
Elang menggandeng tangan Vivian dan membawanya langsung masuk ke tempat pribadinya di lantai dua.
"Aku tidur di sini," kata Elang misterius. Tangannya membuka pintu selebar-lebarnya setelah memutar anak kunci dan menurunkan handle pintu. "Masuk Vi, sorry berantakan!"
Kamar berwarna biru langit, lumayan luas, dengan ranjang besar di tengah, rapi dan wangi adalah ruang favorit Elang untuk menghabiskan waktu selepas menyelesaikan kegiatan padatnya di kampus.
"Apanya yang berantakan?" gumam Vivian heran. Semua barang tertata apik di tempatnya.
"Aku mandi sebentar ya! Anggap kamar sendiri, Vi!" Elang pamit keluar kamar untuk membersihkan diri dari keringat latihan.
"Iya!" Vivian menjawab kikuk, masih mengamati kamar Elang dengan seksama. Dia tidak menyangka Elang adalah tipe cowok yang sangat bersih dan rapi.
Vivian tadi sudah membayangkan akan menemukan ruangan pengap bau rokok dan berantakan ciri khas anak mahasiswa, terlebih aktivis mapala yang terkenal dekil dan jorok. Tapi yang ada di depan mata Vivian adalah suasana yang jauh dari kata tidak nyaman, ruangan tersebut adalah jenis kerapian yang biasanya hanya dimiliki kaum perempuan.
Gadis seksi itu mendekati meja belajar Elang dan memperhatikan satu-satunya foto yang menampilkan pemuda berseragam putih abu-abu penuh coretan dengan seorang wanita yang bisa ditebak adalah ibunya.
Elang mewarisi pesona kecantikan wanita yang tertawa bahagia di dalam gambar. Foto yang mungkin diambil beberapa tahun lalu, hari dimana Elang lulus sekolah menengah atas.
"Kenapa kamu? Ada yang aneh dengan kamarku?" tanya Elang selepas mandi, masih bertelanjang dada dengan rambut basah. Beberapa tetes air jatuh di dahi dan bahunya.
Vivian menoleh ke arah datangnya suara maskulin di belakangnya, menelan ludah saat menatap kondisi Elang. Toples. Membuat pikiran muda Vivian berkeliaran kemana-mana.
"Kamu rapi sekali, Kak! Nggak nyangka aja," jawab Vivian jujur. Tangannya meletakkan foto yang dipegang ke tempat semula. "Kak El waktu SMA nggemesin banget!"
"Jiah … kamu kira kalau kamar cowok harus kayak kapal pecah ya? Anak teknik harus berantakan? Kalau anak mapala harus bau apek plus punya penampilan nggak karuan?" Elang mengabaikan kalimat terakhir Vivian yang masih melirik fotonya.
Vivian tertawa kecil seraya menutup mulut, "Biasanya memang begitu kan? Jarang Vivi nemuin kamar cowok begini rapi … wangi lagi."
"Wah, kamu sering masuk kamar cowok ya? Kamar siapa aja tuh?" goda Elang dengan segaris senyum miring.
Dengan wajah panas, Vivian menjawab gagap, meralat ucapannya yang sepertinya salah, "Ya nggak sering juga, Kak. Umum aja dengar hal seperti itu dari teman-teman cewek! Rata-rata ngeluh kalau kamar cowoknya berantakan."
"Tapi pernah?" tanya Elang tak sabar, sedikit ingin tau masa lalu Vivian.
"Kalau gitu ngapain malu?" Elang menatap sekilas, menilai kalau Vivian sudah berpengalaman dengan namanya pacaran dilihat dari keberaniannya. Lalu selarik kalimat menyusul dari bibir tipis Elang. "Ohya kulkas ada di bawah Vi, kalau mau minum dingin ambil sendiri ya! Sekalian ambilkan buat aku maksudnya!"
"Huh dasar!" sungut Vivian keluar kamar pura-pura keberatan. Tapi itu sedikit lebih baik untuk mengurangi sesak dadanya karena berada di dalam kamar bersama Elang. Bukan takut, tapi aura Elang terlalu cepat membiusnya. Vivian mempercepat langkahnya menuruni tangga dan menghampiri kulkas besar di dekat dapur.
Vivian meraih dua kaleng minuman bersoda dan kembali naik ke kamar Elang. Meniti tangga dengan bersenandung kecil karena terlalu gembira. Begitu masuk kamar, Vivian menutup pintu perlahan tanpa memutar kunci.
"Kok ditutup pintunya?" tanya Elang menatap Vivian tanpa ekspresi.
"Eh … bukannya pendingin ruangannya hidup?" Vivian gugup dan salah tingkah, takut dianggap terlalu agresif oleh pemuda pujaannya. Dia benar-benar tidak punya maksud tertentu. Setidaknya belum.
"Belum aku nyalakan." Elang meraih remote, memencet tombol on dan tertawa-tawa, "Bahaya loh Vi berdua di ruang tertutup sama aku, apalagi ini area pribadi!"
Vivian tau kalau rumah kontrakan Elang memang sedang sepi karena dua temannya belum ada yang pulang. Hanya ada pembantu rumah tangga yang dilihatnya sedang menyetrika baju di lantai bawah. Hal yang membuat Vivian merasa bebas tapi juga was-was.
"Kak El nggak gigit kan?" tanya Vivian dengan tawa canggung, mengimbangi Elang yang menggodanya dengan tatapan sayu.
"Gigit lah! Mau coba?"
"Sakit nggak?"
Elang tergelak nakal, "Lebih tepatnya sih … enak!"
"Serius?" tantang Vivian hati-hati.
Elang melembutkan tatapannya, tersenyum menawan sebelum menjawab, "Serius. Mau aku gigit sekarang?"
Vivian mendamba dalam senyum manisnya, dia sangat menginginkan Elang jadi pacarnya, dalam artian mereka punya hubungan manis dan serius. Bukan hanya hubungan yang lagi trend dengan sebutan friend with benefit.
***