Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Rasa dan Ukuran



Nindya segera menggeret Elang keluar toko pakaian nakal itu begitu transaksi selesai, menuju tempat lain untuk berbelanja kebutuhan rumah. Pakaian ala pelacur yang dibeli Elang untuknya dan pertemuan dengan mahasiswi bimbingannya yang lain membuat Nindya frustasi.


Di dalam supermarket, Nindya mengomel tanpa henti pada Elang yang dilihatnya sama sekali tidak peduli dengan kehadiran dua mahasiswi yang baru saja memergoki mereka membeli pakaian dalam.


Mungkin Elang biasa menyandang predikat playboy dan gemar berganti pacar, serta seabrek hal buruk karena citra mapalanya. Bahkan jika itu adalah 'affair' dengan dosen pun rasanya Elang tidak terbebani.


Tapi bagaimana dengan Nindya dan reputasinya di kampus nanti? Hal seperti itu terlalu ekstrim bagi Nindya yang memiliki tunangan. Terlebih tunangannya juga mengajar di tempat yang sama dengannya. Apa yang akan Nindya jelaskan jika sampai Daniel mendengar gosip tersebut? Entahlah! Nindya harus sudah siap menerima semua resikonya dari sekarang.


Elang hanya mengambil parfum dan sikat gigi. Selebihnya semua isi kereta belanja yang hampir penuh adalah kebutuhan rumah tangga Nindya.


"Masih berapa banyak barang yang harus dibeli?" tanya Elang dengan ekspresi bosan. "Aku tidak menyangka kalau menemani belanja seperti ini jauh lebih melelahkan daripada latihan bouldering!"


"Apa lagi itu?"


"Ya sejenis panjat dinding tapi nggak pakai tali, biasanya dipanjat menyamping!"


"Kalau jatuh?"


"Tidak terlalu tinggi, di bawahnya disiapkan matras tebal, jadi kalau jatuh tetap aman."


"Oh, aneh-aneh aja olahraganya anak mapala. Itu yang nempel di papan panjat yang buat pegangan tangan sama pijakan kaki bentuknya aneh-aneh ya?"


"Namanya point, bentuknya dibuat mirip dengan kondisi batuan di tebing. Ada fungsi-fungsi tertentu sesuai modelnya. Mau aku ajarin bouldering nanti sore biar kenal sama yang namanya point?"


"Nggak! Takut kepeleset. Apalagi yang manjat kayak orang lari di dinding itu … apa nggak takut ya, ngeri bener lihatnya!"


"Oh speed climbing? Nanti kalau udah pro kamu juga bisa coba!"


Nindya bergidik, mengedikkan bahu tanpa minat. "Impossible aku bisa melakukan hal seperti itu!"


Setelah mengambil sabun cair dan meletakkannya di kereta belanja sebagai barang terakhir yang dibutuhkan, Nindya mengalihkan perhatian Elang dengan memberinya perintah untuk mengambil camilan kesukaannya. Keripik buah.


Sementara Nindya, dengan cekatan melemparkan satu kotak pengaman ke dalam keranjang belanjaan dengan kepala sibuk menoleh ke kiri dan kanan. Bukan perkara apa, Elang baru saja membeli dua set pakaian dalam 'setan' untuknya, juga membuatnya berjanji untuk istirahat siang di kontrakannya.


Segala sesuatu yang tidak terduga bisa saja terjadi di antara mereka berdua di dalam kamar. Nindya hanya mengantisipasi kejadian gagal bercinta kemarin malam karena Elang tidak punya pengaman.


"Bener yang ini?" tanya Elang mengagetkan Nindya yang sedang melamun. Satu bungkus keripik kentang dan dua keripik apel dimasukkan Elang ke dalam kereta.


"Sip, sudah semua kayaknya!"


Elang menatap kotak kecil yang dikenalnya dengan baik berada tak jauh dari keripik yang baru saja diletakkan, lalu menatap Nindya yang sudah melengos ke arah lain dengan wajah merah merona.


"Cuma satu kotak? Kurang, Sayang!" Elang mendekati rak, tangannya cekatan mengambil dua kotak pengaman lagi dan melemparkannya ke dalam kereta belanja dari tempat dia berdiri, dengan gaya seperti pemain basket. "Three point!"


"Kok beda sama yang tadi?" tanya Nindya malu-malu.


"Yang tadi original, yang ini rasa strawberry sama bubble gum, kamu akan menyukainya." Elang tertawa menatap Nindya yang sangat salah tingkah. Kedipan nakalnya benar-benar mengusik isi kepala Nindya. "Ngomong-ngomong … kamu pas memilih size pengamannya! Aku senang kamu masih ingat ukuranku!"


Nindya mengerang dengan wajah panas, dia tadi asal saja nyomot pengaman itu tanpa memperhatikan sizenya. Nyatanya membaca ribuan buku dan mendapatkan gelar Magister Teknik tidak membuat Nindya jadi pandai hari ini. Nindya merasa bodoh dan mudah dikerjai Elang habis-habisan.


Nindya baru ingat, untuk apa dia berniat membeli sekotak pengaman kalau dari pagi dia sudah pura-pura datang bulan? Tidur di kamar Elang sampai seminggu ke depan pun dia aman. Elang tidak akan menyentuh sampai bagian terdalam tubuhnya.


Paling jauh juga petting. What? Nindya mengusap wajahnya yang mendadak kaku. Tak menyangka, mengulas senyum natural jadi begitu sulit saat otaknya dihinggapi kemesuman. Kalimatnya hampir tak terdengar saat bicara, "Sialan kamu El! Aku itu baru tau kalau lateks ada ukuran dan rasanya."


Elang menaikkan dagu Nindya agar menatapnya. "Karena sekarang sudah tau, jadi apa yang kamu pikirkan tentang kita? Kenapa wajahmu jadi aneh begitu?"


"Tidak ada! Tetap seperti sebelumnya, kamu mahasiswa dan aku dosen pembimbingmu!" jawab Nindya sadis, keras kepala dan tak berperasaan. Meski sebenarnya dia ingin bersembunyi di balik rak dan tidak menjawab pertanyaan konyol Elang.


Senyum Elang tersungging manis menanggapi ungkapan sarkas dosennya. "Ya, ya aku mengerti, itu penegasan kalau aku hanya mahasiswa bagimu, tapi itu nggak selamanya! Bagaimana kalau kita makan ice cream saja buat mendinginkan kepala sebelum pulang?"


"No! Aku sedang tidak berselera dengan es cream! Kita langsung pulang saja setelah ini," tolak Nindya halus. "Aku lelah!"


"Oh baiklah, mungkin kamu sedang berselera dengan hal lain yang lebih menantang." Elang tergelak meledek Nindya, mengedikkan kepala ke arah tiga kotak pengaman yang tercecer tak beraturan di dalam kereta belanja. "Aku akan memijatmu lebih dulu nanti!"


Astaga El!


***