Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Affair?



"El, stop dulu tanganmu! Aku jelasin yang sebenarnya!"


"Iya aku sambil mendengarkan," kata Elang serak. Tangannya yang sudah sampai bahu menyusup ke belakang leher Nindya dan mengusapnya perlahan.


"Pak Ronald ngundang makan malam di rumahnya, acara silver wedding anniversary. Aku kan nggak mungkin datang sendiri," jelas Nindya memasang wajah memelas, sekaligus resah.


"Hm … jadi kamu niat ngajak aku karena Daniel nggak bisa nemenin ya?"


"Kamu mahasiswa bimbingan Pak Ronald, apa salahnya kita datang sebagai satu rekan, satu tim proyek kampus juga?!"


Elang menoleh tajam ke arah Nindya, memperhatikan wanita yang lurus menatap jalan, mempertahankan konsentrasi menyetir dengan gelisah. "Pertanyaanku bukan itu, jangan pura-pura nggak nyambung!"


"Daniel masih di luar kota, El! Mungkin besok baru datang! Puas?"


"Thanks informasinya!" sahut Elang datar. "Nasib ban serep gini amat, ya?"


Nindya melanjutkan bicara dengan suara lebih pelan, "Tapi kalau kamu nggak mau datang ke rumah Pak Ronald ya nggak ada masalah, nanti aku telepon beliau kalau aku ada kepentingan."


Obrolan terjeda, Elang dan Nindya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Baiklah, aku temani. Aku perlu ambil baju yang pantas untuk makan malam!" ujar Elang memutuskan.


"Biasanya selalu ada baju ganti di tasmu, kan?"


"Setelan kuliah ada, atau kamu ngarep aku pakai jas almamater karena ini kunjungan ke rumah ketua jurusan?"


Nindya terkikik, hal sepele dari Elang kadang bisa membuatnya melupakan kerumitan pikiran. "Oke, kita ambil bajumu dulu sekalian mandi."


"Mandi bersama? Aku ingin menyabunimu," ucap Elang antusias. Tangannya yang bermain di leher dan rambut Nindya masih juga belum berhenti membuat godaan.


Tawa Nindya meledak, sepertinya dia mulai terbiasa dengan kalimat nakal Elang yang selalu menjurus. Membayangkannya saja sudah membuat Nindya bergetar. "Kamu nggak mungkin melakukan itu, El!


"Mungkin saja jika kamu mengizinkan! Suatu saat kamu pasti menginginkan hal romantis seperti itu dariku …."


Nindya termangu, dia tidak pernah memiliki pembicaraan intim saat bersama Daniel. Godaan dalam bentuk kalimat seperti ini membuat Nindya banyak berpikir mengenai hubungan normal dua orang yang sedang jatuh cinta.


Tidak! Mereka tidak saling jatuh cinta. Elang tidak pernah membicarakan perasaannya pada Nindya, begitupun sebaliknya.


"El, kamu tau kan hubungan kita hanya sebatas affair … tidak mungkin ada masa depan untuk hubungan jenis ini, jadi kata 'suatu saat' itu tidak akan pernah ada."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan affair!"


"Kamu mengerti sekali apa yang aku maksud, nggak perlu pura-pura … kamu punya banyak pengalaman dengan wanita," tutur Nindya emosional.


Elang mengernyitkan dahi, hampir menautkan kedua alisnya. "Hubunganku dengan Vivian atau siapapun sebelumnya tidak ada yang aku sebut affair, aku menyebutnya pacaran, dan hubungan kami berakhir karena satu sama lain ada ketidakcocokan."


"Kamu memutuskan mereka?'' tanya Nindya setengah menyimpulkan.


"Mereka yang memutuskan mengakhiri hubungan denganku, alasannya klise saja … seperti menganggap aku tidak perhatian atau terlalu sibuk dengan kegiatan petualangan!"


Elang terbukti membuat Nindya semakin penasaran. Dan pertanyaan dari perempuan yang sedang penasaran tidak pernah sedikit jumlahnya. Setiap jawaban selalu menimbulkan celah untuk pertanyaan lanjutan. Kecuali jika Elang membungkamnya dengan … ciuman?


