
"Ya, itu penelitian bersama antara dosen geologi, pertambangan dan kimia mengenai struktur batuan dan air di kawasan karst Gunung Kidul." Pak Ronald memberikan gambaran singkat mengenai pekerjaan yang sedang dilakukannya bersama dosen-dosen jurusan lain di kampus.
"Lalu apa yang akan saya teliti di sana, Pak?"
"Kalau kamu bersedia kamu bisa ambil bagian untuk penelitian mengenai studi kelayakan air minum dari dalam goa, air bawah tanah."
Elang sedikit mengerti, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta dikenal sebagai wilayah karst (kapur). Luas kawasan karst sekitar 807 km persegi. Kekayaan karst tersebut menjadi daya tarik dari para investor untuk melakukan penambangan batuan jenis gamping.
"Beberapa perusahaan pertambangan yang melakukan aktivitas eksploitasi karst di Gunungkidul sudah pada habis masa perizinannya ya, Pak? Tapi pasti masih ada saja yang melakukan penambangan ilegal.” Elang memberikan tanggapan singkat mengenai lokasi penelitian.
"Nah kamu sudah langsung tau titik permasalahannya," ujar Pak Ronald menggebrak meja perlahan, merasa antusias dengan pengetahuan Elang.
"Berdasarkan sifat fisiknya, kawasan karst memiliki fungsi utama sebagai penyimpan air untuk memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya, kawasan karst juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem regional." Elang berbicara datar dan apa adanya, sesuai materi yang diserap saat belajar caving (ilmu penelusuran goa) di dunia mapala.
Pak Ronald dengan semangat melanjutkan diskusi, "Kawasan karst sangat rentan perubahan, banyak aktivitas yang mengancam kelestarian fungsi ekologinya. Kamu pasti tau kalau hilangnya fungsi ekologi karst adalah bencana bagi kehidupan."
Elang mengangguk membenarkan, "Jadi untuk siapa para dosen melakukan penelitian ini? Perusahaan asing yang berminat menambang batu gamping di Gunungkidul atau …?"
Pak Ronald menatap Elang dengan tatapan menyelidik, "Kami melakukannya untuk pemerintah, El! Kita sedang ikut memaksimalkan proyek Cagar Alam Geologi di kawasan itu."
Elang menimbang keputusan, apakah akan ikut dalam proyek dosen atau justru mengambil materi penelitian yang lain. "Saya pikir-pikir dulu deh, Pak!"
"Kalau kamu mau ambil bagian dalam penelitian ini, saya langsung turun tangan, saya yang akan jadi pembimbing kamu, saya juga akan jadi pembimbing untuk tugas akhir tahap II, Pra Rancang Pabrik Kimia kamu nanti akan ada di bawah bimbingan saya. Bagaimana?"
Uhuk … entahlah, Elang sedikit merasa tersanjung dengan tawaran tersebut. Seperti sesuatu yang istimewa tetapi butuh tenaga extra untuk mengerjakannya.
"Jadi bagian saya turun ke dalam goa untuk ambil sampel air ya, Pak?" keluh Elang. Dia agak paham dengan konsep yang diberikan oleh Pak Ronald. "Itu tidak bisa dilakukan sendirian, Pak! Saya butuh tim pendukung dari teman-teman mapala."
"Deal," pungkas Pak Ronald cepat.
"Hah? Biayanya? Teman-teman saya butuh makan dan dibayar secara profesional untuk tugas begini, Pak!" kata Elang penuh muslihat.
"Saya yang tanggung semua biayanya!" tantang Kajur teknik kimia itu serius.
Satu sisi, Elang memang licik karena memikirkan kepentingan dan keuntungan besar untuk organisasinya. Divisi susur goa harus punya nama di kampus seperti divisi panjat tebing dan arung jeram. Sisi lainnya, Elang memang iseng karena berniat menguras kantong pribadi kajurnya.
"Kamu bisa klaim semua biaya kegiatan di lapangan nanti. Saya anggap kita sudah sepakat dengan adanya pembicaraan ini, dan karena saya sibuk … kita sudahi dulu pembahasan hari ini!" Pak Ronald menutup pertemuan setelah melirik jam tangan mahalnya.
"Baik, Pak!"
"Bu Nindya akan membantu membimbing kamu selama penelitian kelayakan air dan batuan di laboratorium. Saya minta laporan dari kamu seminggu sekali. Setiap Sabtu pagi berkas laporan harus sudah tersedia di meja ini. Ngerti?"
"Mengerti, Pak!"
"Untuk kebutuhan materi lanjutan, kamu bisa konsultasi ke saya setiap hari. Saya harapkan dalam waktu dua sampai tiga bulan ke depan, penelitian sudah selesai dan hasilnya bisa diseminarkan!"
"Ehm soal … Bu Nindya?" tanya Elang masih tidak percaya dengan keputusan Pak Ronald
"Ya, dia juga ada dalam proyek ini. Dia tidak bisa meneruskan jadi dosen pembimbing kamu karena terlalu sibuk dengan proyek tim dosen, itu alasannya. Saya rasa, kalau kamu ada di dalam tim ini … Bu Nindya tidak akan keberatan membimbing kamu lagi. Tapi kamu juga harus profesional. Kamu tau artinya sikap seperti apa itu, El?"
Elang mengangguk lalu menjawab dengan senyum lebar, "Mendahulukan kepentingan penelitian di atas kepentingan pribadi, Pak!"
"Oke, kamu boleh pergi sekarang!"
"Baik, Pak! Terima kasih."
Senyum Elang sumringah, dia berjalan keluar ruangan sambil memilah otaknya, mencari alasan paling tepat kenapa dia sangat bahagia begitu selesai bicara dengan kajurnya?
Ternyata, jawabannya hanya ada pada satu nama, Nindya. Ya, karena ternyata mereka masih akan terlibat satu sama lain. Bukan sebagai orang asing, tapi kembali lagi sebagai mahasiswa dan dosen pembimbing penelitian.
Ah, rasanya Elang tidak sabar melihat reaksi Nindya saat bertemu lagi dengannya. Dia harus membuat kejutan untuk dosen cantiknya itu.
***