
Nindya duduk termenung dengan kepala tak kalah pusing, tangannya terulur menerima sereal dari Elang. "Kamu mau kemana?"
"Saya tidak kemana-mana, berjaga di luar tenda," jawab Elang lembut.
"Sepertinya aku butuh udara segar! Aku mau duduk di luar juga!"
"Tapi tidak enak dilihat orang kalau ibu juga ikut duduk di luar," tolak Elang halus. Dia tidak mau kepergok Vivian yang ada di tenda sebelah saat berduaan dengan dosen pembimbingnya. Ups … entahlah!
"Di dalam tenda sendirian lebih berbahaya, apalagi kamu tidak jauh dari tempat saya tidur! Otakmu sedang setengah sinting, dan aku takut yang tadi itu kamu ulangi lagi!" gerutu Nindya dengan wajah cemberut.
Elang menahan gerakan Nindya, "Tetap di sini dan segera istirahat, besok arung sungai akan melelahkan. Butuh kondisi sehat untuk rafting selama tiga jam! Apalagi ibu baru saja ehm ehm sama saya dan kehilangan keperawanan!"
"Apa? Jangan ngacau kamu, tidak ada orang kehilangan keperawanan jatuh sakit dan kejang-kejang, Elang! Yang ada jatuh enak, makanya malam pertama diulang setiap hari bagi yang sudah menikah," sindir Nindya penuh sarkasme.
"Kalau memang jatuh enak … apa mungkin yang tadi itu terulang lagi? Apa artinya ibu mengizinkan saya untuk ehm …?" tanya Elang dalam gumaman untuk dirinya sendiri.
"Hah, apa katamu barusan? Kamu bahkan belum menikah tapi sudah mahir melakukan 'hal itu'. Jangan ngimpi bisa terulang lagi, El! Gila apa?"
"Katanya tadi enak? Lagian saya laki-laki normal, Bu! Saya juga udah dewasa, lagian kalau cuma mimpi bisa mengulangi, apa salahnya?" sungut Elang membela diri.
"Jadi kalau saya sampai hamil karena kamu, itu salah siapa?" Nindya mengancam dengan tatapan bengis.
"Salah Bu Nindya sendiri kenapa tidur di tenda saya tanpa suara, saya udah coba bangunkan loh tadi." Elang menutup telinganya, tidak bersedia mendengarkan apa-apa lagi dari mulut Nindya. Dia memilih beringsut keluar tenda, "Saya ada di depan!"
Elang merapatkan resleting tenda yang ditempati Nindya dari luar, duduk diam lalu mulai menyalakan rokok, menghisap dalam gundah. Elang membuat susu lagi setelah serealnya habis untuk mengikis kekalutan.
Pikiran Elang runyam, antara takut harus bertanggung jawab atau justru menghindar agar tidak bertemu lagi dengan dosennya itu. Antara membiarkan Nindya memiliki kemungkinan untuk hamil, atau segera memberikan obat penangkalnya.
Menikah muda itu sama sekali bukan cita-cita Elang, apalagi menjadi ayah di usia 22 tahun!
Satu jam berikutnya, mata Elang mulai sayu, mengantuk karena perut kenyang. Juga karena ketegangannya sudah dilepaskan.
Dalam hati dia berharap bisa bangun pagi dan lebih bugar saat membawa mahasiswa baru mengarungi sungai dengan perahu.
Pemuda berwajah kusut itu melipat tubuh agar tidak terlalu merasakan dingin dan menutupi wajah dengan topi rimba agar terlelap lebih cepat. Tak lama, dengkur halus sudah keluar dari mulut Elang.
"Elang! El, ngapain kamu tidur di sini?" Satu suara membangunkan Elang yang baru saja memulai mimpi indahnya.
"Oh, Arga? Ada Bu Nindya di dalam tenda. Ryan sialan itu ngasih tenda kita buat tamu lain karena istri ketua jurusan nggak datang." Elang menjelaskan singkat sambil menguap lebar. Matanya menyipit saat cahaya senter Arga menerpa wajahnya.
"Kenapa Bu Nindya nggak tidur sama tunangannya saja daripada tidur sendiri-sendiri." Arga bicara spontan dan cengengesan.
"Kok kamu tau kalau dia datang sama tunangannya? Gila, mulutmu kalau ngomong jangan sembarangan, mana bau banget lagi!" kata Elang yang tau pasti kalau temannya itu dalam keadaan lebih mabuk darinya.
"Aku yang nyambut kedatangan mereka dan ngasih tenda pak puket ke tunangan dosenmu itu! Nggak mungkin kajur, puket dan tunangan Bu Nindya ada dalam satu tenda, masa iya petinggi mau dikasih satu tenda isi tiga. Terpaksa aku ngalah ngasih tenda kita buat Bu Nindya. Kamunya sibuk sama Vivian terus makanya ketinggalan berita. Dah ah aku mau tidur sama anak-anak kalau gitu! Ayo ikut sekalian daripada membeku di sini!" ajak Arga menatap Elang dengan ekspresi kasihan.
"Udah males jalan, pusing! Lagian kalau ada yang masuk tenda ini gimana? Dikira kita ada di dalam? Salah besar kita nanti. Aku yakin yang ketinggalan berita bukan cuma aku saja!" Elang membuat alasan tepat.
"Em iya juga … eh ya tenda sebelah kanan Vivian kan El? Nggak beraksi? Siapa tau doi butuh kehangatan di malam dingin begini, lumayan satu celup dua celup," goda Arga tertawa ringan. Bau alkohol dari mulut menandakan kalau Arga juga sudah tidak jernih pikirannya, mulai kotor dan mesum.
"Minggir sana! Jangan bikin masalah di sini, garap ntar aja kalau udah mulai kuliah reguler!" usir Elang kesal.
"Baiklah rivalku, aku tidak takut tantangan!" bisik Arga geli. Otaknya sudah berkelana memikirkan paha Vivian yang putih mulus seperti paha Syahreni.
Elang kembali meringkuk memeluk lututnya ketika Arga pergi menjauh menuju tenda panitia. Udara terbuka di malam hari terlalu dingin untuk tidur tanpa memakai sleeping bag. Gigi geraham Elang bahkan sesekali terdengar bergemeretak karena menggigil.
"Sial," gerutu Elang di sela-sela tidurnya yang tak nyenyak. "Mimpi apa aku tadi bisa sampai salah paha? Mana paha perawan, mana tunangan orang. Mati aku!"
***