
Nindya reflek menyambar ponselnya dan menjauh dari Elang. Dengan gusar dia menerima panggilan dari Daniel. "Iya halo! Iya, aku tadi chat kamu, nggak bisa lewat telepon … aku butuh ketemu, aku mau ngomong langsung. Kapan kamu pulang?"
Detik berikutnya Nindya menekan tombol merah, mematikan panggilan secara sepihak seperti yang dilakukan Elang. Daniel sama sekali tidak memiliki prioritas untuk kepentingannya.
"Aku pulang sekarang!" pamit Nindya. Moodnya memburuk mendengar tunangannya tidak bisa memastikan kapan bisa pulang dan menemuinya.
Awalnya Nindya ingin bicara lewat telepon, tapi bertemu dan membahas kelanjutan hubungan mereka secara langsung dirasa lebih bijak. Nindya ingin jujur mengenai perasaannya, mengenai kondisinya, juga mengenai kesalahannya yang tidak sengaja terjebak di tenda bersama Elang. Jika memungkinkan!
"Aku akan mengantarmu!"
"Tidak, aku mau pulang sendiri!" ucap Nindya keras kepala.
Elang tidak menggubris penolakan Nindya, dengan sigap dia sudah membawakan barang-barang Nindya dan meraih kunci mobil lebih cepat dari perkiraan Nindya. "Kamu tidak bisa menolak kebaikanku!"
"Kamu mau mengantarku dengan celana pendek begitu?" tanya Nindya ragu-ragu, sejurus yang lalu matanya menatap sesuatu di bawah perut Elang yang masih tampak menonjol.
Elang cengengesan sembari memeriksa bagian yang dilihat Nindya, "Ini baru ganti, apa ada yang salah dengan celanaku?"
Nindya mengerang, Elang sudah cukup biasa dengan penampilannya. Mungkin otak Nindya saja yang tidak mau berpaling dari 'bagian paling penting' tubuh Elang. "Ohya? Hm … menurutmu apa tidak menjengkelkan ketika pria selalu bertindak egois dan semaunya tanpa minta persetujuan wanita terlebih dulu? Seperti yang selalu kamu lakukan!"
"Karena memang begitulah cara alam ini bekerja. Pria memimpin dan wanita mengikuti," jawab Elang santai. Terdengar masuk akal atau tidak bagi Nindya, Elang tidak peduli, karena memang begtulah dirinya. Orang menyebut seenaknya, tapi bagi Elang itu adalah prinsip hidup.
"Kamu merendahkan kemampuan kaum wanita! Menganggap wanita tidak setara, tidak menghargai pencetus emansipasi wanita! Aku menolak diantar pulang karena aku bisa melakukan hal itu sendiri!" Nindya melipat tangan di depan dada ketika Elang mengedikkan kepala ke arah pintu keluar.
"Jadi kamu memilih opsi lain? Baik, aku akan menguncimu di kamar ini sampai besok pagi?" Mata Elang memaku Nindya tanpa berkedip.
"Bre*gsek!" Nindya menghentakkan kaki dan menatap Elang dengan ekspresi kesal yang tak terbilang jumlahnya. Memaki lagi sebelum melangkahkan kaki keluar kamar Elang. "Aku tidak mau langsung pulang, aku mau cari hiburan!"
Nindya mengutuk dirinya sendiri, belum pernah sekalipun terpikir olehnya untuk keluyuran malam. Membuang waktu percuma di luar rumah tanpa alasan yang jelas bukanlah gayanya.
"Kamu mau ke diskotik? Aku bisa menemani mabuk, dengan senang hati," sindir Elang sarkas.
"Ti-tidak! Aku hanya ingin menyendiri … ya aku rasa aku butuh sendiri. Kepalaku pusing!"
"Mau ke Kaliurang?" usul Elang santai.
Nindya menggeleng keras, "Tidak, terlalu dingin."
