
Elang bukan hanya tepar karena kebanyakan minuman, tapi muntah-muntah sampai kondisinya benar-benar parah dan tidak mampu bergerak lagi. Dia tidur tertelungkup di atas ubin, di belakang basecamp begitu acara mabuk akrab bersama teman-temannya selesai. Benar-benar hari yang buruk!
Bagaimana tidak? Dua hari penuh drama yang menyakitkan hati membuat Elang yang tidak stabil mencari pelampiasan dengan alkohol berlebih. Hasilnya, Elang merasa sakit di seluruh tubuh saat mendapatkan kesadarannya di malam hari.
Elang pulang ke kontrakan hanya untuk membersihkan diri dari bekas muntahan yang mengering di baju dan melanjutkan tidur tanpa makan malam. Tubuhnya panas dingin dan terasa remuk di bagian dalam. Tidurnya juga tidak bisa dibilang nyenyak, bayangan wanita yang melahirkannya silih berganti dengan wajah sendu Nindya saat menolaknya.
Tanpa sadar, di dalam tidurnya yang gelisah, ada air mata yang jatuh membasah di bantal tempat Elang meletakkan kepala. Tanpa isak, tapi nyeri yang dirasa sangat menyakiti hati dan pikirannya. Elang merasa kehilangan Nindya, dan sakitnya hampir sama dengan saat dia kehilangan sang mama.
Paginya, Elang bangun kesiangan, jadwalnya ke lapangan sudah lewat beberapa menit dari bunyi alarm jam di kamarnya. Elang masih terpejam dan enggan membuka mata hingga satu suara manis terdengar bersamaan dengan bunyi ketukan di pintu kamarnya.
Setelah duduk beberapa saat dan mengumpulkan kesadaran, Elang membuka pintu dan mempersilahkan tamunya, "Masuk, Vi!"
Vivian datang membawa paper bag bernama restoran. Sarapan untuk Elang. "Kak, kamu nggak ke kampus hari ini?"
Elang menguap dan menggosok mata, melirik jam yang membuatnya langsung tercekat. Pemuda itu mengeluh dalam hati karena lupa kalau hari ini harus pergi ke Gunungkidul untuk memulai penelitian.
"Aku mandi dulu!" pamit Elang terburu-buru.
Setelah mandi, Elang memilih mengabaikan kehadiran Vivian karena dia harus segera bersiap berangkat. Ponselnya yang tanpa suara terus bergetar menunjukkan panggilan dari Nindya, dosen pembimbing yang juga akan ke lapangan hari ini. "Iya Bu, maaf terlambat … iya ini udah di jalan!"
"Kak El sudah mau berangkat ya? Nggak sarapan dulu? Vivi bawain makanan!"
Elang mendekati Vivian yang penuh harap, mengecup sekilas bibir Vivian sebelum bicara pelan-pelan. "Sorry, aku beneran lupa jadwal penelitian dan ini sudah kesiangan. Sarapannya aku bawa aja kalau boleh, nanti aku makan di sana!"
"Tapi Vivi kangen, kamu nggak ada kabar dari hari Sabtu. Kasih Vivi waktu tiga puluh menit aja, kita sarapan bersama, please!" Vivian memeluk Elang manja.
Vivian mengangguk lesu, entah kenapa usahanya mendekati Elang seperti terhalang sesuatu. Semua tidak seperti berita yang dia dengar kalau Elang mudah jatuh cinta dan tertarik sama wanita, buktinya perjuangan Vivian sampai detik ini belum ada hasilnya.
"Ya udah aku balik rumah aja kalau gitu, nggak ada jam kuliah juga!" kata Vivian cemberut seraya melepas pelukan. Mengharap Elang memberikan kecupan perpisahan dengan pandangan memohon.
"Aku pesenin taksi ya!" Elang membuka pintu kamar dan mengajak Vivian keluar ruangan pribadinya. Sama sekali tidak peka dengan wajah mendamba yang ada di depannya, juga tidak sadar kalau ponselnya masih terhubung dengan Nindya dan baru terputus tiga detik yang lalu. Sial!
Bertemu Arga di lantai bawah membuat Elang berpikir praktis. "Ga, tolong anter Vivi pulang bisa? Aku diburu waktu, bener-bener udah terlambat!"
"Ehm … boleh aja!" Arga yang baru saja masuk rumah tersenyum lebar, merasa dapat nangka runtuh. Dalam pikirannya itu sebuah pertanda kalau Elang sudah bosan dengan mainannya dan memberikan kesempatan padanya untuk mendekati.
“Vivi sama Arga aja ya pulangnya biar aman!” kata Elang dengan nada memaksa. "Sekalian temenin Arga sarapan dulu, dia pasti belum makan!" Elang menyambung kalimat sembari memberikan makanan yang dibawakan Vivian pada Arga.
Belum sempat Vivian menjawab, Elang sudah memeluknya erat dan mencium bibirnya dengan sedikit liar. Memamerkan kemesraan sekaligus memberitahu Arga kalau Vivian masih miliknya. Arga hanya diminta menemani Vivian sarapan dan mengantarkan pulang, bukan membawanya ke atas ranjang.
"Sial kamu, El!" geram Arga dengan wajah kesal.
Elang terbahak sembari melesat pergi ke tempat motornya terparkir, meninggalkan Arga yang memasang wajah tidak senang karena tidak jadi mendapatkan warisan.
Vivian menarik nafas berat, kecewa bercampur kesal memenuhi hatinya. Dia jadi punya pikiran licik untuk sedikit membalas kelakuan Elang. Dia ingin tau apakah Elang akan cemburu kalau tau dia dekat dengan Arga, atau setidaknya bakal menjadi kepuasan tersendiri kalau dua sahabat itu akan saling hantam untuk memperebutkannya.
Akhirnya Vivian membulatkan tekad dengan cepat, dia menerima tawaran Arga untuk mengantarnya pulang sebentar lagi. Vivian juga tidak menolak sarapan dulu bersama Arga sebagai langkah awal pendekatan.
***