
"Why not? Ciuman bukan hal wajib dalam sebuah hubungan."
Membayangkan bibir Elang menyentuh pipinya saja sudah membuat kulit wajah Nindya terbakar, apalagi jika mereka saling menghisap? Sudah cukup satu kali Elang menciumnya saat mulutnya berbau alkohol, tidak akan pernah terulang lagi. Itu adalah janji yang diam-diam menyiksanya karena takut akan segera mengingkarinya sebentar lagi.
“Enough with the bullshit, tidak ada orang dewasa yang tidak melakukan ciuman, Nindya!” Elang mendekati Nindya, merapatkannya pada meja dan menunduk tak peduli dengan keadaan.
Sibuk dengan pikiran-pikiran tak pantasnya, Nindya menilai kalau pemuda di depannya ini memang agak gila, tidak memiliki hati dan perasaan. Dia menoleh cepat agar bibir Elang tidak jatuh di tempat tujuannya, tapi menempel lembut pada pipinya yang sedang merona.
Nindya gemetar, hanya seperti itu saja dadanya sudah sesak dan hampir meledak. Bagaimana jika yang terkena kecupan Elang barusan adalah bibirnya? Dan menimbulkan rasa di antara mereka, dan Nindya justru menikmatinya?
Oh tidak! Dia punya tunangan.
Nindya tidak menginginkan hal itu sampai terjadi, dia tidak peduli dengan apa yang sedang dilakukan Elang pada pipinya. Selama itu tidak menumbuhkan sesuatu dalam hatinya … tidak! Nindya tidak ingin jatuh cinta pada mahasiswanya.
Tangan Elang bergerak mencengkeram lembut pipi Nindya, membingkai dengan kedua telapak tangan, memaksa Nindya tidak bergerak saat mulutnya menekan di tempat yang seharusnya. Bibir bertemu bibir.
Ada getaran hebat di dada Nindya dan dia panik, tapi pemuda ini benar-benar mengabaikan apa yang sedang dirasakan dosennya. Dia hanya menyentuh ringan, Elang hanya ingin berciuman. Elang hanya ingin membuktikan kalau apa yang disampaikan Nindya memang hanya omong kosong! Sesederhana itu.
Benarkah? Tapi Elang mencium dengan serius dan sungguh-sungguh, seolah ingin menyihir Nindya dengan kemampuannya. Bibirnya mengecup lembut dan mengusap, menggoda Nindya yang masih enggan membuka mulutnya.
Namun, Nindya tidak mungkin menahan nafas lebih lama untuk menghindari invasi Elang yang semakin merajalela, dadanya bisa meledak dan nyawanya bisa melayang. Dia harus membuka mulut karena ada udara yang tertahan di sana.
Dan segalanya terjadi alamiah saja. Begitu Nindya melepaskan ******* dan menghirup udara untuk paru-parunya, dengan ahlinya lidah Elang menerobos masuk meregangkan bibir atas dan bawahnya.
Nindya seketika meleleh, kakinya gemetar dan dadanya bergemuruh. Di dalam mulutnya dia merasakan Elang membelai di setiap sudut, merayu dan menghisapnya dalam.
Tautan bibir mereka membuat kepala Nindya pusing, perasaannya campur aduk, dadanya berdebar terlalu kencang dan dia tidak bisa menghentikan perasaan aneh yang menjalar dalam hatinya.
Elang masih mencium dengan sangat intens dan mesra, tidak memberikan ruang kepala Nindya untuk berpikir. Pemuda ini hanya ingin Nindya menikmati dirinya yang sedang kehilangan kendali dan tidak membiarkan Nindya mengasihani dirinya sendiri. Elang sengaja membius agar kesadaran Nindya menghilang bersamanya.
Nindya tersentak saat Elang memindahkan satu tangannya ke pinggang, memeluk erat hingga bagian dadanya menempel ketat di tubuh kokoh Elang. Dia mendengar samar erangan Elang yang ******* bibirnya dengan sangat seksi dan penuh dengan janji kenikmatan.
Tangan Nindya yang berusaha menekan agar Elang menjauh akhirnya hanya terkulai lemas di samping tubuhnya. Nindya hanya bisa pasrah dalam dekapan Elang.
Jari-jari Elang bergerak lamban, hingga Nindya tidak begitu menyadari perpindahannya. Nindya hanya merasa lebih gerah karena jari itu menyentuh bagian depan tubuhnya, mulai dari perut lalu menelusup mencengkeram lembut bagian dada kirinya yang membusung padat.
Kalau saja kulitnya bisa melepuh karena sentuhan Elang, mungkin Nindya sudah jadi tubuh rusak karena panas yang membakarnya.
"El … jangan mengulang salah paham yang pernah terjadi!" gumam Nindya resah di sela-sela jeda menarik nafas. Dan entahlah, kenapa juga dia harus seresah ini? Apa Nindya juga menginginkan semua terjadi tanpa disadarinya?
"Ini bukan mengulang, ini melanjutkan!" bisik Elang dekat sekali di telinga Nindya. Menghantarkan hembusan hangat yang sangat menggelitik telinga Nindya.
Pemuda ini memang sedikit sinting, pikir Nindya menahan erangan. Sial!
"Please stop, El!" pinta Nindya bimbang. Antara ingin melanjutkan dan tidak. Kalut dengan pertanyaannya sendiri, apakah dia juga memiliki otak di dalam kepala? Apa dia masih bisa dibilang normal dengan menerima ciuman Elang? Dia dosen!
"Em …." Elang bergumam rendah, Elang sedang mengeluarkan segenap keahliannya untuk mengajari Nindya yang ternyata sangat tidak berpengalaman dalam aktivitas ciuman.
Jadi apa saja yang dilakukan Nindya dengan tunangannya saat pacaran? Hanya mengobrol sambil pegangan tangan?
"El …." Nindya baru saja melenguh saat Elang menghentikan gigitan nikmat pada bibir bawahnya. Gigitan yang membawa getaran sampai ke lubuk hati terdalamnya.
"Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak meminta, meskipun aku sudah sangat tidak tahan! Aku laki-laki normal Nindya, dan bohong besar jika aku tidak ingin menyentuh kamu jauh lebih dalam!" Elang berbisik serak lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan puncak gairahnya sendiri.
"What … meminta? Apa aku sudah seperti mami-mami kesepian yang butuh belaian seseorang? Damn!" Nindya bermonolog gusar, marah, tersinggung tapi juga menikmati. Lega karena dilepaskan Elang, sekaligus kehilangan kehangatan yang berdesir di dalam dadanya.
Elang tidak ingin melibatkan Nindya dengan dua kali pemaksaan, dia melepaskan wanita itu dengan sengaja dan membebaskannya. Elang tau Nindya akan kabur dari kamar tanpa menunggu dirinya lagi.
Nindya langsung melenggang melarikan diri menyelamatkan kebodohannya setelah merapikan dandanan yang agak berantakan.
Persetan dengan Elang!
***