
Dewa mengetuk pintu laboratorium dan meminta izin pada petugas jaga untuk memanggilkan Elang dan Mayra. Mahasiswa tahun pertama jurusan teknik sipil itu menunggu kakaknya sembari memperhatikan Mayra dari luar ruangan.
"Kamu masih ada kuliah?" tanya Elang begitu tiba di hadapan Dewa.
"Nggak ada, Mas. Mau pulang abis ini, mau nganter ibu ke Jl. Parangtritis."
"Temani Mayra ke BPS bentar ya, paling satu jam juga dia udah selesai ambil datanya, abis itu anterin pulang sekalian! Biasanya dia suka ngajak mampir beli es dawet di Timoho." Elang memberi perintah seenaknya seolah Mayra adalah majikan dan Dewa adalah supir pribadinya.
"Apaan sih kamu, El! Aku bisa ambil data di BPS sendiri."
Mayra melotot ke arah Elang yang sedang membuka dompet dan memberikan uang pada adiknya. "Buat beli bensin sama es dawetnya Mayra!"
Dewa terkekeh, menaikkan sebelah alis dan tanpa sungkan mengambil uang dari tangan Elang. "Nggak ada kembaliannya ini, Mas! Buat nonton sekalian ya, kebetulan ada film horor bagus lagi tayang!"
"Mayra nggak suka horor, ajak nonton roman-romanan aja, kalau perlu film Bollywood," sahut Elang jenaka. Dia lebih tenang jika Mayra pergi bersamanya atau kemana-mana diantar Dewa.
Tidak ada alasan khusus. Oh jelas ada alasan dibalik sikap Elang yang protektif pada Mayra, tapi hanya dia sendiri yang tau. Dewa tidak pernah bisa memahami kenapa dan mengapa Elang memperlakukan Mayra dengan baik, seperti seorang sahabat tapi berlebihan. Seperti seorang kekasih tapi tidak pernah diperlakukan sama dengan Vivian.
"El, kamu nggak dengerin aku!" protes Mayra dengan nada lebih tinggi.
"Iya aku denger, masalahnya kamu nggak bisa kemana-mana sendiri jadi harus diantar!" jelas Elang tegas.
"Aku bisa naik ojek online!" Suara Mayra masih tidak mau mengalah.
"Lebih aman sama Dewa kan?"
Mayra mengeluh dalam diam, hanya sorot matanya saja yang tidak mengerti cara kerja otak Elang. "Terserah kamu!"
Jika Elang begitu peduli dengan segala aktivitasnya, dengan pergaulan dan juga studinya tapi kenapa dia tidak layak berdiri sebagai orang yang setara dengan pacar? Elang tidak pernah menyentuhnya dengan mesra sedikitpun, Elang hanya merangkul bahunya seperti seorang teman atau menggandeng tangannya saat menyeberang jalan.
Ciuman dengan Elang? Mungkin itu hanya mimpi Mayra yang tidak akan pernah jadi kenyataan. Elang seperti tidak bernafsu padanya, dan murni menganggapnya sebagai teman meski dengan banyak keistimewaan.
Terkadang Mayra membandingkan dirinya dengan pacar-pacar Elang, dia tidak kalah cantik, juga tidak kalah seksi tapi … sudahlah! Elang memang tidak tertarik padanya, kebaikan Elang mungkin karena atas dasar ibu mereka sudah berteman baik sejak lama. Dan rasanya Mayra tidak berhak menuntut lebih banyak dari Elang mengingat posisinya memang bukan siapa-siapa.
"Berangkat sekarang, Mbak?" tanya Dewa sopan.
"Aku beres-beres sebentar," jawab Mayra seraya melangkahkan kakinya lagi ke dalam laboratorium.
"Ya udah hati-hati, jangan sampai malam kalau nganter Mayra pulang! Jam lima harus sudah sampai rumahnya," pesan Elang pada adiknya.
Elang menatap punggung dua orang yang menghilang menuruni tangga, berdecak senang sebelum kembali masuk ke dalam laboratorium melanjutkan penelitian.
Sementara Mayra lebih banyak diam di dalam mobil Dewa, merasa canggung dan juga aneh karena harus sering merepotkan pemuda yang menurut sekali dengan kakaknya.
"Mbak kenapa? Sakit apa laper?"
"Nggak dua-duanya, lagi mikir bahan buat seminar aja!" jawab Mayra berbohong. Matanya melirik ke arah Dewa, warna kulit Dewa lebih gelap dari kulit Elang, dengan tinggi dan postur yang nyaris sama dengan Elang, Dewa tidak bisa dibilang jelek meski tidak ada kemiripan karena mereka memang bukan saudara kandung.
"Kapan rencana seminarnya?"
"Setelah lulus mau lanjut kemana, Mbak?"
Mayra melirik Dewa sekilas, "Entah, nikah mungkin!"
"Oh sudah ada calonnya?"
Mendadak Mayra terkikik geli dengan ucapannya barusan. "Nggak ada sih, nunggu Elang ngelamar!"
"Mas Elang?"
"Iya, siapa lagi memangnya?"
"Mbak Mayra pacaran sama Mas Elang?"
"Nggak." Mayra menjawab cepat.
"Sekarang saya yang bingung," ujar Dewa terkekeh. "Nggak pacaran tapi mau nikah!"
"Elang pacarnya siapa, Wa? Maksudku siapa yang pernah diajaknya ke rumah trus dikenalin sama keluarga?"
"Nggak tau saya, Mbak! Tapi kayaknya belum pernah bawa perempuan ke rumah, kalau pulang sendirian terus. Jarang nginep juga," terang Dewa datar.
"Kamu beneran nggak tau dia serius pacaran sama siapa?"
Dewa tergelak mengingat Elang sama sekali tak pernah menganggap serius hubungannya dengan wanita. "Emangnya Mas Elang pernah serius sama perempuan, Mbak?"
"Ya aku nggak tau juga, makanya tanya kamu!"
"Setau saya nggak ada yang diperhatikan Mas Elang selain Mbak Mayra."
"Maksudnya?"
"Saya cuma dimintain tolong Mas Elang untuk mengantarkan Mbak Mayra, tidak pernah ke cewek lain. Bukankah itu artinya Mbak spesial ya?"
"Yang lain diantar sendiri sama dia kali …," jawab Mayra yakin.
"Mungkin, tapi menurut saya kalau Mas Elang punya sikap peduli yang begitu besar sama Mbak Mayra artinya Mas Elang mungkin memendam rasa sama Mbak, cuma belum diungkapkan saja!"
Mayra merenung. Benarkah? Tapi kenapa rasanya tidak mungkin, apalagi setelah melihat Elang memperlakukan mesra dosen pembimbingnya di laboratorium tadi.
Haruskah Mayra bertanya langsung pada Elang? Oh tidak! Mereka tidak pernah sekalipun membicarakan hal pribadi, maksudnya Mayra biasanya hanya bicara soal hubungan Elang dengan wanita-wanita yang mengerumuninya, bukan hubungan Elang dengannya.
Mayra sepertinya putus asa, tapi masih tidak rela jika harus melihat Elang bersama Nindya. Apa artinya dia harus berjuang untuk cintanya? Bersaing dengan Vivian dan juga Nindya.
***