
Mentari pagi mulai membawa hawa panas di kulit. Menyinari sekaligus menghangatkan wajah Elang yang tampan. Pemuda itu melangkahkan kaki tergesa ke arah laboratorium.
Udara hangat dan langit tampak biru cerah di area kampus. Sehangat senandung ringan mengungkap perasaan yang sedang gembira keluar dari mulut Elang. Secerah wajah rupawan yang sumringah saat menaiki tangga ke lantai dua.
"Mana jas laboratorium kamu, El?" tegur Pak Sarif tegas pada Elang yang hampir masuk ke dalam ruang tempatnya mengerjakan tugas penelitian.
"Saya nggak ada penelitian hari ini, Pak! Cuma mau beres-beres sama ketemu Mayra sebentar," jawab Elang apa adanya.
"Peraturan tetap peraturan! Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar." Pak Sarif yang berdiri di tengah pintu tidak memberi izin pada Elang yang sering kelebihan alasan.
Pak Sarif Menatap penampilan Elang dari bawah ke atas dengan teliti. Elang mengenakan kaos hitam bergambar pendaki gunung yang sudah pudar warnanya dan celana jeans belel robek di bagian lutut.
"Uhuk!" Elang pura-pura terbatuk lalu memasang senyum hambar, dengan malas dia mengeluarkan pakaian putih ala orang pekerja kesehatan dan memakainya dengan cepat.
Jas laboratorium dengan logo kampus di dada kiri sudah melekat di tubuh Elang hanya dalam beberapa kerjapan mata. Sempurna menutupi penampilan berantakan Elang yang seenaknya.
"Ini bukan kampus nenekmu, El!" Pak Sarif, pegawai penjaga laboratorium kimia tersebut langsung menyingkir dari pintu dan membiarkan Elang masuk ke dalam ruangan dengan pemandangan botol-botol berisi cairan kimia berbahaya.
Elang mengangkat kedua alisnya santai. "Memang bukan, Pak! Kalau kampus ini milik nenek, saya tidak perlu memakai jas lab kalau mau masuk ruangan yang dijaga ketat oleh Pak Sarif, bahkan saya bisa memakai celana pendek dan sandal jepit sebagai keistimewaan saat di lab, ya kan?"
" … " Pak Sarif malas meladeni Elang yang mendebatnya dengan gaya jenaka. Menasehati pemuda itu sudah sering kali dilakukannya, tapi selalu berakhir sia-sia dan tidak berguna.
"Pagi May," sapa Elang sembari memasang masker wajah.
Mayra hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan membuka botol cairan kimia di dalam lemari asam. Tempat khusus yang biasa dipakai mahasiswa untuk menghindari gas beracun selama proses pengujian, riset maupun pembelajaran di laboratorium.
Dia baru menjawab Elang setelah selesai dan menutup lemari asam yang baru digunakan. "Kemana aja kamu, El? Seminggu lebih nggak garap penelitian, emang udah kelar semua?"
"Belum. Ini baru mau aku beresin!" Beberapa gelas pyrex berisi sampel yang sudah diteliti dikeluarkan Elang dari lemari khusus yang dipakainya bersama Mayra. "Aku mau ganti judul penelitian kayaknya, May!"
"Begitulah!" Elang berbicara sesantai mungkin meskipun masih ada pikiran yang mengganjal.
"El … pikirkan waktu dan dana yang sudah kamu keluarkan untuk penelitian ini!" Mayra memberikan beberapa pertimbangan untuk dipikirkan Elang sekali lagi.
Elang menghembuskan nafas berat, "Mau gimana lagi, Bu Nindya udah nggak bisa bimbing aku, surat pengganti dosen sudah turun. Aku dapat Bu Yuni, malas aja bimbingan sama miss ngiler, mending aku ganti judul."
Bukan malas dengan dosen pembimbing baru, tapi Elang tidak akan membiarkan Nindya melepas tanggung jawabnya sebagai dosen yang dulu menawarkan judul dan bantuan padanya. Dosen itulah yang memberi arahan agar Elang mau mengerjakan penelitian yang tidak selesai dikerjakan mahasiswa lain yang berada dibawah bimbingan Nindya.
Sekarang, Nindya boleh saja mundur jadi dosen pembimbing penelitian untuk materi yang sedang berjalan. Tapi Elang tidak kehilangan akal. Sesuai kesepakatan, bahwa judul barunya nanti pun akan dia diberikan kepada Nindya untuk dikerjakan sampai 70%.
Elang hanya tinggal belajar dan terima beres dari Nindya lalu melaporkan hasilnya pada dosen pembimbing baru. Melakukan pengujian sampel di akhir penelitian, lalu seminar dan selesai dengan mudah.
"Bu Yuni the best loh kalau bimbing mahasiswa kayak kamu, asal kamu disiplin semua pasti akan mudah dan cepat diseminarkan!" ujar Mayra skeptis. Sedikit iri karena keberuntungan Elang.
"May … kira-kira dong kalau ngomong, maksudnya apa kalimat 'mahasiswa yang kayak aku' itu?"
Mayra tertawa geli, "Sorry! But you know her. Mending kamu pikirin sekali lagi deh! Bu Yuni cuma nerusin sebentar, nggak sampai dua bulan juga aku rasa udah kelar. Kalau kamu ulang dari awal, bisa satu semester, El!"
Elang termenung, menimbang saran Mayra sebentar. Egonya masih saja tidak menerima bahwa dia dibuang begitu saja oleh Nindya.
Menurut Elang, bukan begitu cara menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka, Elang yakin dia bisa bersikap profesional, Elang bisa mengalah dan menurut bahkan jika Nindya memintanya untuk berlutut dan minta maaf lagi, Elang akan melakukannya dengan ikhlas sebagai laki-laki sejati.
Benarkah?
***