidur rumah. Kalau dia keluar sama teman-temannya, aku balik kost!"
"Sampai jam berapa acaranya?"
"Sore udah bubar, mau ikut?" Elang kembali mengajak Nindya untuk ikut hadir di acara arisan keluarganya. Elang ingin Nindya percaya padanya, bahwa tanggung jawab yang ditawarkan Elang padanya bukan keisengan semata. Elang tidak pernah main-main dengan sesuatu yang berhubungan dengan nama baik keluarga.
"Aku juga harus pulang ke Semarang besok sore. Siang aku ada janji ketemu Daniel."
Ya, Nindya akan bertemu Daniel dan berbicara apa adanya. Tidak ada yang perlu disembunyikan dari tunangannya kalau ingin hubungan mereka tetap baik. Entah baik dalam bentuk apa nantinya.
Elang memperhatikan raut gelisah Nindya, "Kamu pulang ke Semarang bersama tunanganmu?"
"Aku tidak tahu, mungkin sendiri. Daniel … terlalu sibuk."
"Besok weekend," ujar Elang mengingatkan.
"Tidak ada weekend untuk orang sibuk." Nindya berucap getir meski dengan segaris senyuman.
"Mau aku temani? Barangkali kamu mau mengenalkan aku pada ibumu sebagai … cadangan!" Elang terkekeh sendiri mendengar ungkapannya. On no! Tidak ada dalam kamus Elang istilah cadangan.
Nindya ikut terkikik, "Aku takut kamu lupa jalan pulang kalau sudah menginjakkan kaki di kota Semarang, El!"
"Hm … apa ini undangan? Aku mencium bau kompetisi legal untuk mendapatkanmu!"
Astaga … Nindya terlalu cepat membuka diri, sebenarnya dia menantang Elang untuk serius dengannya atau hanya sekedar mencari pelampiasan?
***