
Elang tidak peduli suara ketus dan galak Nindya, dengan nakal dia sudah menghimpit Nindya dan menaikkan dagu dosen muda cantik di depannya agar menatap matanya.
“Aku tidak akan membiarkan kamu lari, Nindya! Pertemuan seperti ini bukan sebuah kebetulan, pasti ada sesuatu dibaliknya." Elang berkata sambil menunduk hingga nafasnya menyapu wajah Nindya yang bersemburat merah.
"Baiklah, terserah kamu menganggap pertemuan ini sebagai apa! Sekarang tolong menjauh! Kamu membuatku sesak nafas." Nindya menjawab tegas sembari membuat gerakan mendorong tubuh Elang. Nindya tidak ingin terjadi sesuatu yang melibatkan perasaannya, meski tak dipungkiri bau parfum Elang mulai meracuni sarafnya. Namun, Nindya tidak mau melakukan kesalahan berulang.
"Menjauh? Seperti ini?" tanya Elang dalam bisikan menggoda.
Nindya menahan nafas saat merasakan satu tangan Elang menahan dinding lift dan tangan yang lain justru melingkar di pinggangnya, menariknya perlahan untuk merapatkan jarak mereka.
Dipeluk Elang secara intim dan posesif begitu rupa membuat pikiran Nindya mulai berkelana. Dia tidak bisa memungkiri degup jantungnya meningkat.
Dengan susah payah Nindya berusaha mengembalikan jalur pikirannya yang mulai melenceng. Tangannya kuat menahan tubuh Elang agar bagian pinggangnya tidak menempel padanya.
"El, aku tidak suka kamu seperti ini!"
"Jadi seperti apa yang kamu suka?" Elang semakin menundukkan wajah mendekatkan bibirnya, berhenti satu inchi di depan mulut Nindya. Posisi yang spontan membuat Nindya panik dan merona lebih merah.
Nindya menggelengkan kepala lalu membuang muka ke arah lain, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Elang. Dua tangannya bekerja sama membuat usaha melepaskan cengkraman Elang yang tepat berada di atas bokongnya. "El … tolong jangan begini, berlakulah lebih sopan pada dosenmu! Sedikit saja!"
"Aku sedang sopan dan dalam pose bertanya baik-baik. Aku sedang meminta izin … maksudnya menawarkan sesuatu yang mungkin akan Bu Nindya sukai dari pertemuan ini!" ujar Elang kalem. Dia mengembalikan wajah Nindya agar menghadapnya, menelusupkan tangan pada rambut indah Nindya dan menahan bagian belakang kepalanya.
"Aku tidak memberi izin …." Nindya tercekat, kalimatnya belum selesai saat Elang menautkan bibir mereka, menyapu permukaannya dengan penuh kelembutan.
"I really miss you, babe!" gumam Elang di dalam mulut Nindya.
Lift turun dengan cepat, ciuman Elang juga hanya sebatas ******* ringan. Elang mengakhiri dengan gigitan kecil pada bibir bawah Nindya dan melepaskannya dengan ekspresi kelam.
Elang meregangkan himpitannya karena Nindya gelagapan, Elang menyisir rambut Nindya dengan jarinya sembari tersenyum jenaka.
"Brengsek!" umpat Nindya gusar.
Elang berhenti menyentuh rambut Nindya tepat saat pintu lift terbuka di lantai basement tempatnya memarkir kendaraan.
"Maaf … saya lupa kalau saya belum punya izin mencium, saya cuma punya surat izin mengemudi. Jadi mungkin saja kalau sewaktu-waktu saya juga akan jadi kemudi untuk Bu Nindya!" Elang mengulas segaris senyum kemenangan dan keluar lift dengan siulan riang, membentuk alunan lagu reggae dari Bob Marley yang berjudul one love.
Nindya mengatupkan bibir, tidak jadi mengumpat lagi pada mahasiswa yang meninggalkannya tanpa merasa bersalah. Nindya merasa marah pada dirinya karena kembali membiarkan Elang bertingkah sesuka hati padanya.
Nindya dalam dilema, merasakan Elang kembali menciumnya dengan sungguh-sungguh, penuh kelembutan dan sarat rasa sayang membuat hatinya yang dingin justru mendapatkan kehangatan.
Ada rindu yang disampaikan pemuda itu lewat pelukan, ada resah yang disampaikan Elang lewat tatapan dan ada gairah muda yang dibicarakan lewat panasnya kecupan. Singkat tapi sangat membuai perasaan perempuan.
Nindya mengeluh, Elang sudah menganggap dirinya sebagai wanitanya, bukan pendidik yang harus disegani! Sial!
Dosen muda itu merinding merasakan seluruh tubuhnya melemas, kakinya goyah dan jantungnya berdetak cepat. Nindya tidak menyangka kalau tubuhnya merespon dengan baik kehadiran Elang, tidak sinkron dengan kerja otaknya yang terus saja menolak dan mengingkari situasi yang baru saja terjadi.
Elang mungkin hanya bergairah padanya, tapi kenapa Nindya salah tingkah dan merasa mendamba?
Damn! Jangankan hanya seorang Nindya, nenek-nenek peot juga pasti akan berlagak seperti remaja belia jika dihimpit Elang dengan segala kemaskulinannya.
Dengan pikiran rumit, Nindya menutup pintu lift dan kembali ke lantai empat. Membereskan semua pekerjaannya dan ingin pulang secepat yang dia bisa. Nindya ingin segera mendinginkan kepala.
“Bu Nindya buru-buru?” tanya ketua jurusan yang baru saja keluar ruangan.
"Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan, Pak Ronald? Kebetulan jam kerja saya hari ini sudah habis." Nindya menghentikan aktivitasnya dan menatap sopan pada atasannya.
“Elang menjadi perwakilan mahasiswa jurusan teknik kimia yang ikut dalam proyek ekologi kita, saya harap Bu Nindya bisa membantu penelitian uji kelayakan air bawah tanah dari goa vertikal yang akan disusurinya." Pak Ronald memberitahu secara singkat mengenai laporan awal yang sudah disusun Elang dan baru saja diterima salinannya.
"Baik, Pak!" Nindya tidak bisa mengelak apalagi menolak tugas akademik yang diberikan padanya.
"Elang ada dalam bimbingan saya selama penelitian ini, tugas Bu Nindya membantu Elang dan mengawasinya selama penelitian dan uji laborat!"
"Sejak kapan, Pak? Bukankah seharusnya Elang menyelesaikan penelitiannya dengan Bu Yuni?"
"Sejak beberapa hari lalu. Elang berniat mengajukan judul baru dan akhirnya malah setuju dengan penawaran saya untuk gabung di tim dosen."
Nindya mengangguk, mengulas senyum hambar dan menjawab lemas, "Baik, Pak!"
Ternyata kisah dosen pembimbing dan mahasiswa salah paha masih harus dilaluinya beberapa waktu ke depan. Nindya menghembuskan nafas berat. Meradang merasakan dilema dalam hati terdalamnya, Nindya belum bicara apapun pada tunangannya.
Ya lord, bisakah kisah seperti ini hanya ada dalam drama telenovela saja?
***