
Benarkah?
Bukannya Elang tidak mau melepaskan Nindya karena ada alasan lain? Karena selain sinting, Elang bisa dibilang sedikit licik jika berpikir tentang dosen muda cantik itu.
Tentu saja karena Elang masih saja berdesir saat ingat bagaimana dia mencium Nindya dengan sepenuh hati di kamarnya kemarin. Saat itu Elang juga melakukan ciuman ala pria pada wanita yang menjadi kekasihnya, semacam kekasih tercinta yang meninggalkannya berhari-hari tanpa kabar.
Jadi, saat Nindya menampakkan diri di kamarnya, bukan salah Elang yang secara spontan memberikan ciuman penuh kerinduan pada wanita yang sudah menguras emosinya itu.
"Nindya," desah Elang dalam satu hembusan nafas beratnya. Dia menggeleng ringan untuk menepis lintasan bayangan dosennya.
"Apa, El? Kamu ngomong sama aku?" Mayra menoleh ke arah Elang dan menajamkan pendengarannya.
Elang tertawa kecil, "Soal Bu Nindya, kasih saran yang bagusan dikit buat aku, May! Please!"
"Emangnya kenapa Bu Nindya sampai mengundurkan diri? Kamu bikin masalah sama beliau?" Kali ini Mayra menghadap Elang yang menatapnya serius.
"Entahlah, hanya sesuatu yang tidak sengaja!" jawab Elang mengelak seraya mengedikkan bahu.
"Bu Nindya juga terlalu cantik untuk kamu lewatkan, right?"
Elang melotot kesal, tidak terima dengan tuduhan Mayra. "Apa hubungannya, May? Aku tidak menggoda sama sekali selama dalam bimbingan Bu Nindya, meskipun ada hal pribadi terjadi, beliau seharusnya menjunjung profesionalisme dalam pekerjaan, bukan mengorbankan mahasiswa yang sedang penelitian."
Mayra menarik nafas dan menghembuskannya panjang. "Kamu nggak ada berubahnya, El! Kamu selalu saja terlibat urusan pribadi dengan perempuan cantik!"
"Cantik itu anugerah, May! Aku menghargai karunia Tuhan yang diberikan pada wanita itu dengan cara …." Elang tidak melanjutkan kalimatnya, tapi mengerang dengan ekspresi tak berdaya.
"Dengan cara memacari mereka semua?" Mayra melanjutkan ucapan Elang dengan nada mengejek.
Mungkin hanya Mayra, perempuan manis yang benar-benar dilewatkan Elang. Entah karena Mayra memang bukan tipe gadis yang tidak disukai Elang, atau Elang sengaja tidak ingin merusak persahabatan mereka yang sudah terjalin selama empat tahun, atau ada alasan lain dibalik misteriusnya sikap Elang pada Mayra.
Elang justru memilih pura-pura tidak tahu kalau Mayra menyukainya, kalau Mayra memendam rapat perasaannya, kalau Mayra sekarang sedang cemburu saat mereka membahas mantan dosen pembimbingnya yang bernama Nindya.
Yang pasti, jauh dalam hatinya … Elang tidak ingin menodai Mayra yang sudah sangat baik padanya.
"Langsung ke pokok masalah aja, May!" kata Elang dengan senyum lebar. Dia tidak ingin membuat Mayra tidak nyaman dengan obrolan seputar urusan pribadinya.
"Masalah apa? Kamu bilang mau ganti judul."
"Iya, tapi aku butuh saran kamu!"
"Kamu ngadep kajur aja, beliau pasti bisa kasih pertimbangan!"
"Hm … gitu ya? Ya udah aku tinggal dulu kalau gitu, nanti aku balik lagi buat beresin ini semua. Don't worry!" Elang menunjuk beberapa gelas pyrex berisi sampel uji coba yang masih belum dibersihkan.
"Thanks, kamu memang yang terbaik, May!" Elang melepas jas putih khusus laboratorium dan juga kaos hitamnya, menggulungnya berantakan. Meletakkannya di atas meja, lalu membuka tas punggung untuk mengambil kemeja.
Mayra mendekat, mengambil jas lab dan kaos Elang, mengibaskan sebelum melipatnya dengan rapi. "Kenapa kamu nggak bawa lemari pakaian sekalian, El?"
Beberapa mata mahasiswa lain yang berada di ruangan laboratorium melirik aneh ke arah Elang yang sedang toples dan sibuk memakai kemeja secara tidak sopan.
Untung saja hanya bagian atas tubuhnya yang terekspos, dan hanya Mayra yang begitu dekat yang melihatnya dengan tatapan jengah dan risih.
Tapi siapa yang mau menegur kelakuan Elang yang sering seenaknya? Image sebagai aktivis pecinta alam yang melekat padanya diartikan kalau hal seperti itu lumrah saja buat Elang. Cuek, masa bodo dan tidak kenal malu.
Isi tas Eiger Elang lumayan banyak, dari berkas kuliah, setelan sopan untuk di kampus, perlengkapan latihan panjat, sampai baju ganti harian.
Elang menyeringai, "Malas bolak balik ke kontrakan."
"Makanya jangan jauh-jauh dari kampus kalau cari tempat tinggal," ujar Mayra menasehati.
"Jauh dikit nggak apa-apa, lebih murah di sana, penghematan, May!" kata Elang terkekeh. Dia menyisir rambut dengan tangan dan menatap Mayra sepintas. "Kenapa May, wajah kamu kok jadi aneh begitu?"
"Next jangan ganti baju disini, Pak Sarif melotot dari tadi!" Mayra mengedikkan kepala ke arah pria yang mengawasi mereka dari meja kerjanya.
"Biar aja, kalau dia nggak ngomel artinya dia sudah capek debat soal peraturan di dalam lab ini sama aku!"
"Ya karena sudah jadi tugasnya mengingatkan pemakai ruang lab ini, harusnya kamu taat aturan, bukan terus-terusan mengabaikan!"
"Aku tidak melanggar aturan, Mayra!" Elang bicara santai.
"Memang tidak, tapi kamu kurang beretika, El!" Mayra menyanggah kalimat egois Elang.
"Ah itu sih Pak Sarif aja yang sarap, semua hal bisa jadi aturan baku buat dia. Coba tanya sama dia, aku melanggar pasal berapa kalau berganti baju di laboratorium? Aku yakin dia tidak bisa menunjukkan apa-apa selain sumpah serapah!"
"Kamu selalu mencari pembenaran atas sikap nggak sopan kamu, El!" Mayra berucap paham.
"Nanti makan bareng ya, May! See you."
"Nggak bisa, El! Aku udah janji mau makan siang sama Yudha!"
"Hah, apa? Batalkan sekarang! Bilang sama Yudha kalau kamu lupa udah punya janji sama aku lebih dulu!"
Elang tertawa dengan tatapan mengintimidasi, melangkahkan kaki keluar ruangan setelah merapikan tasnya. Mengangguk ringan pada petugas laboratorium yang menatapnya kesal tanpa niat menegur.
***