
...HAPPY READING📖...
Seorang gadis tengah menumpukan kakinya dilantai menerima beberapa pukulan ditubuhnya. Tak ada perlawanan, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya. Menggenggam erat tangannya untuk menahan teriak yang begitu menyengat hati. Pandangannya sangat kosong namun sesekali bibirnya tersungging ke atas ketika merasakan sakit akibat pukulan dan cambukan itu.
"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA!! "
"SAYA MEMBESARKANMU UNTUK MENJADI KAYA BUKAN JUSTRU MENJADI MISKIN SEPERTI INI. "
CTARR
DUGHH
Memukul dan mencambuknya dengan kencang seperti melampiaskan emosinya melalui kegiatan kejam seperti ini. Sila gadis itu diam dan diam menikmati rasa sakit yang ayahnya berikan padanya.
Beberapa hari lalu, setelah dirinya sedikit merasa puas karena berhasil membuat kedua gadis itu celaka. Sehari kemudian ia pulang kerumah dan justru mendapatkan amukan besar dari ayahnya. Alasannya sangat membuatnya tercengang. Perusahaan ayahnya bangkrut dengan tiba-tiba. Beberapa proyek dan kerjasama dengan perusahaan lain tiba-tiba mendapatkan penolakan dan pembatalan. Tak hanya itu, ternyata seluruh saham ayahnya di perusahaan sudah dibeli atau beralih kepada orang lain dan itu tanpa sepengetahuan nya. Kendati demikian, ayahnya mendapatkan sebuah pesan dari seseorang bahwa ini adalah akibat dari anaknya yang telah mengusik orang yang ia sayang. Ayah Sila marah besar padanya bahkan sampai sekarang setiap ia melihat Sila pasti selalu terpancing emosinya dan berakhir menyiksanya.
"TIDAK BERGUNA! "
BRAKK
Ia keluar dan membanting pintu rumah dengan kencang , meninggalkan Sila yang masih terduduk diatas lantai dengan pandangan kosong. Memejamkan matanya dan tiba-tiba emosi melingkupi kepalanya. Sila mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya penuh amarah. Sorot matanya terlihat tajam dan buram.
Siapa yang telah melakukan ini padanya? Satu nama yang ia pegang saat ini dan ia sangat yakin jika orang itu yang telah melakukan ini padanya.
"Kurang ajar. " gertaknya
"Aurora... " giginya bergemelatuk saat mengatakan nama itu.
Dia tertawa dengan kencang menciptakan gema di rumah kecil itu.
"Seharusnya kemarin aku membuatmu mati saja. " dia terkikik
"Ohh bahkan dulu setelah aku meracunimu dua kali kau masih saja hidup, sesayang itukah Tuhan padamu? Atau kau cukup beruntung? " senyuman miring tercetak disana.
Sila tertawa saat mengingat waktu dirinya berada di Jerman dan bertemu dengan gadis itu. Dia yang tidak menyukainya karena gadis itu pernah mempermalukannya waktu di Universitas Jerman dengan merebut posisinya. Bagaimana selanjutnya ia mengirim makanan dibumbui racun sianida disana, sebagai hadiah kelulusan. Padahal ia sudah sangat senang melakukan itu dan menganggap bahwa gadis itu telah mati keracunan.
Setelah kelulusan Sila pulang ke Indonesia karena mamahnya meninggal dan berakhir kembali melanjutkan sekolahnya di Indonesia. Awalnya berjalan lancar namun, cukup tekejut ketika di kantin ia bertemu dengan dia lagi. Sila mengumpat mengingatnya. Gadis itu cukup kuat bahkan dengan racun sekalipun? Atau ia tidak memakannya?
Dendam Sila berlanjut ketika orang yang ia sukai ternyata adalah kekasih darinya. Berbagai cara ia lakukan untuk membuat gadis itu sengsara namun cukup terkejut ternyata sifatnya telah berubah 180 derajat. Bahkan, dia tidak mengenalinya? Apa dia hilang ingatan?
Sikapnya sangat berubah dari gadis cupu dan minimalis kini menjadi gadis yang pemberani dan tangguh, membuatnya sedikit kewalahan untuk menyingkirkan nya.
"Dia melupakanku? " tawanya
Sila tidak tahu saja bahwa Aurora memang sudah mati dan rencananya berhasil untuk membunuh Aurora. Namun,Tuhan berkehendak lain dan menempatkan jiwa Claudia di tubuh Aurora.
"Sial."
Sila terdiam menatap kedepan sedetik kemudian ujung bibirnya naik ketika otaknya bekerja dengan baik dan menemukan rencana yang luar biasa. Dia tertawa. Ini kan menarik.
"Apasih kok gue tiba-tiba merinding. " gumam Aurora yang tengah sibuk membaca buku dihalaman belakang. Ia duduk diatas ayunan berbentuk seperti sangkar.
"Dek... "
"Ya, bang? "
Arsen mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi rotan. Penampilan nya sederhana dengan celana pendek hitam beserta kaos oblong putih.
"Udah siapin baju buat acara nanti malam? "
"Belum, " sahut Aurora
"Yaudah kita beli yuk. " ajak Arsen semangat
Aurora menggelengkan kepala menolak, " Gaun di dilemari masih banyak yang jarang dipakai bang.. "
"Lho, udah ada gaun warna putih? " tanya Arsen
Aurora mengeryit.
"Emang ditentuin pakai dresscode nya? "
"Iya. Cowo pakai kemeja item dan cewe bergaun putih. Tema nya white black. " jawab Arsen
Aurora mendengus. Jika begitu ia belum mempunyai gaun berwarna putih. Dilemari Aurora banyak warna gaun yang mewah dan berarneka warna, namun untuk yang putih entah kenapa belum ada.
