
Elang menuju gedung rektorat tempat semua pusat administrasi kampus berada. Menaiki lift dan berhenti di lantai empat tempat ketua jurusan teknik kimia dan jajaran dosen berada.
Pemuda tampan itu berhenti di depan meja admin yang mengurusi jadwal dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan jurusan.
"Kajur ada, Mbak?" tanya Elang sopan.
"Ada, tapi masih terima tamu!"
"Kalau Bu Nindya ada?"
"Kamu mau ketemu Kajur apa mau bimbingan sama Bu Nindya? Biar saya atur jadwalnya sekarang."
"Saya mau ketemu Kajur, Mbak! Tapi kalau bisa pas Bu Nindya nggak ada di tempat!" jawab Elang ringan. Dia sedang tidak ingin dilihat ataupun melihat wanita yang sudah membuatnya sakit kepala.
Admin perempuan itu melihat jadwal sebentar sebelum menjawab, "Bu Nindya hampir selesai di kelas analis jurusan geologi, sebentar lagi beliau pasti kembali kesini. Kalau Kajur, nah itu … beliau sudah free, kalau mau ketemu sekarang dipersilahkan, soalnya satu jam lagi beliau ada jadwal lain."
"Oke, makasih!" Elang langsung melesat ke ruangan Pak Ronald begitu mendapat izin dari admin jurusan.
Ruangan luas dengan pemandangan lapangan basket dan wall climbing milik mapala menjadi spot paling menarik perhatian saat berada di dalam kantor semua kepala jurusan di lantai empat. Tak terkecuali di kantor kajur tempat Elang berdiri sekarang menunggu dipersilahkan duduk.
Mungkin hal itu juga yang membuat anak-anak mapala begitu terkenal kebiasaan buruknya di jajaran petinggi kampus. Mereka yang berada di lantai empat sangat mudah mengawasi kegiatan utama latihan panjat dinding yang biasa dilakukan Elang dan teman-teman.
Lokasi yang tidak hanya digunakan para atlet untuk olahraga merayap seperti cicak setiap harinya, tapi juga kadang jadi tempat nongkrong dan curhat favorit semua anggota mapala.
Seriously? Mapala kok curhat ….
Apa salahnya dengan mencurahkan isi hati dan pikiran? Mapala juga manusia biasa. Mahasiswa yang mendapatkan beban paling berat karena seabrek predikat tak baik yang selalu melekat dimanapun mereka berada.
Untuk itulah ada acara ritual berbagi beban dalam organisasi paling diminati Elang tersebut, acara sakral yang disebut dengan makrab.
Bukan kepanjangan dari malam keakraban, tapi makrab ala mapala adalah mabuk akrab alias flying together. Dan sesi curhat akan terbuka bebas bagi siapa saja yang hadir serta kehilangan kewarasan di sana.
"Butuh bantuan?" tanya kajur tanpa basa-basi saat melihat Elang masuk dan permisi untuk duduk berhadapan.
"Iya, Pak!" Elang tidak ingin lama-lama di ruangan itu, dia harus sudah keluar sebelum Nindya kembali ke kubikel dosen yang pasti dilewatinya nanti setelah bertemu Pak Ronald.
"Nah itu masalah saya, Pak! Saya kehilangan file-file laporan, dan sampling terakhir yang saya teliti … ternyata gagal semua," jawab Elang dengan wajah serius meski alasannya terdengar menggelikan.
Elang tidak menginjakkan kakinya di laboratorium selama seminggu, bagaimana bisa dia membuat alasannya pengujian hasil penelitian murni gagal dan bisa terdengar lebih masuk akal? Berbohong adalah jalan aman untuk melancarkan misinya. Urusan nanti ketahuan sama ketua jurusan … dia tinggal menyalahkan dosen pembimbingnya, Nindya.
"Kamu uji sampel sendiri? Tanpa bimbingan dosen? Bagaimana bisa kamu menentukan kalau pengujian yang kamu lakukan itu gagal, berhasil atau setengah berhasil?"
" … " Elang mati gaya, dia jelas tidak mungkin berdebat dengan manusia yang sudah menyelesaikan pendidikan doktor soal pengujian hasil penelitian.
"Kamu datang untuk menyerahkan berkas penggantian dosen pembimbing, mencari solusi lain atau datang untuk sekedar curhat?" tanya Pak Ronald telak membaca pikiran rumit Elang.
Merasa tertebak isi kepalanya, Elang tertawa hambar. "Saya mau ganti judul penelitian saja, Pak!"
"Kamu terlibat urusan pribadi dengan Bu Nindya?" Benar-benar tanpa basa-basi. Pak Ronald langsung bicara ke pokok permasalahan dan tepat sasaran.
Elang enggan menjawab perkara aibnya dengan Nindya. "Saya mau mengembalikan berkas ini, Pak! Saya tidak bersedia tanda tangan, saya tidak mau ganti dosen pembimbing. Saya memilih opsi lain yang sudah saya sebutkan tadi. Penelitian dari awal lagi alias ganti judul."
Tanpa ingin tahu lebih banyak dan ikut campur urusan pribadi Elang dan bawahannya di kantor, Pak Ronald langsung memutuskan setuju jika Elang ingin berganti judul tugas akhir tahap I nya.
"Baiklah, jadi mana materi penelitian kamu yang baru?" tanya Pak Ronald menadahkan tangan meminta kesiapan Elang.
Elang tertegun karena datang tanpa persiapan, dia tidak menyangka akan semudah itu mendapatkan persetujuan dari ketua jurusan.
Dengan wajah tidak bersalah, Elang menjawab dengan nada menyesal. "Saya belum bikin, Pak! Saya datang niatnya untuk minta izin dulu sama Pak Ronald!"
"Jadi kamu datang hanya coba-coba keberuntungan?" Pak Ronald menaikkan alisnya tinggi dan menatap dengan sorot menghakimi.
"Jujur saja saya belum punya materi, Pak! Opsi ganti judul tadi sebenarnya cuma iseng, kalau diperbolehkan baru saya mulai jalan cari bahan penelitian," jawab Elang cengengesan.
"Saya punya banyak bahan untuk diteliti kalau kamu mau!" Pak Ronald memberikan beberapa lembar kertas penuh coretan pena yang baru dibahas dengan tamunya pada Elang. "Ini salah satunya. Bacalah, mungkin kamu tertarik!"
Elang membaca lambat berkas tersebut, menelan ludah kasar sebelum memberikan tanggapan. "Ini bukannya proyek kampus, Pak?"
***