
Elang memaksakan diri untuk memijat telapak kaki Nindya. Memberi rasa rileks dengan cara mengurut perlahan. Dia tidak ahli soal itu, tapi keseriusannya ingin membantu mengurangi rasa kembung di perut Nindya patut diapresiasi.
"El …." Sesekali Nindya mengaduh, bukan karena rasa sakit tapi lebih ke rasa geli yang membawa gelenyar ke seluruh tubuhnya. Perasaan asing yang akhirnya muncul kentara saat Elang menyentuh bagian manapun dari tubuhnya.
Nindya mengerang. Ini bahkan belum malam, dan Nindya sudah berpikir yang macam-macam tentang kelakuan Elang yang selalu kurang ajar padanya. Sialnya, kali ini Nindya menikmati pijatan ringan penuh kehangatan dari mahasiswa cabul tersebut.
"Aduh!"
"Sakit?" Spontan Elang menurunkan tekanan tangannya yang sedang mengurut bagian betis.
"Sedikit."
"Apa karena tanganku kasar?"
Lagi pula mana ada atlet panjat dinding yang tangannya halus? Point yang dipakai untuk berpegangan saat merayap atau menggantung di wall climbing sama sekali tidak bisa dibilang halus. Dibuat dari pasir, agar bisa mendapatkan permukaan resin yang kasar dan kesat, dan lebih menyerupai batuan asli di tebing alam. Saking kasarnya, kadang sampai melukai jari.
Bisa dibilang tangan Elang sekasar tangan buruh bangunan, atau cocok juga disebut serupa dengan tangan-tangan tukang dan pekerja kasar lainnya.
Apakah itu masalahnya?
"Tidak juga!"
Nindya memaklumi hal sepele seperti itu, Elang bukan dosen seperti Daniel, yang pegangannya hanya buku, pulpen dan sejenisnya, sehingga memiliki tangan lebih halus tanpa istilah 'kapalan'.
Tapi yang demikian itu kini membuat Nindya berspekulasi sendiri, kalau Daniel kalah macho dibandingkan Elang. Pendapat paling tolol yang diakui Nindya sebagai orang yang dulunya memuja pria dari tingkat kecerdasannya.
Elang memberi usapan lembut pada bagian yang baru saja dikeluhkan sakit oleh Nindya. Damn! Usapan yang membuat Nindya blingsatan dan mengerang kesal.
"Sudah, El! Aku sudah tidak kembung. Aku harus segera pulang, hampir malam." Melarikan diri sepertinya pilihan yang baik daripada tetap tinggal dan menjadi bodoh karena birahi yang tidak mungkin tersalurkan.
"Jam sembilan nanti aku antar, istirahatlah sebentar lagi di sini."
"Kamu harus mengerjakan laporan untuk hari Sabtu, aku tidak mau mengganggu!"
"Aku tidak akan menyebut itu sebagai gangguan, tapi bantuan."
"Aku tidak bisa, aku ada janji dengan orang!" tolak Nindya lembut, dengan alasan klise seperti biasanya.
"Kamu sedang tidak enak badan, untuk apa memaksakan diri untuk berkencan?" tuduh Elang penuh tekanan tidak suka.
"Aku bukan mau pergi kencan, Daniel sedang di luar kota."
"Jadi kamu berbohong agar bisa pergi dari kamarku?"
Kenapa Elang selalu membuat pertanyaan benar tapi menyudutkan? Nindya diam tidak menanggapi, memikirkan topik lain untuk dibicarakan.
"Ceritakan tentang ibumu kalau begitu!" kata Nindya mengalihkan perhatian Elang.
"Aku janji akan cerita di lain waktu."
"Kamu mungkin pernah lihat Dewa di laboratorium, dia adikku."
Ya, orang lain yang akhirnya menjadi adik karena ayah Elang menikahi ibu Dewa.
