
Ketua mapala selalu menekan semua anggota dengan kalimat, 'Bekerjalah secara profesional saat mengantar tamu di lapangan!'. Kalimat sakti yang membius semua anggotanya untuk lebih memperdalam skill, tujuannya adalah mendapatkan keamanan dan kenyamanan saat mereka kerja menjual jasa petualangan.
Tidak terkecuali Elang, dia juga berusaha menjaga nama baik organisasi yang menaunginya baik sebagai anggota aktif di bawah mapala maupun sebagai salah satu atlet panjang dinding yang membawa nama kampus.
Minggu lalu saat rafting, Elang sukses tidak mencampuradukkan urusan pribadinya bersama Nindya dengan profesionalisme di lapangan. Elang tampil sebaik mungkin sebagai penyedia layanan jasa kegiatan outdoor bersama teman-temannya.
Namun, hal itu hanya terjadi pada saat kegiatan penyambutan mahasiswa baru jurusan teknik kimia berlangsung di lapangan. Saat kuliah reguler sudah dimulai, Elang juga memulai kehidupannya yang berubah jadi tak biasa.
Setelah hari dimana Elang menjadi orang asing bagi Nindya, Elang sama sekali tidak mengerjakan tugas penelitiannya. Mungkin belum, karena seluruh waktunya dihabiskan untuk berkumpul dengan teman-teman mapala, termasuk juga latihan panjat dinding sebagai persiapan kejuaraan wall climbing se-Jawa Bali yang akan diadakan di di salah satu kampus ternama di Yogyakarta.
Alasan sebenarnya, Elang sedang mati-matian menjauh dari dosen pembimbing yang tidak sengaja ditidurinya di tenda. Meski wanita cantik itu sama sekali tidak mencarinya, dan malah membuangnya seperti sampah tak berguna, tapi Elang merasa seperti buronan. Elang ketakutan tanpa alasan yang jelas, pikirannya pun selalu tak nyaman.
Kalau saja tidak ada kesepakatan bahwa mereka harus berlagak seperti orang asing, mungkin Elang tidak perlu berusaha keras menghindari kemungkinan bertemu dengan dosennya itu.
Elang justru kehilangan keberanian untuk mendekat setelah statusnya sebagai mahasiswa bimbingan diputuskan secara sepihak oleh Nindya.
Perasaan bersalah di hati Elang tidak kunjung hilang. Pikirannya terlalu rumit untuk dijelaskan. Sejujurnya, Elang tidak pernah meniduri perempuan tanpa persetujuan. Dia adalah type yang hanya mau melakukan 'hal itu' jika ada kesepakatan.
Mudahnya, harus ada transaksi suka sama suka dulu baru Elang bisa melanjutkan ke bagian terdalam seorang perempuan.
Sekarang, bukan hanya besarnya rasa bersalah yang menjadi alasan utama, ada alasan lain yang lebih menyakiti Elang, dia benar-benar tidak bisa melupakan malam hangat di tenda bersama Nindya.
Barangkali otaknya yang tidak terpengaruh alkohol sekarang sudah mulai miring, Elang tidak pernah menginginkan wanita yang lebih tua enam tahun itu sebelumnya. Elang juga pernah berjanji tidak sudi punya hubungan serius dengan Nindya, tapi … Elang justru semakin kesulitan. Dia mulai mengingkari kata hatinya sendiri.
Ironisnya lagi, Elang tidak punya kemampuan untuk menghentikan ingatan yang terus mengusik otak liarnya. Entahlah, padahal olahraga tengah malam yang dilakukan Elang kala itu dalam kondisi setengah tidak waras, tapi Elang tidak sedikitpun melupakan detail kejadian yang membuat hasratnya sering muncul tiba-tiba.
Yang mengherankan, dari semua mantan pacar yang sudah dijamah dan dijajah Elang dari puncak tertinggi hingga bagian terdalamnya, kenapa hanya Nindya yang sangat mengusik benaknya?
Lalu, kesepakatan antara dirinya dengan dosen pembimbing itu kini semakin membuat Elang kelimpungan. Bukan hanya penelitiannya yang terbengkalai, tapi hatinya juga sakit karena Nindya tetap bersikukuh untuk mencarikan Elang dosen pembimbing baru.
"Kenapa lagi kamu, Kak?" tanya Vivian jengkel. Dia sudah menemani Elang di depan dinding panjat beberapa jam dan rela kepanasan terkena matahari sore, tapi pemuda itu masih tidak begitu peduli dengan perjuangannya.
Sejak mengarungi sungai dan berada satu perahu dengan Elang, Vivian latah ikut teman-temannya untuk mengejar Elang yang gosipnya sedang mencari gebetan.
Dengan tonjolan depan belakang sempurna sebagai wanita, Vivian sangat percaya diri bisa menaklukkan Elang yang tampan. Apalagi sebelumnya Vivian pernah mendengar selentingan, kalau Elang juga sempat menjadikan dirinya target buruan. Vivian merasa besar kepala, dia percaya bisa mendapatkan kesempatan lebih baik daripada teman-temannya.
Elang menjawab singkat, "Aku? Cuma haus, Vi!"
Tangan Elang cekatan menangkap botol minum yang dilemparkan Arga padanya. Dia minum dengan lambat, konsentrasinya untuk latihan pecah karena sekilas melihat dosen pembimbingnya yang cantik dari atas papan yang baru saja dipanjatnya.
Melihat keganjilan sikap terjadi pada Elang, Vivian penasaran. "Haus? Tapi kamu kayak baru ketemu hantu! Memang kamu lihat apa dari atas barusan?"
Elang larut dalam pikirannya sejenak sebelum bergumam ringan, "Iya, baru aja lihat hantu cantik!"
"Hah, apa kak?" tanya Vivian jengkel. "Siapa yang cantik?"
"Ya kamu itu … cantik!" jawab Elang asal sembari mengulas senyum tipis dan tatapan menggoda pada Vivian.
Meski terdengar aneh, tapi Vivian membalas Elang dengan senyum tak kalah manis. "Kamu kebanyakan gombal, Kak!"
"No! Aku serius," sahut Elang tegas. Meski kalimat yang keluar tidak sinkron dengan isi hatinya, tapi Elang mampu menutupinya dengan baik. Elang adalah pembohong ulung, dia bahkan bisa bicara tanpa berkedip untuk meyakinkan wanitanya.
Vivian tersipu-sipu, menatap hangat dan penuh damba pada Elang. "Kak El belum capek? Masih mau manjat lagi?"
Elang tertawa ringan, mengedip sebelah mata sebelum menjawab, "Iya masih … tapi manjat kamu! Boleh?"
***