Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Berkah Elang



Elang berhenti sebentar, memberikan waktu pada Vivian untuk menikmati gelenyar di seluruh tubuhnya. Beruntung Vivian tidak sadar dengan nama yang hampir disebut Elang. Pemuda itu tersenyum menawan menyaksikan wajah merah Vivian yang memasang ekspresi mengundang.


Elang membuka laci meja di samping ranjang untuk mengambil pengaman. Dengan giginya, Elang membuka bungkus plastik kecil yang baru diambil, lalu dengan sigap memasang isinya pada gairah prianya yang sudah tegak menantang.


Lateks adalah teman dekat Elang, dia tidak akan lupa menggunakan karet pengaman itu saat menyentuh area pribadi wanita.


Bagi Elang, motto para mapala yang berbunyi 'safety first than go wild' tidak hanya berlaku saat berkegiatan di alam bebas, tapi juga saat berpetualang di atas tubuh perempuan.


Elang tidak ingin konyol dengan menghamili anak orang di saat masa pendidikannya masih berlangsung. Senang-senang yang tidak beresiko menikahi adalah tujuannya. Gaya yang diterapkan Elang sejak mengenal tidur enak bersama pacar-pacarnya.


Elang berjongkok di depan Vivian lalu meregangkan kedua paha gadis cantik yang sudah sangat pasrah padanya, bersiap masuk dengan gaya misionaris.


Sekali lagi, kelebat bayangan di pikiran Elang membuat aksinya berhenti sesaat. Dia mengingat Nindya adalah satu-satunya wanita yang disentuhnya tanpa karet pengaman.


"Sial! Aku sudah melakukan hal paling gila dan bodoh waktu tidur dengan Nindya waktu itu. Bagaimana kalau Nindya hamil? Apa aku harus menikahinya?!" kata hati Elang meradang.


Elang menepis wajah dosen muda yang mengganggu konsentrasinya, dia benci mengingat wanita itu di saat bersama Vivian. Sekuat tenaga, Elang kembali fokus pada gadis yang tergolek di depannya dan bersiap melanjutkan aksinya.


"Mas, Mas El … Mas Elang! Mas Elang ada yang cari! Ada tamunya di bawah!" Suara ketukan beberapa kali di pintu kamar bersamaan dengan suara pembantu rumah tangga nyaring terdengar di telinga Elang dan Vivian.


Damn … apalagi ini?


Elang menyumpah dalam hati. Dia turun dari ranjang dengan wajah gusar, meninggalkan Vivian yang langsung sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut.


Pemuda dengan rambut berantakan itu segera memakai celana pendek lalu membuka pintu sedikit untuk menjulurkan kepala. Elang bertanya dengan ekspresi pahit pada wanita paruh baya di depannya. "Siapa tamunya, Mbok?"


"Saya nggak tau, Mas! Belum pernah kesini. Maksudnya saya belum pernah lihat sebelumnya."


Elang mengernyitkan dahi, "Cewek apa cowok?"


"Cewek cantik pakai baju kerja resmi! Penampilannya kayak pegawai bank." Pembantu rumah tangga kontrakan itu menyebutkan ciri-ciri perempuan yang datang mencari Elang.


"Namanya siapa?" tanya Elang tak sabar.


Elang memijat kedua alisnya yang bertaut seketika, "Pakai bajumu, Vi! Aku pesenin kamu taxi buat pulang sekarang! Aku tunggu di bawah!"


"Siapa tamu kamu, Kak?" tanya Vivian cemburu. Wajah Vivian sangat kecewa karena Elang lebih memilih menemui tamunya daripada melanjutkan bermain dengannya di dalam kamar.


"Dosen pembimbing penelitian!" jawab Elang kesal. Hasratnya terhadap Vivian padam seketika.


Dengan wajah murka, Elang menarik lateks yang masih terpasang sempurna dari dalam celana lalu membuangnya ke tempat sampah kecil dekat meja belajarnya.


"Apa dia nggak bisa menunggu kita, lima belas atau tiga puluh menit mungkin?" Vivian masih berharap bisa melanjutkan keintimannya dengan Elang.


Tanpa menjawab pertanyaan Vivian, Elang memakai baju rumahan yang terlihat sopan, menyisir rambut dengan jari tangan lalu bersiap turun untuk menemui Nindya.


“Tamunya Bu Nindya?” Vivian akhirnya turun dari ranjang dan mulai mengenakan seluruh pakaiannya satu persatu. Sesekali masih melambatkan aksinya agar Elang melihat lekuk tubuhnya dan berubah pikiran.


"Iya. Bisa cepet dikit nggak? Aku ke bawah sekarang ya?!"


Elang membuka pintu kamar dan keluar tergesa setelah menyemprot parfum pada tubuhnya. Menghilangkan aroma keringat yang mungkin akan mengganggu indera penciuman dosennya.


Pemuda itu juga tidak mengerti kenapa harus repot melakukan hal seperti itu? Bukankah Nindya adalah orang asing yang tidak perlu diperdulikannya? Apalagi hanya soal sepele seperti bau keringatnya!


Sampai di tangga terbawah, Elang menelan ludah. Dia masih tidak habis pikir dari mana Nindya tahu tempat tinggalnya. Yang kedua, Elang menebak kedatangan Nindya ada hubungannya dengan kesepakatan mereka minggu lalu mengenai pergantian dosen pembimbing atau justru ganti judul penelitian.


Namun, itu tidak penting lagi sekarang. Elang bangga dosen itu mendatanginya. Meski isi kepalanya lebih rumit, tapi dalam waktu bersamaan dia juga merasa lega, senang dan bahagia karena wanita itu mencarinya. Rumitnya karena Nindya datang di waktu yang sangat tidak tepat. Di saat Elang dalam kondisi butuh melepaskan ketegangannya.


Sebenarnya, selama seminggu lebih, Elang tidak berhenti membayangkan malam gila bersama Nindya, malam singkat yang tidak bisa dilupakannya. Dan kedatangan Nindya ke tempat tinggalnya adalah berkah untuk Elang yang sedang dilanda asmara.


Uhuk!


***