
Esoknya, tepat jam sebelas, Elang bertemu Nindya di depan lift, berpapasan dan saling menatap dalam rasa canggung. Malam hangat kemarin seketika melintas di otak keduanya.
Elang tertawa ringan untuk mencairkan keadaan. Dia berniat ke ruangan ketua jurusan untuk menyerahkan laporan bimbingan, sementara Nindya sudah ditunggu Daniel di lantai bawah untuk makan siang bersama.
"Mau kemana?" tanya Elang dengan suara yang hanya bisa didengar Nindya. Dia berhenti untuk bicara sebentar.
Nindya melirik sekitarnya sebelum menjawab dengan suara pelan, "Makan siang."
"Sama Daniel? Berapa lama?"
"El, please!" Nindya mengangkat wajah untuk bertatap mata dengan mahasiswanya yang menunjukkan sikap keberatan.
"Urusan kita belum selesai," kata Elang dingin. "Sebelum semua jelas, aku tidak mau melihat kamu sering-sering bertemu, Daniel!"
Nindya terhenyak. Elang menatap tajam dengan raut mengancam, menuntut dan penuh rasa cemburu. "Jangan memulai keributan di sini, El! Kepalaku sedang pusing."
Mendengar Nindya mengeluh tak urung membuat Elang tak tega. Raut sendu Nindya menurunkan tekanan darah Elang yang hampir melebihi batas. "Oke, jangan lama-lama! Telepon aku kalau sudah selesai!"
Ya ampun, bagaimana bisa mahasiswa nakalnya sekarang merasa lebih memiliki dirinya dari pada sang tunangan? Nindya tidak percaya bahwa kalimat posesif itu keluar dari bibir Elang. Tidak menyangka kalau ungkapan cinta dari Elang berbuntut semakin tidak mengenakkan.
"El, jangan egois!" protes Nindya lirih tapi tegas. Elang tidak boleh mencintainya, tidak boleh! Semua akan berantakan jika Elang terus mengejarnya, bisa jadi Nindya akan luluh dan membalas cinta mahasiswanya itu. Tidak! Belum waktunya, pikir Nindya. Dia langsung membuat keputusan cepat dan sepihak, saat itu juga.
Dengan berat hati, Elang mengangguk mengalah, meninggalkan Nindya tanpa bicara, hanya mengusap singkat pipi Nindya dengan ibu jarinya sebelum menuju ruangan kajur untuk bimbingan. Beruntung tidak ada yang memperhatikan mereka.
Sampai lantai dasar, Nindya tersenyum manis pada tunangannya, mengiringi langkah Daniel keluar area kampus untuk makan siang sesuai rencana.
Seperti biasa, mereka duduk berhadapan di sudut ruangan coffee shop seperti rekan bisnis yang akan menandatangani kontrak kerja. Nindya memesan kopi lebih dahulu sebelum makan.
"Kamu kelihatan tidak sehat," kata Daniel membuka obrolan. "Pucat."
"Aku baik-baik saja, sedikit kelelahan karena ada perubahan jadwal mengajar. Bagaimana keadaanmu?" tanya Nindya segera menghindar.
"Baik juga, seperti biasa banyak yang harus diselesaikan. Aku menyempatkan diri pulang karena kamu, tapi besok subuh aku harus kembali lagi." Daniel menggenggam tangan Nindya yang terletak di atas meja. "Ada apa? Kamu tidak mungkin menyuruhku pulang jika ini bukan hal penting!"
Nindya menatap tunangannya, bingung mau memulai pembicaraan dari mana. "Oh ya? Terima kasih, maaf aku sudah merepotkan."
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan sampai aku harus datang? Kamu tidak sedang memaksa aku ikut pulang ke Semarang untuk menghadiri nikahan sepupu kamu itu, kan?"
"Sama sekali tidak," jawab Nindya menggelengkan kepala. "Bukan itu masalahnya!"
"Jadi … apa ini tentang rencana pernikahan kita? Apa kamu ingin dipercepat? Aku sudah bilang …."
"Niel," ujar Nindya lirih, memutus kalimat Daniel yang mungkin akan panjang dan banyak alasan. "Bisa aku bicara dulu?"
Spontan Daniel tidak melanjutkan kalimat tuduhannya, "Aku akan mendengarkan!"
Nindya menarik nafas panjang, menjeda waktu untuk mengatur hati sebelum selarik kata meluncur pelan dari bibirnya, "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi."
Daniel tertegun, tangannya lebih erat menggenggam jemari Nindya sebelum bertanya. "Kamu ini ngomong apa? Kenapa Nindya? Ada apa sebenarnya?"
