
"Kak El, semangat!" teriak Vivian bertepuk tangan dan melambai-lambai memberi cium jauh.
Nindya menaikkan sebelah alisnya sebal tanpa melakukan hal lain. Tangannya terlipat di depan dada dengan ekspresi manis yang hanya ditujukan untuk Elang.
"Ish gemes banget tau nggak, bisa nggak kamu bantu carikan satu yang kayak pacarmu, Vi." Riska menarik baju Vivian dengan mata tanpa berkedip.
"Nggak ada, limited edition!" jawab Vivian sarkas.
"Astaga, tega banget kamu bikin aku blingsatan! Tau gitu tadi ogah suruh nemenin liat Elang latihan," gerutu Riska tidak terima.
"Minta sama Dedi kan bisa, repot amat!"
"Kalau berbagi aja gimana, Vi? Aku jadi selir aja nggak apa-apa," ujar Riska menawar.
"Maksudnya?"
"Kamu empat hari aku tiga hari."
Vivian hampir mendamprat kasar sahabatnya, "Sinting kamu!"
"Kamu lima hari … aku dua aja cukup, adil nggak?"
"Riska!" pekik Vivian gemas, setengah tertawa juga setengah jengkel. Tapi senyumnya mengembang puas saat ekor matanya menangkap ekspresi Nindya.
Nindya tidak tahan mendengar obrolan menjijikkan dua mahasiswi tersebut, keterlaluan dan tidak seharusnya dibahas oleh wanita seumuran Vivian. Tekadnya menunggu Elang sampai selesai latihan semakin kuat.
"Bu Nindya ada perlu apa sama pacar saya?" tanya Vivian provokatif.
"Urusan penelitian," jawab Nindya lembut dengan senyum tetap terkembang.
"Kak El tadi udah nge-lab sampai siang, masa iya masih harus lanjut sampai malam!"
Dengan wajah serius dan meyakinkan, Nindya menjawab kalem. "Kepala jurusan minta laporan lengkap besok pagi, jadi nggak bisa ditunda."
"Oh …." Vivian bungkam, tidak senang dengan alasan Nindya yang kurang masuk akal menurutnya.
Beruntung gerimis datang, sehingga Elang dan teman-temannya berinisiatif menghentikan latihan.
Masih di bawah wall climbing, Elang meloloskan kaos latihan yang sudah basah dan menggantinya dengan yang baru. Setelah mengendus ketiaknya, dia mendatangi Nindya sembari memamerkan gigi rapinya.
"Ada apa, Bu?" tanya Elang formal.
"Pak Ronald bilang ada materi yang harus kamu ambil di rumahnya sekarang. Beliau minta materi itu diikutkan dalam bab pendahuluan yang sedang kamu kerjakan!" Satu lagi, Nindya lebih punya kuasa atas pendidikan Elang daripada Vivian. Mengatur Elang dalam situasi yang berhubungan dengan akademik menjadi haknya.
"Sekarang?" tanya Elang tak percaya. Sekilas Nindya melihat Elang melirik Vivian yang cemberut, Elang menghampirinya lebih dulu karena Nindya memberi kode agar mahasiswanya itu mendekat.
"Kalau nggak urgent aku nggak bakal datang kesini," jawab Nindya tegas.
"Kamu kenapa belum pulang, Vi?"
"Sengaja mau liat kamu latihan sampai selesai. Kita makan dulu yuk, janji abis itu aku sama Riska langsung pulang!" Vivian merengek manja sambil melirik Nindya.
"Aku nggak bisa, Sayang! Nggak enak udah ditunggu Bu Nindya, mau ambil materi. Besok aja ya sekalian malam mingguan?"
"Yah, tapi besok bener ya, Kak! Janji?"
"Hm … iya janji," jawab Elang santai.
"Ya udah Vivi pulang kalau gitu, hati-hati!" Vivian menarik baju Elang hingga sedikit tertunduk, memberikan ciuman sekilas di pipi Elang agar Nindya tau siapa dirinya bagi mahasiswa yang sedang dibimbing Nindya itu. Lantas berlalu dengan senyum kemenangan pada Nindya yang berwajah masam.
"Berangkat sekarang?" tanya Elang. Matanya berganti menyandera Nindya yang sedari tadi memperhatikannya pamit pada Vivian.
Nindya mengangguk dan mendahului Elang berjalan ke arah parkiran, masih dengan setelan pagi tadi. Rok selutut dan atasan yang menantang Elang untuk mencuri pandangan, terutama ke arah belahan yang tersamarkan oleh hiasan leher berwarna putih.
"Kamu nggak laper, El?" tanya Nindya manis begitu mereka ada di dalam mobil.
"Lapar yang lain," jawab Elang. Matanya jatuh ke paha Nindya karena roknya naik sedikit saat dipakai duduk.
"Aku serius, kamu nggak lelah?"
"Udah biasa, pingin mandi dulu, malu juga ke rumah kajur bau keringat begini. Kita ke kontrakan sebentar ya!"
Nindya tergelak nakal, "Nggak mau mandi di rumahku? Aku juga mau mandi. Tenang aja, Pak Ronald bisa menunggu sampai besok!"
Elang curiga, jangan-jangan Nindya sengaja, "Eh maksudnya ini cuma akal-akalan kamu biar aku nggak pergi sama Vivian?"
"Kasih tau nggak ya?" goda Nindya memainkan peran seperti anak baru gede. Sengaja menjilat bibir untuk membuat Elang semakin penasaran.
Apa itu sebuah kode keras untuk Elang? Semacam undangan? Elang mendekat, tak peduli dirinya bau keringat yang mungkin membuat Nindya menolak.
"Kamu pake baju ini untukku?"
Bukannya menjawab, Nindya justru terkikik geli. Usahanya berhasil. Tak sia-sia dia mematut diri lebih cantik dan berani, ternyata Elang sadar dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
"El, stop!"
Jari Elang berjalan menyusuri tangan Nindya, dari pergelangan hingga atas bahu. Mahasiswa nakal itu mengerang pelan menatap belahan dada Nindya yang menggoda jiwa lelakinya dari sejak pagi.
"Aku tidak akan mengampunimu dengan mudah, Bu Dosen!"
***