"Parangtritis? Di sana juga terlalu berangin, kamu sedang kurang sehat, bisa makin masuk angin!"
"Trus kemana?"
"Kita makan di Monjali (Monumen Jogja Kembali) aja gimana? Ada tempat asik buat nongkrong! Atau mau bakar jagung?"
"Terserah deh, males mikir udah!"
Elang merangkul bahu Nindya dan mengecup puncak kepalanya. "Kamu nggak akan kesepian, Manisku! Aku janji!"
Nindya mendongak memastikan ekspresi Elang tidak main-main ketika mengucapkan janjinya. "Entah kenapa aku sulit percaya! Mulut buaya selalu saja pandai berkata-kata." Setelah menjawab sinis, Nindya masuk ke dalam mobil. Satu garis senyum samar tercetak di wajahnya.
"Kamu masih cemburu sama telepon Vivian?" tanya Elang dalam gelak tawa ketika menyusul Nindya masuk ke dalam mobil.
"Nggak usah ge-er! Aku cuma nggak suka aja kamu dekat-dekat sama cewek manja kayak dia!"
"Jadi cewek yang kamu suka yang seperti apa? Yang cocok sama aku."
Nindya melirik ke arah Elang yang sedang fokus mengemudi, menimbang sebentar sebelum menjawab pelan. "Yang lembut seperti Mayra!"
"Hm kamu nggak kasihan cewek lembut seperti Mayra rusak karena aku?"
"El, aku sudah bilang … orang bisa berubah, begitu juga kamu!"
"Kenapa kamu ingin aku berubah? Aku bukan siapa-siapa untukmu, right? Lagi pula kalau kamu aja malas punya hubungan serius sama aku, apalagi Mayra?!"
"El … aku rasa Mayra menyukaimu! Dia sangat baik dan perhatian, setidaknya itu yang aku lihat saat kalian ada di laboratorium!"
"Kamu nggak menyukaiku?"
"Aku sedang membahas Mayra!"
"Aku sudah tau dari dulu kalau Mayra menyukaiku. Sekarang jawab pertanyaanku!"
"Aku tidak menyukaimu!"
"Kamu tidak akan menolakku selamanya," kata Elang serius.
"Jangan terlalu percaya diri!"
"Baiklah Bu Dosen, anda memang pembohong ulung! Anggap saja aku percaya bualanmu itu, meski aku tau matamu bicara dengan penuh gairah. Kamu boleh menipu dirimu sendiri dengan tidak berani mengakui kalau kamu menginginkanku, tapi fakta berbicara lebih dulu daripada kata-kata."
Nindya menoleh ke arah Elang, menatap dengan bibir mengerucut. "Apa kamu sedang menganggapku sebagai tuna susila karena sudah menginginkanmu di atas ranjang tanpa melibatkan perasaan?"
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" Elang membela diri.
"Apa kamu tidak berpikir kata-kata orang lain saat tau hubungan aneh kita heh? Kamu yang tidak paham dengan situasi rumit ini, El! Ini bukan sekedar urusan menyukaimu atau tidak!"
"Aku tidak sepertimu, aku tidak peduli penilaian orang lain tentangku, tentang hubungan kita! Aku berusaha bertanggung jawab penuh atas kerumitan yang sudah aku sebabkan, kamu bisa mengikatku dengan pernikahan untuk menghentikan semua tabiat tidak baikku pada Vivian atau Mayra atau lainnya!"
Nindya tertegun, tentu saja Elang bisa berkata demikian karena Elang anak muda yang tidak memiliki pemikiran panjang ke depan. Hubungan mahasiswa dengan dosen bagi Elang mungkin biasa, tapi Nindya memiliki pola pikir yang berbeda. Elang bisa tidak peduli sekitar karena dia … mapala?
Nindya memijat kepalanya, 'aku memang menginginkanmu, El!' Namun, sederet kata itu hanya ada di dalam hatinya.
"Tiba-tiba aku tidak selera makan, El! Kita pulang saja!"
***