
Di rumah Nindya, Elang membuat makan malam di dapur setelah menata semua belanjaan Nindya ke dalam kulkas dan meletakkan lainnya di dekat meja makan.
Nindya langsung masuk kamar dan merebahkan tubuh. Moodnya yang berantakan tidak kunjung membaik, ditambah perdebatan sengit dengan Elang di sepanjang jalan pulang benar-benar mengacaukan isi kepalanya.
"Aku membuat sup ayam dan telur dadar, makan yuk!" ajak Elang. Tangannya mengusap lengan Nindya yang tidur memunggunginya.
"Udah malas keluar kamar, ngantuk!"
"Aku gendong!"
"El, tolong biarkan aku sendiri. Aku lagi nggak pengen makan, nggak pengen ngobrol, lagi pula pagi tadi kita udah makan sup sama telur!"
"Pagi sup tomat wortel, sekarang sup ayam plus sayuran. Pagi telur dadar kornet, sekarang telur dadar isi udang, nggak sama itu!"
"Aku nggak lapar, El!" kata Nindya gemas.
"Kamu harus makan, Sayang!"
"Aku bukan sayangmu!" sahut Nindya keki.
"Kamu calon istriku," jawab Elang mengulum senyum. Suaranya terdengar jenaka ketika melanjutkan, "Calon ibunya anak-anak!"
Entah mengapa Nindya justru tertawa mendengarnya. "Selain pandai merayu, banyak gombal, cabul, kamu juga masuk mahasiswa paling menjengkelkan, El!"
Nindya turun dari ranjang dan pergi ke meja makan, menerima piring nasi yang sudah diisi Elang lalu makan dengan wajah tidak lagi muram.
Elang terkekeh ngeri memakan sup buatannya, "Aneh rasanya! Kurang apa ya?"
Nindya mengambil kecap asin untuk menyeimbangkan rasa hambar tanpa berkomentar buruk. Dia juga ikut tertawa ringan, "Not bad, masih bisa dimakan!"
"Harap maklum, cuma bisa bikin masakan ala mapala! Standar kenyang doang tanpa perlu rasa yang enak."
"Apa semua anak mapala bisa masak?" tanya Nindya penasaran. Anak-anak muda yang terlihat berantakan sulit dipercaya mau meluangkan waktu untuk belajar masak.
"Tidak bisa dibilang memasak sih, tapi mereka wajib bisa bertahan hidup di alam bebas. Ada pelajaran mengolah bahan makan di materi survival. Bukan masak umum seperti ini."
"Hm, apa contohnya?"
"Yang utama pengenalan jenis tumbuhan dan umbi yang bisa dimakan dan tidak, termasuk berbagai jenis jamur beracun dan buah-buahan. Tumbuhan yang banyak mengandung air saat kita kehabisan persediaan minum. Ada teknik membuat jerat ular, burung, ayam hutan dan hewan-hewan lain."
"Yang berbisa kan cuma kepalanya," jawab Elang tertawa mesum. "Tiga jari dari kepala biasanya ikut dibuang, yang dikonsumsi cuma dagingnya doang!"
"Kayaknya mending nggak makan kalau aku." Nindya bergidik jijik.
"Enak rasanya, asal masaknya nggak kelamaan dagingnya empuk kok. Lagipula daripada mati kelaparan ya makan apa yang ada di depan mata!"
"Mending ular yang lain aja!" Nindya menimpali nakal sembari terkikik manja. Ya ampun … rasa-rasanya kelakuannya semakin di luar logika, semakin seperti remaja seusia mahasiswanya itu. Jangan-jangan dia memang sudah ketularan.
Elang menaikkan sebelah alisnya, mood Nindya yang berubah-ubah membuatnya sedikit bingung. "Kamu kalau tertawa beneran cantik, Nindya!"
Kalimat Elang terhenti karena suara ponselnya. Beruntung makan sudah selesai, Elang meneguk minumnya lalu menatap Nindya sebentar sebelum mengangkat panggilan pada ponselnya. Nama Vivian tertera jelas di layarnya.
"Ya udah diangkat aja, ntar keburu gatel yang di sana!" Nindya cemberut, matanya ikut melirik ke layar ponsel Elang. Reflek tangannya mengelap mulut lalu berdiri dari kursi, membawa bekas makan ke tempat cuci piring. Suara benturan gelas dan piring yang lebih berisik terdengar lantang karena dilakukan dengan sengaja.
"Aku lagi di luar, Vi! Iya nggak di kost … makan malam? Kasihkan Arga aja, nggak tau pulang jam berapa … besok, iya besok! Janji." Elang menghembuskan nafas panjang, lega karena dia dan Nindya sudah keluar kamarnya saat Vivian datang.
Elang menyusul Nindya yang duduk di teras setelah membuat dua kopi, menemani dosennya yang kembali melipat wajah. "Mau kopi yang mana? Hitam apa putih?"
"Terserah!" Apa pantas Nindya merajuk hanya karena Elang menerima telepon dari Vivian? Dia bahkan bukan anak bau kencur lagi, dan Elang bukan pacarnya. Sikap yang seperti itu harusnya untuk Daniel, tunangannya. "White aja!"
"Kamu marah ya?" tanya Elang tanpa merasa bersalah.
"Itu urusan kamu, bukan hakku untuk marah-marah. Lagian jadi cewek gatel amat sih, nggak ada harga diri sampai datang ke kost cowok bawa-bawa makanan. Nggak pagi, nggak siang, nggak malam … keliatan bener kalau ngebet, apa nggak ada kerjaan di rumah?" Nindya kelepasan bicara, mengomel panjang soal Vivian. Lupa kalau pacar Elang itu sama sekali bukan urusannya.
Elang membiarkan Nindya bermonolog dan menjawab pertanyaannya sendiri dengan asumsi berlebihan soal Vivian. Dia memilih menyeruput kopi sambil bermain game, menunggu sampai Nindya selesai dengan omelannya.
"El, kamu dengerin aku nggak sih?" protes Nindya kesal. Semakin kesal karena betisnya jadi sasaran gigitan nyamuk. Apalagi tangannya meleset saat menepuk binatang penghisap darah yang meninggalkan bentol di kulitnya. Rasanya emosinya semakin menumpuk di ubun-ubun.
"Iya denger, masih ada lanjutannya?"
"Kamu ini nyebelin banget sih! Kamu juga jadi cowok nggak usah kasih-kasih harapan sama cewek, kalau kamu nggak mau bilang nggak, jangan semua dipacarin! Kamu tau karma itu berlaku untuk semua orang, lebih-lebih ke orang yang sering nyakitin hati orang lain. Suatu saat kamu bakal ngerasain sakit berkali-kali lipat!" Nindya berbicara dengan nada emosional, tidak seperti seorang ibu pada anak, tapi seperti kakak perempuan yang gemas melihat tingkah adiknya.
"Sudah selesai?" tanya Elang kalem seraya menekan layar ponselnya dengan gerakan cepat, mengarahkan jurus heronya agar tepat mengenai lawan. "Kalau udah kita masuk ke dalam aja, banyak nyamuk disini. Kaki kamu mulai bentol-bentol itu, gatal kan?"
Nindya menggaruk betisnya kasar, "Nggak segatal cewek yang telepon kamu barusan!"
***