AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
Bab 80 : Prom Night 1



...HAPPY READING📖...


Malam ini semua rencana yang telah ia susun akan segera dimulai. Tidak peduli akan merusak acara semua orang, yang terpenting ia harus segera memberikan efek jera dan mempermalukan cewek itu. Cewek yang selalu merugikannya dan juga telah merebut semua kebahagiaannya.


Sementara Aurora dan Arsen berjalan berdampingan memasuki aula proom night. Mereka berjalan dengan langkah pelan, membuat orang-orang yang berada disana melihat kearah pintu. Dua orang itu terlihat sangat kompak. Cantik dan tampan, mereka sangat cocok sebagai kembaran.


Keduanya diarahkan oleh petugas.untuk menuju tempat para murid berkumpul. Mereka semua tengah mengobrol satu sama lain. Para orang tua belum datang karena belum waktunya, sekarang adalah waktu untuk para murid mempersiapkan semua penampilan nya agar menjadi sempurna.


Aurora dengar acara pertama nanti adalah untuk pembagian prestasi yang akan disaksikan langsung oleh seluruh wali murid yang hadir. Setelah itu adalah acara dansa dan para orang tua dipersilahkan untuk meninggalkan gedung karena memang ini tidak diwajibkan. Acara ini hanya untuk perayaaan saja.


Arsen menggandeng tangan Aurora menuju kearah gerombolan temannya. Mereka sudah tiba sejak tadi dan terus menelponinya, sementara Arsen tengah sibuk menunggu Aurora berdandan.


Aurora sempat menolak tarikan tangan abangnya dan berniat mencari teman-temannya sendiri, namun Arsen tidak memperbolehkan karena disini cukup ramai dan ia tidak ingin Aurora tersesat. Akhirnya Aurora menurut saja.


Disana sudah terdapat teman abangnya, dari Karel, Dava, Stefano, Jaka dan Elano? Aurora mendadak berjalan kaki saat matanya bersibobrok dengan mata Elano yang menatapnya terus hingga ia sampai di meja mereka.


Anjir, gue jadi tengsin... batin Aurora kikuk


"Baru segini yang dateng?" tanya Arsen


"Wehhh.. akhirnya datang juga. Sagara sama Aland doang yang belum dateng. " sahut Dava


"Terus ngapain lo nelpon gue terus hah! " kesal Arsen


"Nggak papa sih, gue disuruh Karel. " sahut Dava


"Apa-apaan! Lo sendiri yang nelpon kok bilang-bilang gue. " sewot Karel yang ditanggapi cengiran oleh Dava.


Aurora menarik jas Arsen, " Aku cari sahabat aku dulu ya bang? " izinnya


Mereka langsung mengalihkan pandangan kearah Aurora yang sedari tadi tak kasat mata, mereka baru menyadari ada Aurora dibalik tubuh Arsen. Dava dan Karel melotot melihat penampilan Aurora yang sangat berbeda dari biasanya.


"Anjir! Ini lo Aurora? "


"Buset cantik banget... " puji Dava melongo


"Bener.Kita yang biasanya liat lo pakai baju kedodoran tiba-tiba pakai gaun feminim kaya gini langsung berubah jadi princess... " sahut Karel


"Lo cantik malam ini ra. " angguk Stefano setuju


Aurora tersenyum kaku, ia juga ingin bebas membalas pujian mereka namun karena ada kehadiran Elano disini yang sedari tadi menatapnya membuat Aurora salah tingkah. Bagaimana tidak Elano benar-benar terus menatapnya dari ia jalan sampai berada di depannya.


"Kedip dong El. Jangan natap Aurora kaya gitu, ngesalting dia. " tawa Karel menyenggol lengan Elano membuat Elano mendengus.


"Saking cantiknya sampai nggak kedip, ya? " goda Jaka


"Apaan sih. " dengus Elano


"Cielahhh... " goda Karel dan Dava membuat Elano berjalan menjauh meninggalkan tempat itu.


"Nah, lo ngambek kan. " ujar Jaka


"Pangeran lo nggak mau dikejar, Ra? " goda Dava


Aurora menatap cowok itu dengan kesal, karena tidak ada Elano membuatnya sedikit lebih leluasa bertindak. Jika ada Elano, entah kenapa Aurora merasa grogi.


"Apaan dah! Kalian tuh yang buat dia kaya gitu. " cercar Aurora


"Iya deh iya, sorry. "


"Btw, cewek-cewek sahabat lo mana? "


Belum sempat membalas, suara cempreng seseorang langsung memasuki indra pendengaran mereka. Jelas mereka tahu siapa pemilik suara toa itu.


"AURORAAAAAAAA.... "


Celline berlari dibelakang nya ada Jovanya bersama Sagara. Mereka berdua berjalan santai berbeda dengan Celline yang berlari. Aurora merasa lega ketika gadis itu mengenakan flatshoes, jika memakai hells jelas itu bakal berbahay-


"AAAAA.. "


Bruk*


Sekitar dua meter dari jarak mereka menunggu, kaki Celline keseleo membuat larinya oleng. Celline sudah memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ia tidak merasakan apapun.


