
Tiga hari di Gunungkidul, Elang sibuk dengan tim penelusuran goa. Pengambilan sampel air sungai bawah tanah menguras banyak tenaga, dan tentu saja Elang tidak ingin ditambah dengan beban memikirkan dosen pembimbingnya.
Elang memasang wajah tak berdosa seperti biasanya, bercanda dengan dua teman mapalanya sambil menggoda Sandra, mahasiswa teknik geologi yang juga terlibat dalam penelitian tim dosen. Sebentar lagi mereka semua akan kembali ke kota Yogya dan Elang harus melanjutkan kegiatan penelitian di lab kimia lalu mengumpulkan laporan pada ketua jurusan di hari Sabtu.
"San, kamu ada hubungan spesial sama Daniel?" tuduh Elang asal. Dia sedang butuh informasi tentang dosen muda yang tak lain adalah tunangan Nindya.
"Daniel siapa? Hubungan yang bagaimana yang kamu maksud? Pacaran?"
Elang mengedikkan bahu acuh. "Daniel dosen, entahlah … kalian terlihat dekat!"
Sandra terbahak-bahak melihat ekspresi Elang. "Pak Daniel? Kamu nyebutin nama dosen kayak nama teman aja, El!"
"Pertama beliau nggak ngajar di teknik kimia, kedua masih muda … mungkin belum kepala tiga. Kamu pacaran sama Daniel ya?"
"Aku berharap begitu, El! Tapi kamu tau sendiri kalau Pak Daniel lebih suka perempuan yang bisa diajak diskusi ilmiah dan setara dengannya. Seperti dosen pembimbing kamu itu, Bu Nindya!"
"Oh …!" Elang menganggukkan kepala senang. Dia melanjutkan aksi tebar-tebar pesona untuk menutupi niat terselubungnya. "Jadi kalau bukan pacar Daniel, kamu pacarnya siapa?"
"Nggak ada, kalaupun ada nggak bakal aku kasih tau kamu juga!"
"Dih galak bener, misal Daniel sama Bu Nindya … dosen sama dosen trus kamu sama aku jadi kita, kan nggak ada salahnya, San!" Tawa Elang meledak saat dia menggoda Sandra.
"Sebenarnya aku mau saja kalau kamu serius, tapi poin pentingnya di sini itu mata kamu sama sekali tidak mengisyaratkan kalau kamu suka sama aku."
"Loh kamu kok bisa bilang begitu?" tanya Elang skeptis.
Sandra kembali tergelak, "Aku bukan anak SMP lagi, El! Beberapa kali punya pacar udah cukup buatku membedakan mana yang serius ngajak jalan atau hanya sekedar iseng-iseng berhadiah jajanan."
"Sialan kamu, San!"
"Pesona kamu kayaknya hanya bisa menjaring anak ma-ba, kalau anak lama kayaknya udah tau semua kartu kamu … dah ah, jangan berani-berani punya niat ngadalin aku, nggak bakal mempan!" Sandra mengeluarkan lidahnya mengejek.
"Memangnya kamu nggak ada rasa suka sama Daniel biar cuma dikit?"
"El, jadi asisten mata kuliah beliau itu saja sudah anugrah buatku. Mana berani mimpi siang bolong pake acara naksir apalagi ngarep jadi pacarnya? Aku masih waras! Cermin di rumah juga terlalu jujur pas menasehati kalau aku nggak cantik. Itu juga alasan aku nggak percaya kalau kamu suka and mau sama aku," jawab Sandra cuek.
"Dimana-mana orang ganteng itu pasangannya cantik, El. Masa gitu aja nggak paham! Lagian memang mereka dekat kan? Gosipnya udah tunangan."
"Artinya aku cocok juga misal jadi pacarnya Bu Nindya, iya nggak? Aku kan ganteng," ujar Elang narsis. Menyisir rambut dengan gaya jenaka hingga Sandra tertawa lepas. "Lebih ganteng dari Daniel malahan!"
"Aku berani bertaruh satu juta deh, kamu pasti bukan seleranya Bu Nindya. Terlalu muda dan terlalu playboy, perempuan berumur seperti beliau pasti mencari yang sudah matang yang bisa dijadikan sandaran hidup."
Elang terkekeh mendengar kalimat bijak Sandra. Elang tidak berpikir logis seperti itu, dia hanya menganggap Nindya akan mempertimbangkan dirinya karena ada hal yang pernah terjadi di antara mereka. Nindya juga belum memberikan bukti negatif hamil, jadi Elang tetap akan menjadi bagian dari kehidupan Nindya meskipun wanita itu kekeh menolaknya.
"Untung Daniel nggak tergabung dalam penelitian tim dosen, jadi pas di lapangan begini aku bisa gantiin posisinya, jadi pacar Bu Nindya. Siap-siap kehilangan satu juta kamu, San!" Elang melangkah pasti meninggalkan Sandra dan teman-temannya yang bersiap pulang ke Yogya kota. Elang pergi untuk menemui Nindya. Dia harus bisa membuat Nindya pulang bersamanya.
Nindya sedang merapikan perlengkapan dan berkas-berkas hasil evaluasi pengambilan sampel saat Elang tiba. Pemuda itu tidak menyapa juga tidak mendekat, dia hanya mengawasi semua pergerakan Nindya seperti singa pemburu, berjarak lima meter dari kelinci kecil yang akan dimangsanya.
Ekor mata Nindya menangkap kehadiran Elang. Pemuda yang sudah membuatnya terluka dan membuat bimbang hatinya. Nindya jengah ditatap terus-terusan, entah sejak kapan juga pipinya terasa panas dan gerakannya mulai salah tingkah.
Kali ini Nindya berusaha profesional. Penelitian Elang harus selesai dengan baik karena berhubungan dengan tim dosen, apalagi ketua jurusan sudah memberi warning agar dia memberikan bimbingan pada mahasiswa yang tak disangkanya diperhatikan oleh pejabat tertinggi di teknik kimia itu.
“Ada apa, El? Apa ada sesuatu yang mau kamu diskusikan?” tanya Nindya seraya melirik jam tangannya. Dia tidak bisa pura-pura punya banyak waktu untuk meladeni Elang.
"Semua mahasiswa sudah pulang duluan!" Elang berbicara tanpa ekspresi.
Nindya menatap lurus ke arah Elang. "Maksud kamu?"
"El numpang pulang di mobil Bu Nindya."
"Nggak bisa! Nanti jadi gosip dan fitnah!" tolak Nindya tegas. Bukankah seharusnya Elang tidak kembali mendekatinya setelah insiden pergi dari rumahnya tanpa pamit?
"Berbahaya berkendara malam sendirian, terutama bagi El junior yang sedang tumbuh di perut Bu Nindya!"
Nindya membelalakkan mata, mengamati sekitar lalu bicara dengan pekik tertahan, "El, bicaramu bisa terdengar orang lain! Lagi pula aku tidak hamil, jangan ngaco kamu!"
"Mana buktinya?" Elang mengikis jarak hingga hanya setengah meter berdiri di depan Nindya. Tangannya terulur meminta sesuatu yang berhak diketahuinya. Matanya tajam menelanjangi Nindya yang mendadak gelisah.
***