Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Ular Berbisa



Sebelum semua rafter naik ke atas perahu karet, Elang kembali mengecek satu persatu anggota tim yang akan dibawanya menyusuri sungai. Mulai dari perlengkapan wajib seperti helm dan pelampung sampai ke perlengkapan pribadi.


Elang melihat sekilas pada Vivian yang ikut dalam perahunya sesuai rencana. Penampilannya yang seksi sangat mengundang tatapan semua laki-laki yang ada di lokasi. Pahanya yang putih mulus menyilaukan mata, dan dadanya yang membusung padat membuat para pemuda pusing kepala, tidak terkecuali Elang.


Namun, Elang segera mengalihkan pandangan. Matanya menatap kasihan pada dosen pembimbing yang juga diikutkan oleh panitia dalam perahunya. Wanita itu masih terlihat tertekan dan kesal padanya.


"Pakai lengan panjang, Bu! Tiga jam di atas sungai bisa bikin kulit ibu hitam nanti," tegur Elang sebelum menuju titik kumpul. Elang bahkan mengulurkan topinya untuk dipakai Nindya. "Jangan lupa pakai sunblock wajah juga!"


Nindya jelas lebih beruntung dari semua peserta wanita, karena hanya dia yang mendapatkan perhatian lebih dari Elang sebelum mengarungi sungai. Meskipun terlihat remeh dan tidak penting, tapi Elang memperhatikan detail kebutuhan Nindya pada saat di sungai nantinya.


Bukan karena dosen pembimbingnya mendadak jadi cewek spesial, tapi karena Elang merasa bersalah sudah berlaku kurang ajar kemarin malam. Berbuat baik pada Nindya adalah hal pantas sebagai bentuk penyesalan.


Apakah Elang benar-benar menyesal? Entahlah, dia juga tidak paham situasi hatinya.


"Jangan pernah lepaskan dayung saat kalian jatuh ke sungai, dayung adalah perlengkapan utama yang bisa menyelamatkan kalian saat terjebak di aliran utama sungai, dayung adalah nyawa dalam pengarungan arus deras!" kata Elang mengingatkan.


Duduk paling belakang sebagai skipper, Elang bertugas memberi instruksi sekaligus sebagai pendamping selama rafting. Dia yang akan memandu para rafter, kapan harus mendayung lebih cepat, kapan harus berbelok, atau kapan harus menghentikan dayungan.


Skill Elang di dunia petualangan tidak lepas dari kegiatannya dalam organisasi mapala. Dia ikut ditunjuk sebagai skipper karena dianggap paham betul tentang teknik rafting dan prinsip first aid saat bermain dengan air sungai.


"Siap semua? Berdoa mulai!" Elang memimpin doa seraya menundukkan wajah beberapa saat. "Selesai … ok angkat semua dayung ke atas, kita tos dulu!"


Serentak semua dayung diangkat oleh masing-masing rafter menyatu di udara, dan dipukulkan ke air bersamaan saat Elang memberi komando. "Go!"


Elang lalu meniup peluit sebagai tanda pada panitia bahwa perahunya siap berangkat.


"Dayung maju!" Suara Elang keras memberi perintah pada tujuh rafter yang duduk memegang dayung pada perahu karet yang dikemudikannya.


Perahu karet Elang menyusuri sungai dengan lambat, air mengalir tenang di awal pemberangkatan. Dia beberapa kali mengajak bercanda para rafter yang baru pertama kali turun ke sungai. Sesekali melakukan promosi agar mahasiswa baru mau bergabung dengan organisasi kampus yang bergerak di bidang petualangan alam bebas tersebut.


"Kak … memangnya selain naik gunung, manjat tebing sama rafting apa ada hal lain yang menarik di mapala? Kesannya cuma jalan-jalan dan hura-hura. Image yang beredar di kampus, yang ikut mapala nggak ada yang bener kuliahnya!" Vivian bicara dengan genit dan manja.


"Selain kegiatan lapangan, ada keorganisasian, fotografi dan jurnalistik khusus untuk kegiatan petualangan," jawab Elang santai. Matanya tak lepas dari kaki telanjang Vivian yang dibiarkan tanpa penutup sampai separuh paha.


Elang sengaja tidak mengingatkan Vivian untuk memakai pakaian serba panjang karena ingin memanjakan matanya. Bukankah Vivian memang sengaja tampil begitu untuk menggoda kaum pria seperti dirinya?


"Buktinya saya udah mau lulus, trus itu tuh … kamu lihat cewek pake hijab yang naik perahu rescue? Itu udah daftar wisuda periode ini, IPK masih di atas tiga biarpun aktif di UKM mapala. Dia menjabat sekretaris organisasi selama dua tahun," terang Elang kalem. Meluruskan pandangan miring para mahasiswa terhadap organisasi pecinta alam yang sedang tidak bagus pamornya.


Vivian melirik Elang yang ada di belakangnya, "Tapi nakal-nakal ya kak anggotanya?"


Elang tertawa renyah, "Kalau organisasi lain nggak ada yang nakal gitu ya? Semua kan tergantung orangnya, Vi."


Mendengar debat kecil itu, Nindya tersenyum dalam hati. Ada sedikit rasa bangga pada mahasiswa yang sedang dibimbingnya.


Elang memang benar, dia salah satu orang yang berkegiatan padat tanpa meninggalkan kuliahnya. Nakal dan liar dalam pergaulan tapi tetap bertanggung jawab dengan pendidikan yang sedang ditempuhnya.


"Yang Vivi denger kebanyakan yang nakal anak mapala sih," sungut Vivian masih tidak mau kalah.


"Itu karena anak-anak pecinta alam orang yang terbuka, tidak menutupi dirinya dengan berpura-pura!"


"Ah masa? Mana ada orang begitu?"


"Gabung dong sama UKM mapala biar tau, sistem kekeluargaan dan solidaritas sangat tinggi di lingkungan petualang," ajak Elang dengan senyum lebar.


"Tapi Vivi takut ular kak!"


"Eh … ular yang mana,Vi?" tanya Elang spontan. Dia melirik ke arah Nindya yang entah mengapa memerah saat mata mereka beradu sekilas.


Vivian melengos malu, "Ya kalau kegiatan lapangan ketemu ular gimana? Pas naik gunung misalnya!"


"Oh itu … nanti ada diklat khusus ular, masuk dalam materi survival dan gunung hutan!"


"Serius kak?" kejar Vivian penasaran.


"Makanya gabung! Biar tau jenis-jenis ular apa saja yang tidak berbisa dan bisa dimakan saat survival di hutan," jawab Elang ringan.


"Wah … kalau yang berbisa pasti sejenis Kak El ya?" Vivian mengulum senyum kemenangan.


***