"Buka mata lo. Kalau jalan itu hati-hati. "


Suara itu berhasil membuat Celline membuka matanya dengan cepat, terpampang wajah Stefano di depan wajahnya.


"Ihhh apaan sih! "


"Bagus di tolongin. " dengus Stefano berjalan kembali menuju temannya berada.


Celline mengusap lengannya dan memegang tatanan rambutnya, untung saja tidak rusak.


"Aur-"


"Lo nggak papa Cell?" tanya Jovanya berlari mendekat diikuti Sagara


"G-gue nggak papa kok. "


Pluk*


Jovanya menggetok kepala Celline dengan pelan, " Makanya jangan pecicilan! " geramnya


"Ya sorry. "


"Salsa mana? " tanya Aurora saat tidak melihat kehadiran gadis itu. Bukannya ia berangkat dengan Jovanya? Kenapa tidak ada?


"Ohhh dia lagi sama Aland. " sahut Jovanya


Salsa dan Aland pun datang bersamaan dengan acara gladi bersih. Mereka semua tengah mempersiapkan penampilan terbaik mereka.


Kelas Arsen dan Aland dkk menampilkan acara musikal , mereka telah berlatih rajin sebelum kegiatan. Sementara ada juga yang akan menampilkan puisi, nyanyi, drama dan lainnya.


"Perhatian guyssss!! Disini gue udah ngecek seluruh penampilan dari masing-masing kelas. Tapi ada dua kelas yang belum ngajuin perform buat nanti. Kelasnya 12 IPA 3 dan 12 IPS 1...jika dari kedua kelas itu tidak ada yang mewakilkan, maka dengan terpaksa dua kelas itu akan membayar denda yang lumayan besar."


"Jadi dimohon untuk perwakilan nya, kami tunggu di belakang panggung ya guyss.. thank you! "


MC itu turun dari atas panggung. Para murid berbisik dan mencemooh kelas itu yang tidak mau mengirimkan pentas apapun.


"Itu kelas Elano dan Aurora kan? "


"Iya bener. Wah parah, masa nggak ada yang mau tampil... "


"Gimana dong Jo? Kelas kita nih... " bisik Celline


"Gue juga nggak tau. Si Billy gimana sih sebagai ketua kelas... " decak Jovanya


"Billlyyyyy!!! " teriak Jovanya saat melihat cowok itu tengah berjalan diantara kerumunan.


"Ya Van? "


"Kok sampai nggak ada yang maju sih, Bill... "


"Aduhh... temen kelas kita nggak ada yang pandai dalam bidang seni. Mereka nolak tampil, Van. Gue juga bingung ini.. " terlihat jelas raut cemasnya


Karel dan Sagara datang, mereka tengah mencari keberadaan Elano.


"IPA 3 kelas lo kan, Aurora? " tanya Sagara


"Iya."


Merek tengah sama-sama bingung mau bagaimana, " Apa kita bayar aja uang denda itu? " celetuk Jovanya


"Anjir! Lo nggak tau seberapa besar denda itu. Bukannya nggak mampu bayar tapi kalau uang pribadi buat mbayar itu doang, ya mikir-mikir dulu lah. Dan mau patungan sekelas di kondisi kaya gini juga nggak bakal bisa. " jawab Karel


"Bener juga. Terus gimana dong. "


"Gimana kalau..... " Sagara menjeda kalimatnya, dan matanya berbinar ketika melihat Elano tengah berjalan kearah mereka dan matanya melirik kearah Aurora yang tengah menunggu jawabannya.


Perasaan gue nggak enak.. batin Aurora


"Gimana kalau Aurora duet lagu sama Elano????? " usul Sagara


"NAH COCOK!! " teriak Celline setuju


"Apa-apaan nggak lah! Lagian kita belum latihan, yang ada nanti malu-maluin! " tolak Aurora menggeleng keras.


"Gimana El, lo mau kan? " tanya Sagara menatap Elano dengan berharap.


Elano terdiam dan melirik kearah Aurora yang menggelengkan kepalanya, memintanya untuk menolak.


"Gue mau. "


Aurora melongo mendengarnya. Sementara teman-temannya bersorak senang atas ucapan Elano yang berhasil menyelesaikan masalah mereka dengan cepat. Berbeda dengan Aurora yang berdecak kesal. Dirinya sudah jarang menyanyi dan tanpa berlatih, ia mana tahu seperti apa suaranya sekarang.


Bagaimana jika memalukan?


"Nggak usah khawatir. " bisik Elano disampingnya membuat Aurora teregun.


Bersambung......



Ekpresi Aurora mendengar jawaban Elano:v


📥TINGGALKAN KOMENTAR DAN JEJAK