
Nindya larut dalam kegilaan. Ingkar dengan statusnya sebagai dosen pembimbing Elang. Lupa kalau yang sedang mencumbunya sekarang adalah mahasiswanya sendiri.
Dosen cantik itu bahkan tidak ingat dengan tunangan konservatifnya, tunangan yang tidak pernah membuatnya mengerang nikmat seperti apa yang sedang Elang lakukan.
Daniel terlalu sopan dan formal, dewasa di usia hampir tiga puluh tahun. Selalu memperlakukan Nindya dengan lembut dan hanya memberikan ciuman kecil saat mereka bersama. Ciuman di kening dan pelukan sekedarnya untuk menunjukkan kedekatan.
Tunangan Nindya itu memang tidak bisa dibandingkan dengan Elang, dia menjaga Nindya yang keras kepala dengan baik, dengan tidak menyentuh terlalu banyak sebelum mereka menikah. Daniel lebih menghargai sikap-sikap Nindya yang cenderung tidak menyukai laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita seperti ayahnya. Daniel tampil manis agar Nindya merasa tidak sebagai obyek bagi hormon lelakinya.
Nindya terengah dengan pipi memerah, ingatannya tentang Daniel terhapus perlahan seiring dengan kebangkitan kebutuhan primitifnya. Nindya terbawa arus gairahnya. Dia menginginkan Elang, hingga Nindya sama sekali tidak keberatan Elang membuka satu demi satu kancing baju tidurnya.
Bahkan ketika Elang tiba-tiba berhenti dan hanya menatap penuh minat pada dua bukitnya, Nindya justru tidak terima. Dia sudah terbakar dan berada dalam situasi sulit. Nindya hanya wanita biasa dan Elang sudah membuatnya mabuk dengan segala tindakan nakalnya.
"Jangan berhenti!" Nindya merasa seperti ****** saat mengucapkan itu. Dia sungguh tidak percaya dengan mulut dan telinganya sendiri.
Hal itu terjadi karena Nindya tau Elang pasti akan berhenti jika dia tidak meminta, sesuai dengan janji yang pernah diucapkan Elang padanya. Elang memang brengsek, sengaja menempatkan Nindya dalam kondisi paling memalukan, memohon untuk disentuh lebih jauh demi meredakan hasratnya.
Elang mengubah posisi, menyelipkan kedua tangan di bawah tubuh Nindya dan mengangkatnya seperti seorang putri. Nindya spontan memeluk leher Elang lebih erat seraya menatap wajah Elang dengan jantung nyaris meledak. Elang membawanya ke kamar dengan gaya paling romantis yang tidak pernah dibayangkannya.
Di atas ranjang, Nindya pasrah saat Elang mengungkungnya dan kembali mencium lebih lembut dari sebelumnya. "Sayang, kamu sedang sakit …."
Nindya bergidik, Elang memanggil namanya dengan mesra seperti seorang kekasih. Melebihi tunangannya yang kadang masih saja kaku saat ingin berbuat romantis. Diam-diam Nindya menyukai panggilan tersebut. Ya ampun!
Elang sendiri bingung dengan dirinya. Reaksi Nindya yang berubah seketika membuatnya curiga, Nindya terlalu aneh dengan permintaannya. Elang masih kurang percaya pada wanita galak yang terus menolaknya mendadak pasrah di bawah himpitannya.
Nindya mendesakkan tubuhnya lebih rapat, membusungkan dadanya yang terbuka dengan berani. Elang dalam dilema. Hati kecilnya tidak menolak godaan Nindya, tapi pikirannya jernih mengatakan kalau Nindya sedang tidak sehat, dan tidak seharusnya Elang menerima ajakan Nindya untuk bercinta.
Elang melepas pagutan, membuat mereka bertatapan lama. "Kenapa berhenti, El?"
"Jika tidak berhenti sekarang, aku pasti kebablasan. Yang di bawah udah terlalu tegang, bahaya kalau dia menuntut pelepasan di sini!"
Rona merah di pipi Nindya semakin tajam. Dia juga menginginkan hal yang sama, sebuah pelepasan yang romantis. Dengan bibir bergetar, Nindya berucap pelan, "Touch me, El!"
"Aku nggak punya pengaman!" bisik Elang dengan mata kelamnya.
"I don't care!"
Elang mengamati wajah Nindya sekali lagi, "Kamu sedang sakit, Nindya!"