"Non Aurora... " panggil bi Asik
"Ya , bi? "
"Ini Non ada paket dari seseorang, katanya buat Non Aurora. "
"Ohh, makasih bi. "
"Sama-sama Non. "
Bi Asik berjalan meninggalkannya. Aurora memandang kotak ditangannya dengan dahi mengkerut. Siapa yang mengirimnya kotak ini? Dan apa isinya..
"Dari siapa dek? " tanya Arsen mendekat
Aurora tak menjawab dan meletakkan kotak itu di pangkuannya lalu membuka kotak itu. Betapa terkejut nya saat melihat isi kotak hitam itu. Disana terlihat sebuah gaun berwarna putih lengkap dengan sepatu heels berwarna senada pula.
Aurora mengambil gaun itu dan mencocokkan pada tubuhnya dan ternyata sangat pas. Lalu meneliti kotak itu dan membaca stik note yang tertempel disana.
Aurora terkekeh saat membaca nama Elano yang diganti namanya. Cukup terkejut ternyata cowok itu mengirimkan paket seperti ini padanya. Astaga romantis sekali...
"Dari siapa? " tanya Arsen lagi sembari meneliti gaun itu.
"Elano bang. "
Arsen mengangguk. Dan merentangkan gaun itu untuk melihat seperti apa modelnya. Gaun ini hanya sebatas bawah lutut dengan potongan lengan pendek. Berwarna putih bersih dengan aksen yang sederhana namun elegant. Aurora pasti mengukainya. Arsen cukup terkesan dengan bagaimana pemilihan Elano yang sedetail ini. Itu tandanya lelaki itu memang bersungguh-sungguh dengan adiknya.
"Nggak jadi beli dong bang. "
"Iya juga. Terus abang beli sama siapa? " tanya Arsen entah pada siapa
"Ajak Laura bang. Kalian kan aku lihat udah jarang banget ngedate. Nah.. ini saatnya... " saran Aurora dengan semangat
"Tapi ... "
"Tapi apa lagi sih , bang?"
"Abang belum berani nge publish semuanya di depan umum. " racau Arsen murung
Aurora menghela napas pelan, "Coba dulu, bang. "
"Lagian nih ya. Yang disuruh jauhin Laura itu aku bang bukan kamu. Dan keluarga kita juga nggak ada masalah sama keluarga Laura beda sama keluarga Elano. Jadi, menurut ku sih itu nggak akan berdampak sama hubungan kalian. "
"Tapi lo bakal jadi menantu om Victor ogeb, dan keluarga kita juga bakal ngegandeng keluarga Elano. Sementara kalau abang sama Laura , apa nggak papa keluarga Aldebaran menjadi menantu dari dua keluarga besar itu? Alister dan Brijaya? "
"Justru bakal jadi sejarah keluarga Aldebaran lah bang.. karena bisa menyatukan dua keluarga itu dalam satu keluarga. " sahut Aurora tertawa
"Ya, itu kalau berhasil, kalau nggak? Keluarga kita juga yang bakal pertama kali hancur. " dengus Arsen
Aurora menepuk pundak Arsen, " Yaelah percaya sama aku deh.. Semua bakal baik-naik aja selama Aurora masih ada disini, aku jamin itu. " Aurora tersenyum penuh arti
"Halah.. kaya peramal aja. " ejek Arsen
Aurora memukul kepala Arsen dengan pelan, " Iya dong bang! Aku tuh IndiHome. "seru Aurora
" IndiHome apaan, adanya mah Idih-idih.. " ejek Arsen kemudian tertawa meninggalkan Aurora yang mencak-mencak di tempat.
Aurora berjalan mengendap-endap untuk keluar dari rumah pagi ini. Ia mengendarai motornya menuju sebuah rumah kosong di jalan Ampelgading.
Setelah pembicaraan nya dengan Arsen tadi pagi, ia merenung dan entah karena apa, tiba-tiba ia mengingat sebuah plot twist dalam novel For You. Dimana waktu Salsa diculik ia dibawa ke sebuah rumah kosong dan disekap disana. Gadis itu menemukan sebuah kertas yang terselip di ventilasi udara saat dirinya hendak kabur. Surat itu berisi sebuah catatan dari seseorang.
Dan surat itu tanpa sengaja berhasil sampai di tangan ayah Laura yang awalnya terselip dan terjatuh dari saku Salsa yang waktu itu tengah berada di sekolah, tepatnya ketika pembagian nilai rapor semester akhir.
Singkat cerita di surat itu merupakan bukti bahwa ibu atau istri dari ayah Laura tidaklah meninggal karena sebuah serangan yang direncanakan oleh ayah Elano, melainkan memang murni kecelakaan. Surat itu adalah catatan sehari sebelum kejadian naas itu terjadi. Sejak dipenjaranya Laura, Salsa pun diangkat menjadi anak angkat oleh om Gerald. Kedua keluarga itu pun kembali damai, dengan ibu Salsa yang memang sudah menikah dengan ayah Elano om Victor.
Karena sekarang Salsa sudah berubah menjadi pemeran pendukung, bukankah kini giliran Aurora yang berperan melakukan itu?
Setidaknya ini akan menjadi usahanya terkahir kali sebelum semua cerita tamat dan dirinya berhasil kembali ke dunia nyata. Walaupun masih ada pertanyaan di benaknya, yaitu siapa yang telah meracuni Aurora asli....
BERSAMBUNG....
Tingalkan jejak ya:>
🛎Cek profil Aku untuk melihat banyak lagi cerita yang aku buat.. ditunggu disana ya🚀