
Mata Nindya makin melotot ke arah Elang yang tidak berhenti memasang segaris tipis senyum di bibirnya. Dia masih tidak percaya kalau berkas yang tadi dibawa Elang ke kamar masih sama persis seperti saat diberikannya. Nol tanda tangan.
"Kenapa ini belum ada tanda tangannya?" tanya Nindya waspada, menyadari Elang sama sekali tidak melepaskan tatapannya sedikitpun.
"Aku lupa … tadi langsung lanjut nonton film. Aku bisa menandatanganinya besok lalu menyerahkan sendiri pada kajur," jawab Elang santai. Membuang formalitas, menyebut dirinya dengan kata aku.
"Kamu nggak sadar? Aku menunggu di ruang tamu seperti orang bodoh dan kamu malah menonton film tanpa merasa bersalah sedikitpun? Apa kamu masih punya otak?" sarkas Nindya. Kedua tangannya melipat di depan dada setelah membanting berkas kembali ke atas meja, matanya melebar tidak terima.
Elang memegang kepalanya dengan ekspresi serius lalu tergelak sendiri setelah mengetok dan menunjuk rambut yang menempel di bagian atas telinganya, "Aku tidak ingat apakah aku punya, aku tidak bisa melihatnya! Dia ada di dalam sini jadi aku tidak tahu kepalaku ada otaknya atau tidak!"
"Kamu juga tidak ingat kalau manusia seharusnya punya hati dan perasaan?" Nindya tidak berhenti menghakimi mahasiswa yang mulai nakal padanya.
"Sebenarnya aku punya, tapi aku memang tidak menggunakannya. Aku berpikir sederhana saja, Bu Nindya akan pulang jika aku tidak turun lagi. Salahnya dimana dengan pola pikir seperti itu? Hal kecil seperti itu tidak menyakiti siapapun di dunia ini." Elang lebih merapatkan dirinya di pintu dan mengikuti gaya Ninda dengan kedua tangan mengumpul di dada.
"El!" pekik Nindya marah.
"Aku punya hati dan perasaan, tapi Bu Nindya yang tidak ada kepedulian dengan dua hal itu, apa Bu Nindya pikir mudah buat seorang mahasiswa menerima pengaturan merugikan karena satu kesalahan yang tidak disengaja? Kalau saja tidak dalam kondisi mabuk waktu itu, aku juga tidak mungkin melakukan hal bodoh pada Bu Nindya."
"Tanda tangan sekarang juga dan aku akan pergi dari sini!" perintah Nindya geram. Dia tidak ingin berdebat dengan Elang yang menatapnya dengan tuntutan keadilan.
"Pertama, ini ruangan pribadi, di sini aku tidak menerima perintah dari siapapun di sini! Kedua, keluar masuk kamar ini harus dengan seizin pemilik." Elang berbicara dingin dan tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya berdiri.
"Baik, terserah kamu kalau nggak mau tanda tangan hari ini. Aku harap besok berkas ini sudah ada di tangan Bu Yuni," ucap Nindya sambil meletakkan kembali kertas yang baru saja dipegangnya ke atas meja. "Tolong buka pintunya!"
Nindya gerah bersama Elang di dalam kamar beraroma racun memabukkan tersebut. Seluruh sarafnya memberontak mengungkapkan bahaya, memperingatkan untuk menjauh segera dari pemuda yang justru sekarang senyum-senyum tak jelas padanya.
"Aku akan menandatanganinya dengan satu syarat," ujar Elang tiba-tiba.
"Apalagi yang kamu inginkan?" tanya Nindya waspada.
"Temani aku menonton film sebentar!"
Nindya melebarkan mata, "Tidak!"
"Tidak," sahut Nindya cepat. Dia langsung memberikan alasan sebelum Elang kembali bicara, "Hanya saja itu bukan hal yang biasa dilakukan seorang dosen dan mahasiswanya, kamu bisa melakukan hal seperti itu dengan teman kuliah. Seperti Vivian misalnya."
"Bu Nindya sudah mengusirnya secara halus tadi," ujar Elang datar. Matanya tidak berhenti menatap wajah Nindya yang mulai merona jengah.
Nindya membela harga dirinya dengan galak, "Dengar El! Aku tidak mungkin datang kesini tanpa alasan, aku datang untuk mengurusi penelitianmu yang berantakan! Aku merasa bertanggung jawab karena ikut andil dalam mundurnya jadwal lulus yang sudah kamu tergetkan. Aku bukan sengaja datang untuk menggagalkan kencanmu bersama Vivian!"
"Tetap saja … acaraku dengan Vivian terganggu karena Bu Nindya bertamu di saat yang tidak tepat. Jadi tidak ada salahnya kalau aku minta ganti rugi kan?" sangkal Elang telak.
Nindya mengedikkan kepala ke arah tempat sampah banyak berisi kertas dan satu lateks berwarna merah yang masih bersih. "Kamu hanya nonton film sama Vivian? Apa aku harus percaya begitu saja padamu? Lalu seenaknya kamu minta aku menggantikan posisi Vivian? Tidak akan pernah … kamu benar-benar brengsek dan memalukan, El!"
"Kenapa harus malu? Kita sudah pernah saling melihat dan merasakan satu sama lain. Ehm, meskipun waktu itu aku tidak sepenuhnya waras tapi aku masih bisa mengingat kalau Bu Nindya juga sedikit … menikmati mungkin?"
Wajah perempuan yang masih berdiri tak jauh di depan Elang spontan merah padam menahan malu dan juga marah dalam satu waktu. Kalau saja dia tidak salah mengenali orang ….
"Jaga bicaramu, El! Ucapanmu sangat merendahkan perempuan! Aku bukan Vivian!"
"Aku tidak merendahkan siapapun! Aku juga belum melakukan 'hal itu' sama Vivian! Lagian nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita. Pembantu pasti sudah pulang setelah menyetrika, apa itu semakin membuat Bu Nindya takut?" tanya Elang dengan ekspresi jenaka dan terkesan menakut-nakuti.
Sesekali bergaya seperti akan menerkam tanpa ampun, sama sekali tidak memperdulikan perasaan Nindya yang berkecamuk ingin menghajarnya.
"Buka pintunya! Aku harus pulang sekarang, aku ada janji dengan relasi." Nindya membentak dengan nada rendah.
"Hanya nonton, Bu Nindya … tidak lebih! Aku tidak akan mengajak Bu Nindya make love karena sudah pasti ditolak, tidak mungkin memaksa karena aku belum kumat gilanya. Paling cuma minta kiss … sedikit," kata Elang. Kedua alisnya naik bersamaan diiringi tawa kecil yang terdengar sangat nakal.
"I don't do kissing!" sahut Nindya gamblang. Dia benci mendengar Elang yang menertawakan sikapnya yang kikuk.
Nindya tidak begitu suka berciuman, terlebih jika hal itu dilakukan dengan Elang. Ciuman menurut Nindya adalah kegiatan yang sangat pribadi karena banyak perasaan yang akan terungkap di sana. Dia juga tidak suka karena melakukan itu bisa membuat hubungan dua anak manusia menjadi sangat dekat dan intim.
"Impossible! Mari kita buktikan!"
***