"Tapi apa alasannya, Nindya?" tanya Daniel gusar. Tidak ada angin tidak ada badai mendadak Nindya memutuskan pertunangan. "Kenapa kamu mendadak berubah?"
Nindya bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan malahan. Cukup mengejutkan ketika tiba-tiba Nindya minta hubungan mereka berakhir tanpa ada hal jelas yang menjadi alasan.
Selama ini, Nindya dinilai Daniel sangat pengertian dengan kesibukannya, dengan langkah masa depan yang sedang ditata untuk mereka berdua. Tanpa keluhan, tanpa tuntutan, Nindya selalu mendampingi Daniel dengan banyak dukungan.
"Sesuatu sedang terjadi padaku, Niel! Aku sudah membuat kesalahan fatal," kata Nindya tegar meski rautnya tampak lebih sendu dan pucat.
"Iya tapi apa? Aku juga sering membuat kesalahan dan kamu selalu memaafkan. Tidak adil kalau aku tidak berlaku demikian sama kamu, Nindya. Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi? Seseorang melamarmu? Atau ibumu berubah pikiran dan tidak mau menunggu lagi sampai aku menikahimu tahun depan?"
"Bukan itu …." Nindya berbicara lirih, menatap keluar sebentar sebelum kembali fokus pada mata Daniel yang menyanderanya karena penasaran.
"Bicaralah Nindya! Kita sudah bersama selama ini, kamu tau aku siapa bagimu. Aku bukan orang yang tidak bisa memaafkan sebuah kesalahan, ceritakan yang sebenarnya! Apa yang jadi masalah kita hingga harus bubar?"
Nindya menarik nafas sebentar dan menatap lekat mata Daniel, "Kita tidak bisa melanjutkan pertunangan ini karena …."
"Karena kamu tidak lagi mencintaiku," lanjut Daniel hati-hati.
Sorot mata Nindya berbeda saat menatapnya, tidak lagi penuh harap dan antusias seperti sebelumnya. Mata Nindya terlalu datar, menyembunyikan luka dan kebimbangan yang luar biasa, Daniel menebak ada perubahan rasa dalam hubungan mereka. Nindya mungkin jenuh dan mulai bosan padanya. "Benarkah seperti itu, Nindya?"
"Aku hamil," jawab Nindya dengan suara seperti orang menahan tangisan.
Lengang. Daniel terpaku menatap Nindya. Wajah cantik di depannya mulai berbaur dengan setetes air mata yang mengalir pelan ke pipi. Belum ada kata yang terucap untuk mengungkapkan rasa kaget, marah, cemburu ataupun benci karena terkhianati.
"Jangan bercanda, Sayang!" Daniel bicara dengan suara serak.
Nindya tidak mungkin hamil, Nindya setia padanya, Nindya bukan jenis wanita yang bisa membagi cinta, Nindya yang dikenalnya adalah sosok pendiam yang sangat menghormati komitmen mereka.
Nindya mengeluarkan amplop berisi testpack bergaris dua dengan jumlah lebih dari lima belas biji. "Maafkan aku, Daniel!"
Dengan segera Daniel membuka amplop, kemudian tercengang. Nindya tidak mungkin memberikan bukti mainan atau sedang iseng mengerjainya. Wajah Nindya sangat serius, sedih dan penuh penyesalan saat memberinya kejutan sekaligus meminta maaf.
Satu tangan Daniel mengambil alat tes kehamilan tersebut, memandangnya dengan nanar dan juga tidak percaya. Kepalanya menggeleng berat mendapati fakta menyesakkan di depan mata.
"Bagaimana bisa, Nindya? Apa kamu menjalin hubungan dengan orang lain di belakangku? Setega itukah kamu sama aku? Aku masih tidak percaya kamu bisa melakukan hal tidak terhormat seperti itu, Nindya!" Daniel mengeratkan genggaman, menuntut Nindya memberikan penjelasan yang bisa diterima akal.
"Aku tidak seperti itu, Daniel! Aku sama sekali tidak berkhianat. Semua terjadi tanpa disengaja, aku salah mengenalimu …." Nindya mulai bercerita kejadian di dalam tenda saat malam keakraban tanpa menyebutkan nama mahasiswa yang juga salah sasaran karena menganggap dirinya Vivian, dengan mata berair dan suara tertahan.
"Gugurkan kandunganmu! Aku akan mengantarmu ke rumah sakit dan mengurus semua prosedurnya!" perintah Daniel pada Nindya setelah mereka berbicara hampir dua jam, penuh debat dan drama.
***
...Ada yang mau dukung Nindya sama Daniel? Tap 'like' dkk-nya setelah baca! Kalau itu sulit dan memberatkan, cukup tap jempol aja di jidat Elang! Thanks dukungannya ya teman-teman....
...Cium jauh - Al...