"Just do it!" perintah Nindya tanpa beban. Mulai kesal karena Elang kebanyakan alasan. Hah, apa Nindya sudah kehilangan kewarasan?
Elang menempelkan punggung tangannya pada dahi Nindya sembari bertanya, "Apa katamu barusan? Just do it? Kamu serius?"
"Nggak ada rencana mau make love, jadi untuk apa beli?"
"Bukannya kamu seharusnya selalu punya persiapan? Kamu sering melakukan hal seperti itu dengan pacarmu!"
Elang tertawa kecil, "Busyet! Aku bukan maniak! Dengar, aku belum menyentuh siapapun semenjak terakhir bersamamu di tenda! Itu faktanya, terserah kamu mau percaya atau nggak."
"Impossible! Kamu pasti bohong, Vivian setiap hari ke tempatmu. Kalian sarapan pagi bersama! Mustahil kamu tidak melakukan apapun dengannya!" tuduh Nindya sarkas. Kalimat yang langsung disesali karena menunjukkan rasa tidak suka.
Elang enggan menjawab apalagi berdebat dengan Nindya soal Vivian, dia lebih tertarik membahas masalah mereka berdua. "Kamu cemburu sama Vivian?"
"Tidak sama sekali, aku punya tunangan!"
"Lalu kenapa kamu tidak bercinta dengan tunanganmu? Apa alasanmu ingin melakukannya denganku?" Elang menaikkan kedua alisnya tinggi. Tidak setuju dengan sikap Nindya yang dinilai sangat plin-plan.
Nindya tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dan berkecamuk dalam dirinya. Ya, kenapa dia tidak melakukannya dengan Daniel? Bukankah lebih aman karena mereka berencana menikah enam bulan lagi?
"Mungkin karena aku tidak bisa melawanmu, jadi aku pasrah!" ucap Nindya kehabisan alasan logis. "Mungkin juga karena kamu hangat dan menggoda!"
Sh*it! Rasanya Nindya ingin meralat kata 'hangat' menjadi panas jika diperbolehkan. Ya, Elang memang tipe cowok panas bagi Nindya.
Elang tersenyum jengkel mendengar omong kosong Nindya. "Kenapa kamu terus menyembunyikan perasaanmu? Tidak bisakah kamu jujur saja bilang suka?"
"Tidak! Aku tidak menyukaimu!" ucap Nindya tegas.
Lalu kenapa dia ingin bercinta dengan Elang, bukankah ucapan dan tindakannya berbanding terbalik? Kalau hanya untuk mengalihkan rasa penasaran Elang mengenai kehamilannya, atau mendapatkan kepercayaan Elang mengenai perasaannya, Nindya harusnya bisa mencari cara lain. Bukan malah mengajak Elang bercinta.
"Tidak menyukaiku?" Elang menatap skeptis. Bibirnya langsung jatuh ke mulut Nindya dan menghisap perlahan untuk mencari jawaban. Tangannya bekerja tepat menyingkirkan semua pakaian Nindya. Dan dengan seluruh keahliannya Elang mulai mempermainkan tubuh wanitanya, hingga Nindya kelabakan menghadapi gairahnya. "Katakan kalau kamu tidak menyukai ini, Nindya!"
Tidak ada yang didengar Elang selain desa-han, dan tidak butuh waktu lama bagi Nindya untuk terbakar sepenuhnya. Darahnya mengalir lebih cepat dan gelenyar nikmat terasa dari tiap titik sensitif yang dikecup Elang. Nindya merasakan bagian bawahnya semakin berkedut, dan menit berikutnya dia terpuaskan melalui tangan terampil Elang yang bermain di sana.
"Akh … El sayang!" desis Nindya membelalakkan mata merasakan badai kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua pahanya serentak menjepit tangan Elang yang masih berada di antara kelembapannya.
"Hm?" Elang bergumam ringan. Memastikan pendengarannya benar atas panggilan mesra Nindya padanya yang semakin tak terkontrol. Tatapannya tajam menyandera mata Nindya yang masih berkabut gairah. "Mau lagi?"
"El, kenapa kamu belum buka baju?" tanya Nindya salah tingkah. Elang terlanjur membuatnya lepas kendali, jadi apakah salah kalau dia meminta kegiatannya bersama Elang di tenda pinggir sungai tempo hari terulang lagi dengan lebih romantis?
***