Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Pakaian Nakal



"Elang?" desis Nindya tergesa berlari mengejar ke dalam toko. "Kamu ngapain ke sini, El?"


"Aku ingin membelikan pakaian tidur untukmu," jawab Elang singkat. Tangannya meraih lingerie transparan berwarna merah menyala. "Bagaimana pendapatmu?"


Wajah Nindya seolah terbakar, dia yakin warnanya mungkin sama menyalanya dengan pakaian yang disodorkan Elang padanya. "El, aku tidak memakai pakaian seperti itu untuk tidur!"


"Aku tau, kamu tidur pakai piyama."


"Kalau sudah tau untuk apa membelikan hadiah aneh itu untukku?"


Elang meletakkan pakaian nakal itu di tempatnya semula dan berbisik jahil sebelum ngeloyor tak berdosa menjelajahi isi toko. "Piyama untuk tidur saat sendiri, saat tidur denganku kamu seharusnya pakai yang seperti ini! Ya … walaupun sebenarnya aku lebih suka kalau kamu telan-jang!"


"Aku mohon El, jangan membuat ulah di sini!" ujar Nindya yang sudah berada di sebelah Elang, menatap ngeri pada pengunjung yang mengawasi mereka berdua. Elang terlalu menarik perhatian.


Oh Tuhan, Nindya tercekat menatap dua orang lain yang berada di dalam toko yang sama. Bukankah itu mahasiswi bimbingannya? Teman seangkatan Elang yang juga sedang mengerjakan penelitian? Nindya spontan mengalihkan pandangan dan memunggungi mereka.


Elang masih sibuk memilih pakaian dalam super seksi yang sekiranya cocok untuk Nindya dan sesuai dengan fantasinya, sampai dia menemukan warna krem muda yang sewarna dengan kulit Nindya. Sedikit renda berwarna putih di beberapa bagian yang membuat kesan semakin manis pada pakaian transparan itu.


Dengan lagak mengepaskan, Elang berdecak kagum dan merasa puas saat dirasa pakaian penggoda itu pas sekali ukurannya dengan tubuh Nindya.


"Tepat sekali, seksi abis!" kata Elang sumringah, mengabaikan wajah dosennya yang mendadak seperti orang bingung harus menyembunyikan muka dimana.


"El … aku tidak mau!" panggil Nindya hampir tak bersuara. Dia harus bisa membawa Elang keluar toko secepatnya, sebelum mahasiswinya yang berada di ujung toko memergoki mereka berdua.


"Hm…, satu lagi ya?" Elang pergi ke bagian lain toko yang memajang pakaian dalam jenis teddy. Meninggalkan Nindya yang terbengong dengan perasaan gelisah tak karuan.


"Hai kakak tampan, cari teddy ukuran berapa?" tanya pramuniaga bertubuh penuh lekukan seperti bintang film por-no yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. "Mau saya bantu pilihkan?"


"Hm, aku tidak tau." Elang baru saja menoleh untuk melihat Nindya yang ternyata sudah ada di belakangnya. Spontan Elang merangkul bahu Nindya dengan mesra. "Ini dia ukurannya!"


Pramuniaga toko melepaskan tatapan memujanya dari Elang ke arah Nindya yang pucat dan gelagapan.


"Kakak suka warna apa?" tanya pramuniaga sembari menunjukkan model dan beberapa warna yang sedang diminati kawula muda. Senyumnya ramah dan suaranya sopan pada Nindya.


Elang dengan penuh kekaguman mengamati dan menikmati pakaian-pakaian nakal tersebut sembari membayangkan jika Nindya memakai salah satunya untuk menggoda dirinya di kamar.


"Yang itu, ya … itu!" tunjuk Elang antusias saat pramuniaga mengangkat pakaian dalam teddy atas bawah dari satin. Merah muda, dengan tali-tali tipis, sederhana tapi sangat seksi.


"Pilihan kakak tepat sekali, bagus dan sangat cocok dengan …."


"Pacar," potong Elang cuek.


"Bagaimana menurutmu, Manisku?" Elang menatap wajah pias Nindya yang masih dalam rangkulannya.


"Menurutku kamu gila, El! Itu pendapatku," gumam Nindya pelan berusaha menyembunyikan malunya.


"Dia menyukainya," kata Elang pada pramuniaga toko yang sedang menahan senyumnya. Tanpa ragu, Elang merapatkan pelukannya pada bahu Nindya dan mengecup sekilas puncak kepalanya.


"Tidak! El, aku tidak menyukainya." Nindya menolak dan menyangkal Elang dengan tegas. "Warnanya … warnanya, warnanya pink!"


Entahlah, rasanya Nindya ingin memukul kepala Elang. Nindya tak habis mengerti apa yang ada di pikiran Elang, dan kenapa dia harus memakai pakaian tak senonoh itu? Dan warnanya pink! Nindya pasti akan tampak seperti remaja yang mendedikasikan dirinya sebagai sugar baby peliharaan om senang saat mengenakannya.


"Kenapa memangnya kalau pink?" tanya Elang penasaran.


"El, aku berumur dua puluh delapan tahun!"


"Trus?"


"Perempuan dua puluh delapan tahun tidak memakai warna genit seperti itu," jawab Nindya dengan wajah semakin merona.


"Oh, trus?"


"Aku tidak mau memakainya!" Nindya melepaskan tangan Elang yang masih bertengger di bahunya dengan segera.


"Baiklah. Pacarku suka yang merah muda!" Alih-alih mendengarkan pendapat Nindya, Elang justru mengangguk pada pramuniaga toko, setuju untuk membeli dua pakaian dalam pilihannya sebagai hadiah untuk Nindya. Meski itu harus dibayar menggunakan uang tabungan mama yang diwariskan padanya.


"El, no!" pekik Nindya tertahan.


"Bu Nindya?" sapa salah satu mahasiswi yang tadi dihindari Nindya dengan suara merdu dan seribu rasa ingin tau.


Pandangan dua mahasiswi bimbingan Nindya langsung tertuju pada Elang yang sedang memasang senyum menawan. Mengamati beberapa lama sebelum memindahkan mata mereka menatap Nindya kembali. "Lagi borong pakaian dalam, Bu?"


"Ha-i, ti-dak! Maksudku ini untuk hadiah pernikahan saudara. Kalian juga sedang berbelanja ya?" Nindya tersenyum canggung, menyimpan rasa malunya rapat-rapat.


"Begitulah," jawab salah satu mahasiswi itu. Dengan penuh penasaran menatap sekali lagi ke arah Elang, lalu ke arah Nindya, lalu ke arah pakaian dalam yang sedang dirapikan pramuniaga … dan mereka berdua terkikik tak percaya.


Nindya mengerang. Dia bisa menebak setelah ini gosip akan beredar di kampus tempatnya mengajar. Paling tidak besok pagi sudah ada berita hangat tentang dosen yang suka memakai pakaian dalam seksi? Atau justru dosen muda tertangkap main gila dengan brondong seksi?


***