"Mungkin, jika aku tidak mendua," jawab elang singkat.


"Astaga! Tapi kamu menyukainya, itu jadi alasan kamu tidak akan mendua, iya kan?!" Nindya berasumsi sendiri sebelum Elang menjawab. Sedikit nyeri dan juga cemburu menghampiri, hadir di tempat yang tidak memiliki pondasi.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Vivian. Jadi apa affair itu?" Elang malas membahas Vivian, perasaannya sedang kacau dan terbagi. Dia butuh waktu untuk meyakini satu hal soal hatinya sekarang. Cinta.


"Affair itu hubungan romantis jangka pendek, hubungan biasa yang diketahui oleh kedua belah pihak akan berakhir dalam waktu singkat." Nindya menjelaskan dengan ekspresi suram meski nada bicaranya tetap tegas.


Elang menggeleng berat, seberat hatinya yang tidak menginginkan hubungan mereka berakhir cepat. "Oh jadi itu maksudnya!"


"Sepertinya aku benar."


"Bisa benar bisa juga salah, affair ini akan berlanjut atau tidak semua tergantung kondisimu." Elang menekankan kata terakhir, menyindir Nindya yang masih tidak mau terbuka padanya.


Nindya mengeluh dalam hati, meyakinkan Elang tanpa bukti sama saja dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Elang masih saja membahas bukti soal benihnya yang lepas di dalam tanpa permisi beberapa waktu lalu. "Aku sudah jujur padamu!"


"Soal perasaanmu? Ya, aku tau kamu tidak memanipulasinya, kamu menyukaiku," ucap Elang percaya diri.


"Mungkin…." Nindya menepi ke pinggir pagar dan berhenti di depan kontrakan Elang. Tidak masuk ke halaman karena Elang hanya akan mandi dan berganti pakaian. Tidak akan lebih dari sepuluh menit, itu yang baru saja dikatakan Elang.


"Kamu mau pakai baju apa nanti?" tanya Elang sebelum turun.


"Maksudnya?" Nindya memicingkan mata tak paham.


"Warna apa? Barangkali kamu ingin kita kelihatan kompak … maksudku serasi, memakai warna yang sama!"


"Oh itu… terserah kamu, aku akan menyesuaikan nanti. Pakai apa saja yang membuat kamu menjadi dirimu sendiri!" kata Nindya manis seraya menatap Elang.


"Aku tidak pernah menjadi diri sendiri jika bersamamu," bisik Elang sensual. Wajahnya mulai terlalu dekat dengan Nindya, menurut Elang rugi jika hanya bicara.


Elang membuat satu kecupan singkat, lalu merenggangkan jarak hingga sejengkal untuk memperhatikan ekspresi Nindya.


Satu hembusan nafas panjang Nindya membuat Elang tersenyum. Dosen pembimbingnya tidak keberatan juga tidak marah dengan kelakuannya yang sering mencium tanpa izin.


Elang mengusap pipi Nindya hingga ke rahang, mendekatkan wajahnya lagi dan mencium dengan lembut, membuka bibir Nindya perlahan sembari menciptakan godaan-godaan nakal lewat lidahnya yang sudah melesak cepat ke rongga mulut Nindya. Membelai dan merayu dengan seluruh kemampuan.


"El …," desah Nindya minta berhenti. Mereka masih di dalam mobil, dan pintu di sebelah Elang duduk sudah terbuka.


"Kamu harus terbiasa dengan ciuman seperti itu!" kata Elang melepas pagutan. Meninggalkan jari tangan kiri yang mengusap lembut celah kekenyalan Nindya yang membuatnya kelaparan. Naik turun dengan sentuhan seringan bulu.


"Hah, ke-napa memangnya? Apa itu penting? Apa karena aku amatir?" Suara Nindya bergetar, nafasnya memburu seiring puncak dadanya mengembang keras karena kelakuan Elang.


"Penting sekali … karena aku tipe penyuka ciuman berat, terutama denganmu!"


Aduh, El!


***