
Elang berjalan ke luar tanpa menurunkan pandangan pada wanita yang menunggunya di depan pintu sambil membaca berkas. Berdiri sendiri masih dengan pakaian yang sama seperti saat Elang melihatnya di kampus tadi.
Melihat Elang datang menghampiri, Nindya tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. "Saya ada perlu!"
"Silahkan masuk!" Elang menunjuk ruangan dengan sofa hijau. Dia baru duduk setelah Nindya mengambil tempat di hadapannya, berbatasan dengan meja yang lumayan lebar.
"Sorry mengganggu! Saya tidak akan lama," ujar Nindya kikuk. Dia menatap di bawah mata Elang untuk menghindari kontak langsung.
Elang menjeda pertanyaan yang hampir terlontar pada dosennya karena Vivian sudah berada di ujung tangga.
"Sebentar ya, Bu!" Elang keluar ke teras untuk menelepon, memesan taxi untuk Vivian.
"Bu Nindya sama siapa?" sapa Vivian berusaha tetap ramah meski hatinya kesal dan panas. "Tumben!"
Nindya membalas keramahan Vivian dengan senyum manis. Dia sedikit terganggu dengan kata-kata Vivian yang memberi arti kalau dia baru kali ini datang ke tempat tinggal Elang, sementara Vivian … sudah sering. Mungkin setiap hari.
"Sendirian. Saya ada perlu penting sama Elang. Soal penelitiannya yang nggak dikerjakan!"
"Kak El lagi sibuk latihan buat lomba, masa Bu Nindya nggak tau! Saya nggak bisa bantu sih, kalau bisa sudah saya kerjakan semua laporan penelitiannya," ujar Vivian memanasi Nindya, seolah dia lebih tau semua tentang Elang dibandingkan wanita di depannya.
“Saya juga sedang berusaha untuk membantu mencarikan penyelesaian untuk penelitiannya. Elang memang butuh support yang besar, tugas akhirnya cukup sulit.” Nindya bersikap profesional.
Vivian dengan bangga berbicara pelan, "Kalau soal support, biar jadi urusan saya! Bu Nindya nggak perlu ikut campur!"
Nindya mengangguk samar menyetujui, lalu mengedikkan sedikit kepalanya ke arah luar. "Kamu dipanggil Elang!"
"Ya udah saya pulang dulu ya, Bu! Titip kak El, tolong benar-benar dibantu untuk urusan kuliah, bukan yang lain!" pamit Vivian melenggang keluar rumah dengan wajah masam. Elang sudah menunggu di luar, sedang berbicara pada sopir taxi yang siap membawanya pulang.
Setelah memberi anggukan ringan, Nindya membisu. Hanya benaknya saja yang sibuk bekerja. Kenapa dia harus bertemu Vivian di tempat Elang? Lalu, perasaan tidak nyaman yang mendekam dalam hatinya itu apa? Cemburu kah?
Tidak! Nindya bersikeras melawan pikirannya sendiri. Dia punya tunangan, dan itu cukup sebagai alasan.
Awalnya, Nindya memang berpikir setelah membahas berkas yang ada di tangannya nanti, dia ingin membicarakan hal pribadi yang mungkin penting untuk dirinya dan Elang.
Namun, bab penting itu sepertinya harus dilewatkan saja. Vivian sudah mengubah niatnya tanpa rencana, dan Nindya merasa tidak adil jika masih harus membahasnya bersama Elang, mengingat dia sendiri yang meminta agar mereka seperti dua orang asing yang tidak pernah kenal sebelumnya.
Dengan cepat Nindya memutuskan, kalau kedatangannya kali ini tidak lebih dari menyerahkan berkas penting yang sudah disetujui ketua jurusan, yaitu berita acara pemindahan tugas dosen pembimbing dari Nindya ke dosen lain.
"Vivian sudah pulang?" tanya Nindya berbasa-basi.
"Sudah." Elang menjawab singkat, dengan ekspresi datar cenderung tidak menyenangkan.
Nindya mengulurkan berkas yang dibawanya pada Elang, "Ini yang kamu butuhkan!"
Membaca sekilas berkas di tangannya, Elang mengernyit perlahan. "Bu Yuni?"
"Beliau sangat senior untuk membimbing tugas akhir dan penelitian," ujar Nindya yakin. "Bu Yuni juga sudah setuju untuk membimbing kamu, beliau bisa mengusahakan bulan depan penelitianmu bisa diseminarkan!"
Elang tidak menghendaki dosen bergelar Miss Ngiler itu yang membimbingnya. Tidak juga mau dibimbing oleh dosen lain. Elang hanya ingin dibimbing oleh dosen wanita yang sedang murung di depannya.
Bu Yuni adalah dosen lawas yang mengajar Kimia Analis tahap III sampai IV, juga banyak membimbing mahasiswa untuk meraih gelar sarjananya dengan lebih cepat.
Disiplin waktu dan target yang ketat membuat Bu Yuni mendapat julukan Miss Killer dari mahasiswanya, gelar yang diplesetkan menjadi Miss Ngiler karena beliau selalu menatap mahasiswanya yang tampan dengan mata yang sering lupa daratan.
Elang menatap Nindya tajam, menjawab singkat dengan nada sinis penuh tekanan. "Baiklah jika itu mau Bu Nindya!"
"Tanda tangani sekarang dan berikan lagi pada saya, besok saya akan memberikan salinannya pada Bu Yuni dan satu lembar nanti sebagai arsip jurusan." Nindya menatap sekilas pada wajah kecewa Elang.
“Jadi setelah ini … semua selesai dan kita benar- benar akan menjadi orang asing?" tanya Elang memastikan keputusan Nindya.
Dengan susah, Nindya menelan ludah sebelum menjawab lirih, "Iya, El."
"Saya akan menandatanganinya seperti yang Bu Nindya mau, bahkan kita tidak perlu bertemu lagi setelah ini!" Elang membawa berkas yang masih dipegangnya ke atas, ke kamarnya, karena Nindya tidak menyediakan pena untuknya. Elang terlalu malas untuk bertanya atau meminta.
Elang melangkah ringan, menjejak tangga dengan cepat dan menghilang di balik pintu kamar. Meletakkan berkas di atas meja lalu merebahkan tubuh di atas ranjang nyamannya.
Elang sengaja melupakan Nindya yang mungkin masih menunggunya di ruang tamu. Elang tidak peduli, dia ingin tidur untuk melewatkan rasa jengkel yang mendera perasaannya.
Lalu, apakah Nindya akan menyusulnya ke kamar demi berkas tersebut?
***