Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Love You



Sudah satu jam Nindya dan Elang di rumah Pak Ronald, selain mengobrol mengenai suka duka kehidupan rumah tangga beliau, tidak ada lagi hal penting yang dibahas. Tidak menyinggung sedikitpun soal akademik.


Melihat Elang tidak nyaman dengan isi obrolan, Nindya berinisiatif segera undur diri dari rumah Pak Ronald. Nindya juga lelah, sesi mengajar maraton membuat kakinya serasa mau patah.


Elang mengusap kepala Nindya yang sedang memejamkan mata di mobil. Dosen pembimbingnya memaksa tetap tersenyum meski wajahnya mengisyaratkan kelelahan. "Capek sekali ya?"


"Hm sangat, pingin rebahan … thanks ya, El!"


"Untuk?"


"Mau nemenin memenuhi undangan istri ketua jurusan, kedua … untuk pertanyaan barusan!"


Tawa Elang ringan, "Kamu cantik hari ini, harusnya penampilanmu seperti itu setiap hari. Lebih cantik lagi karena banyak tersenyum."


"Bukan jamnya gombal ini, El! Aku beneran lelah dan ingin tidur."


"Aku tidak akan mengganggu, tidurlah! Aku bangunin kalau sampai rumah." Elang melepas belaian pada rambut Nindya yang mungkin membuat Nindya tidak nyaman.


"Oke, sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"


"Hm, apa itu?" tanya Elang penasaran, wajahnya seketika menoleh pada Nindya yang masih memejamkan mata di sampingnya.


"Kamu … tampan!" Nindya terkikik mendengar kata-katanya sendiri. Dia mengakui Elang lebih maskulin dengan penampilannya yang tidak berlebihan, mungkin karena rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya.


"Oh, kamu mengejek karena tampilanku yang serampangan untuk acara makan malam tadi?"


"Aku tulus memuji." Nindya menggeleng keras. Penampilan serampangan ala Elang bahkan bisa mempesona wanita yang menyatakan dirinya hidup selibat.


"Tapi kamu mengatakannya sambil tertawa," protes Elang.


"Penampilanmu seperti mau melamar seseorang, El!" kata Nindya masih menahan senyumnya.


"Aku janji akan lebih tampan saat melamarmu, mungkin harus memangkas rambut sedikit. Ayahku selalu berisik soal rambutku, dan ya aku yakin beliau tidak keberatan punya cucu darimu." Elang bicara serius dengan nada diplomatis.


Nindya tertawa, mengabaikan keseriusan Elang yang sedang menggila. "Kamu pandai menyenangkan perempuan, El! Penuh kata-kata manis."


"Ayah pasti akan datang ke rumahmu dan meminta dengan hormat pada ibumu untuk memberikan putrinya padaku. Jadi maukah kamu menikah denganku, Nindya sayang?" Elang mengulum senyum jahilnya.


"Bagaimana jika aku menolak menikah denganmu?"


"Aku akan tetap mendapatkanmu, semahal apapun harga yang harus kubayar."


Nindya kurang menyukai ada kata harga dalam kalimat Elang. Meski tak mengindikasikan kalau dia adalah hewan ternak yang sedang dijual, tapi satu kata itu seperti menempatkan dirinya sebagai perempuan bayaran yang arogan.


"Daniel akan mencegahnya! Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Nindya menanggapi santai.


"Sepertinya berkenalan dengan ayahmu bagus juga, setidaknya aku tau siapa yang menurunkan sifat flamboyan ini padamu," sahut Nindya masih dengan tawanya. Dia tidak lagi terlalu senewen menghadapi Elang dengan berbagai jenis godaan dan rayuan mautnya.


Tak disangka Elang sudah menghentikan mobil di depan rumah dosennya, dan Nindya tidak jadi tidur karena asyik mengobrol. Elang mematikan mesin mobil, tapi tidak membiarkan Nindya turun. Elang menggenggam tangan Nindya dan bicara serius, "Ikutlah ke acara arisan keluarga besok."


Nindya menatap Elang intens sebelum menjawab, "Mungkin lain kali, aku besok harus pulang ke Semarang setelah mengajar. Ada acara nikahan sepupu."


Ada nada getir dalam suara Nindya, dan Elang tau itu. Mungkin karena Nindya sudah cukup berumur untuk menikah. Bisa jadi acara saudaranya menjadi beban pikiran Nindya, hanya itu yang bisa dipikirkan Elang.


"Jadi kamu akan segera menyusul sepupumu? Segera menikah dengan Daniel?"


Nindya tersenyum masam, "Entahlah, harusnya enam bulan lagi kalau tidak ada halangan."


Elang terkekeh, "Kenapa aku merasa jadi halang rintang di sini?"


Nindya membenarkan. Elang akan terus menjadi masalah selama dia tidak memberikan bukti akurat kalau dia negatif hamil. Hanya saja lima testpack yang dipakainya pagi tadi sama sekali tidak membantunya hari ini.


Namun, itu tidak mengendurkan semangat Nindya dalam melaksanakan metode trial and error untuk kasus yang sedang terjadi pada tubuhnya. Nindya sedang menunggu sebuah kesalahan dari uji coba alat tes kehamilan setiap pagi. Jadi dia hanya perlu melakukan tes lebih banyak dan lebih sabar.


Satu dari sekian jumlah alat tes kehamilan yang digunakannya pasti akan ada yang menunjukkan kesalahan seperti keinginannya. Dan itulah yang akan diberikan pada Elang sebagai bukti.


"Karena kamu tidak percaya padaku," jawab Nindya datar.


"Hei … kenapa wajahmu jadi sedih?" Elang menarik tangan Nindya dan menciumnya perlahan. Sorot mata dengan luka itu spontan menundukkan ego Elang.


"Itu bukan sedih, El! Gimana sih rasanya tidak dipercaya? Kamu pasti pernah ngalamin hal seperti itu!"


Elang mendekatkan wajahnya hingga sejengkal di depan Nindya, "Ya, aku memang punya penyakit sulit percaya orang. Kamu pasti kesal dan bosan karena aku selalu ada di sekitarmu. Daripada menjadi pelindung, aku pasti lebih mirip sebagai teror."


Nindya tertawa kering, "Kamu sadar penuh ya kalau kamu itu kadang menjengkelkan?"


"Kamu memahamiku dengan baik, tapi kamu nggak boleh bosan dulu karena aku akan selalu menghantuimu beberapa waktu ke depan. Sekarang bisakah aku minta maaf dengan layak!" Elang mendekatkan wajahnya hingga hampir menempel.


Nindya terkikik meski degup jantungnya meningkat pesat. Sedikit atau banyak, sentuhan Elang selalu mampu membuatnya berdesir. Ini ciuman Elang yang kesekian kali, tapi entah kenapa rasanya sama dengan yang pertama. Mendebarkan dan tetap membuat Nindya panik.


"One kiss?" tanya Nindya polos. Lalu melengkapi pertanyaannya dengan senyuman. Senyum manis yang jarang sekali muncul. Padahal jika ditelisik, Nindya termasuk pemilik senyum yang bisa membuat pria meleleh.


"Satu di sini, sisanya di dalam ya?" Elang melanjutkan dengan kecupan ringan, menggoda dengan sedikit gigitan sebelum mengusap bibir bawah Nindya dengan ibu jarinya. "I love you, Bu Dosen!"


Hah apa, El?


***