Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Makna Ganda



Saat mapala jatuh cinta, maka mereka akan sangat jatuh cinta. Mungkin itu hanya bualan konyol yang katanya tidak mungkin ada di lingkup para mahasiswa pecinta alam. Bagaimana bisa sekumpulan badboy membicarakan cinta yang sebenarnya, sementara mereka sendiri selalu terlibat dengan beberapa wanita sekaligus dalam satu periode pacaran?


Seperti tabiat Elang yang tidak pernah setia pada satu wanita, tidak terlalu memperhatikan dan peduli pada mereka yang hanya berstatus pacar sementara untuknya. Elang mudah bosan, dan ketimbang memutuskan hubungan, dia lebih baik menduakan mereka.


Hukum alam, wanita tidak suka diduakan apalagi ditigakan. Mereka akan mundur dan pergi dari kehidupan Elang dengan inisiatif pribadi. Mereka tidak akan tahan dengan playboy yang tidak bisa dipegang apalagi dikekang.


Sebelumnya, Elang juga tidak pernah mengalah dan tidak terlalu pemaaf pada wanita meski dia penyayang. Tapi Nindya sepertinya akan segera menjadi pengecualian. Entahlah, mungkin karena Elang merasa ada tanggung jawab yang belum selesai atau karena Elang sudah mulai jatuh cinta pada dosennya.


Elang menunduk dan membiarkan Nindya mengecup pipinya sebagai bentuk permintaan maaf.


"Aku minta maaf sudah bicara kasar!" Nindya mengusap pipi Elang setelah menciumnya.


"Sudahlah, aku tidak masalah!"


Pelukan yang tidak dilepaskan, tangan kecil yang menempel di dada dan berpegangan pada kaosnya membuat Elang melupakan marahnya. Elang mengusap kepala Nindya yang bersandar di dadanya, berusaha mengerti emosi Nindya yang meledak-ledak seperti harimau kelaparan, mungkin disebabkan oleh hormon estrogen yang berlebihan, hingga suasana hatinya tidak menentu.


Nindya menebak, kalimatnya yang menyatakan tidak mungkin berpaling dari Daniel pasti menyakiti pemuda yang sedang dipeluknya. Nindya hanya anti-playboy, tapi bukan berarti dia tidak menyukai Elang.


Nindya juga tidak bermaksud merendahkan Elang atau menganggap Daniel lebih berkualitas daripada Elang. Karena faktanya Nindya banyak tertawa dan lebih menikmati hidup saat bersama mahasiswa bimbingannya itu.


"Apa buktinya kalau kamu udah nggak marah?" pancing Nindya iseng. Bukankah pelukan dan belaian di rambutnya sudah menunjukkan kalau Elang sudah kembali seperti semula.


"Kamu akan balik marah kalau aku membuktikannya!" jawab Elang kalem. Khas dengan nada menggodanya yang jahil.


"Nggak … aku nggak bakal marah!"


Elang merenggangkan tubuh Nindya, menyoroti mata yang sedang menatapnya serius. Elang menaikkan satu alisnya dan tersenyum menawan, "Aku yakin kamu pasti akan marah!"


"Aku janji nggak akan marah!"


"Beneran?" Dengan gaya jenaka Elang menatap bibir Nindya terus-menerus tanpa melakukan apa-apa. Bibir yang selalu mengundang untuk disesap lagi, lagi dan lagi.


Ah … Elang ingat bagaimana dia selalu menikmati saat-saat berciuman dengan dosennya ini, bagaimana Nindya meresponnya dengan terbuka meski Elang cenderung memaksa, dan bagaimana Nindya juga memiliki gairah yang sama besar dengan dirinya meski ditutupi dengan keangkuhan dan rasa malu.


"Berhenti … berhenti memperhatikanku dengan cara seperti itu!"


"Apa?"


"Apa yang salah? Bibirku kenapa … kenapa melihatnya seperti … seperti?" tanya Nindya gelagapan, ada desiran menjalar dalam tubuhnya hanya ditatap dengan panas seperti itu.


"Hentikan, El!" Nindya mendorong dada Elang dengan wajah merona.


"Kamu sudah janji nggak akan marah, dan yang memulai bukan aku! Kamu sengaja menggodaku dengan ciuman di pipi. Caramu menyelesaikan perselisihan dengan kaum pria sangat menarik, dan aku tertantang untuk melanjutkannya!"


"Aku tidak menggodamu, kamu yang menyerangku duluan di tenda beberapa waktu lalu!"


Elang tergelak, tatapannya turun ke bawah leher Nindya. "Kuakui itu memang salahku, tapi seharusnya kamu tidak men*esah di bawahku jika tidak menikmatinya! Dan sekarang kamu sedang kelebihan hormon, puncak dadamu menegang!"


Nindya menunduk dengan panik, memperhatikan sweater hangatnya dengan perasaan cemas. Dia memakai bra dan juga kaos di dalamnya. Tidak mungkin ujung dadanya tercetak di baju meskipun sedang mengeras.


"Tidak sama sekali … aku tidak sedang bergairah!" Nindya menatap geram saat menemukan Elang sebenarnya tidak melihat apa-apa di dadanya.


"Mungkin aku salah!" ujar Elang santai.


"Mungkin otakmu tidak di kepala, tapi ada di pangkal paha!" sahut Nindya jengkel karena Elang senyum-senyum mengejeknya.


"Itu pasti!"


"Astaga, El! Kamu nyebelin banget sih!"


"Ya … itu juga salah satu pesona yang disukai wanita dariku!"


Nindya menutup mulutnya dengan tangan, setelah itu menggigit lengan Elang dengan gemas. Nindya kembali memeluk erat dan menyandarkan kepalanya di dada mahasiswa nakalnya. "Kamu benar, El! Sepertinya aku juga menyukai pria menyebalkan daripada pria manis yang selalu menjaga kesopanan!"


"Jadi apa aku berhak mendapatkan kissing di sini? Kamu bilang suka sama aku loh barusan!" Elang tertawa licik sembari menunjuk bibirnya.


Nindya menimbang sebentar, "Hm … oke deal!"


"Bagaimana jika lebih?" Bukan apa, Elang sering bernafsu secara tiba-tiba, dan keinginannya yang menggebu-gebu pada Nindya jauh lebih besar dari sekedar nafsu, hal itu bisa membuat keadaan jadi semakin sulit untuk dikendalikan nanti jika Nindya yang memulai.


Perut Nindya seketika mulas merasakan desiran dan gairahnya yang mulai menggeliat. Elang hanya mengusap rambutnya dan memainkan di sela-sela jari sembari menunggu jawabannya, tapi hal itu seperti obat perangsang alami yang membakar sekujur tubuh Nindya.


Haruskah dia menyetujui permintaan Elang yang ambigu? Lebih dari kissing memiliki makna bermacam-macam, dari light sampai heavy petting, dari fingering sampai yah … making!


***