"Oh, anak muda yang sesekali datang dan kamu minta nganter temanmu kemana-mana itu?" tanya Nindya sembari mengingat wajah anak muda yang menurutnya tidak mirip Elang. Seperti bukan saudara.
"Ya. Mayra tidak bisa mengemudikan kendaraan. Baik motor ataupun mobil."
"Mayra tidak punya orang lain untuk direpotkan? Pacar misalnya? Atau teman dekat selain kamu?" cerca Nindya penasaran.
Elang hanya mengedikkan bahu sebagai ungkapan tidak tahu saat Nindya menoleh mencari jawaban padanya.
"Mayra cantik, kalem dan sepertinya anak yang baik. Bagaimana bisa kamu tidak tertarik dengannya?" pancing Nindya hati-hati.
Elang terkekeh. "Kamu juga cemburu sama Mayra?"
"Kalau ditanya itu dijawab, bukan malah balik bertanya!" gerutu Nindya kesal. Mendapatkan informasi pribadi Elang ternyata tidak semudah dugaannya.
"Kalau mau tau aku secara pribadi, kamu bisa ikut ke rumah hari Sabtu setelah aku bimbingan sama Pak Ronald. Ada acara arisan keluarga, barangkali kamu ingin tahu rumahku dan kenal orang tuaku!" Elang menghindar untuk membahas Mayra lebih lama.
"Pertanyaanku bukan itu tadi," ujar Nindya keras kepala.
Elang melanjutkan kalimatnya tanpa peduli protes dari Nindya. "Sewaktu-waktu, kamu bisa menuntut pada ayahku kalau aku sampai lari dari tanggung jawab. Kamu tenang aja, beliau selalu bisa memaksaku untuk menurut, jadi nggak usah khawatir … aku pasti menikahimu kalau kamu beneran hamil."
Nindya mengerjap tak percaya, dia akhirnya terbawa topik baru yang disampaikan Elang. "Bagaimana jika aku tidak hamil?"
"Kamu akan menikahi tunanganmu, karena pilihanmu ada padanya. Dia jelas lebih baik dariku dalam segala hal. Iya kan?" Elang membalikkan pokok bahasan ke arah Nindya dan tunangannya.
Nindya tidak langsung menjawab. Elang kembali memaksa Nindya untuk selalu membuat perbandingan antara mahasiswanya dan sang tunangan, bukan hanya hari ini, tapi dari sejak mereka terjebak hasrat salah sasaran hampir tiga minggu lalu.
"Mungkin." Nindya mengeluh sendiri dalam hati, jawabannya bukan sesuatu yang pasti terjadi antara dirinya dan Daniel di kemudian hari.
Elang memaklumi meski dia tidak pernah berniat mundur. "Mau dipijat punggungnya juga? Tapi aku tidak janji akan enak rasanya! Aku hanya ahli memijat bagian depan."
Dengan bibir ternganga, Nindya bergidik ngeri membayangkan. "Tidak perlu, selimuti saja kakiku. Aku kedinginan!"
"Aku akan memelukmu," jawab Elang enteng. Dia naik ke ranjang setelah menyelimuti Nindya sampai ke dada. "Bangunkan aku satu jam lagi, aku mau tidur sebentar, capek, ngantuk berat!"
Elang langsung merapatkan mata begitu kepalanya menyentuh bantal, dan Nindya dengan ragu meringkuk di sebelahnya. Memeluk dengan hati-hati. "Aku suka wangi parfummu, El!"
"Apa kamu akan menyuruh tunanganmu untuk memakai parfum yang sama setelah ini?"
Nindya menggigit gemas lengan Elang sebagai bentuk protes. Elang tertawa ringan, membuka mata dan mengubah posisi tidurnya, memberikan satu lengannya untuk kepala Nindya lalu memeluk hangat dengan segenap hatinya. Tak lama, Elang tidur dengan enaknya dan seketika itu juga rasa mual Nindya mereda. Ajaib.
***