AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
38# [Rencana Murahan]



HAPPY READING


💥💥💥


Malam minggu adalah malam yang sangat ditunggu oleh beberapa remaja,termasuk Arsen dan para sahabatnya yag sekarang sedang berada disebuah club milik keluarga Dava.


Sebenarnya acara perayaan ulang tahun Dava hanya dirayakan oleh sahabat serta beberapa kenalan Dava,menjadikannya tidak terlalu ramai hanya lelaki saja yang diundang,selain pada malam hari tentu saja karena berada di club jarang ada perempuan disana,kecuali ya you know lah.


"Lo gak ajak Aurora,Sen?" tanya Dava yang datang dan duduk di samping Arsen.


"Udah,tapi dia gak mau." jawab Arsen.


Dava mengangguk ,ia menepuk tangan untuk memanggil waiters.


"Kalian mau minum?" tanya Dava


"Boleh,"


Mereka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama dengan sesekali Dava pamit untuk menemui temannya.Club milik keluarga Dava merupakan club yang terkenal oleh para pembisnis,banyak yang datnag kesana untuk bermain ataupun sekedar minum.


Arsen dan yang lainnya tidak meminum alkohol yang kadarnya tinggi,merek hanya memesan alkohol dengan intensitas rendah agar tidak mabuk.


💥


💥


Berbeda dengan Aurora yang sedang sibuk mengutak-atik ponselnya,ia berniat akan membuka rekaman yang ia dapatkan di kafe.


"Gimana sih ini," gerutu Aurora.


Setelah beberapa saat akhirnya Aurora


bisa menemukan rekaman itu, ia pun menyetel nya dan mendengar kan.


Awalnya hanya percakapan biasa namun saat terakhir, ia langsung terdiam.


Setelah itu Aurora langsung mematikan rekaman itu dan membuka kontak Arsen dengan terburu-buru.


"Angkat njir. " ucap Aurora sambil berjalan bolak-balik di kamarnya.


Hanya ada deringan saja, membuat Aurora gelisah. Aurora mematikan telepon itu dan menghubungi Elano, untung saja langsung diangkat, Aurora suka respon Elano yang cepat ketika ia telepon.


"Apa? "


"Kamu tau tempat club milik Dava? "


"Tau, kenapa? "


"KIRIM SEKARANG, OKE!! "


Setelah itu Aurora mematikan ponselnya tanpa menunggu respon Elano.


Tak lama Elano langsung mengirim apa yang diminta oleh Aurora, ia sempat bingung, namun ia akan menanyakannya lagi nanti.


Setelah mendapat alamat dari Elano, Aurora menyambar sebuah jaket dan langsung keluar dari kamar, berjalan menuruni tangga dengan cepat.


"Mau kemana kamu? "


"Hei, jawab mamah. "


Teriakan itu Aurora hiraukan, ia memakai jaket sambil berlari tergesa-gesa menuju bagasi motor.


Aurora mengambil kunci motor dan langsung menyalakan mesin keluar dari pekarangan rumahnya.


"Kita bakal jebak Arsen waktu di Club, gue denger sahabatnya mau adain acara disana."


" Tentu saja, gue udah rencanain ini sama Sila, dia suka sama Arsen tapi selalu ditolak.Kita bisa jadiin itu sebagai alasan nanti. Kita buat Aurora hancur melewati abangnya itu. "


"Gue udah taruh beberapa anak buah disana dan Sila tentunya"


" ide yang lumayan. "


Aurora mendengarnya, ia menyesal karena tidak membuka rekaman itu lebih cepat. Jika iya, Aurora akan mencegah Arsen pergi sendirian.


Aurora terus melajuka motornya kencang,ia berharap abangnya itu belum melakukan sesuatu yang merugikan nama keluarga.


Aurora telah sampai di sebuah Club milik Dava, ia melepas helmnya. Masih dengan posisi duduk diatas motor, Aurora kembali menelpon Arsen.


"Angkat dong bang. " cemas Aurora, ia ingin masuk kesana namun jika sendirian seperti ini bukannya menemukan Arsen malah ia yang akan kenapa-napa nanti, bagaimana pun ini club.


"Sial*n awas aja kalo sampai itu terjadi, gak bakal gue restuin sama Laura. "


Aurora terus menelpon Arsen, sampai di panggilan ke-9 baru diangkat oleh sang empu.


"WOII ANJI*G!!"


Arsen yang dalam keadaan masih sadar walaupun sedikit pusing, terkejut saat mendengar suara teriakan kencang sekaligus umpatan itu, ia sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Kenapa lo? '' tanya Jaka


" Orang telpon langsung ngegas. " ucap Arsen .


"Emang siapa? "


Arsen pun langsung mengecek siapa orang yang berani berkata seperti itu padanya.


Setelah mengeceknya ia baru tahu bahwa itu adalah adiknya Aurora.


"BANG ARSEN!!! PULANG SEKARANG!!! "


Arsen kembali menjauhkan telponnya dari telinga saat mendengar hentakan lagi dari adiknya itu.


"Aurora?? " tanya Stefano yang dibalas anggukan oleh Arsen.


"Kenapa sih dek? " tanya Arsen bingung.


"PULANG BANG! SEBELUM LO NYESEL!! GUA ADA DI DEPAN CLUB, BURUAN!!! "


"Gue lagi bar-"


"BANG ARSEN!!! " teriak Aurora geregetan.


Arsen gelagapan sendiri, "iya iyaa gue keluar. "


"Gue keluar dulu . " pamit Arsen pada sahabatnya.


"Mau kemana dia? " tanya Dava saat tiba disana namun justru Arsen pegi.


Stefano mengedikan bahunya, "tadi ditelfon sama Aurora. "


Arsen berlari keluar dengan tergesa-gesa saat diseberang sana adiknya si Aurora terus saja berteriak padanya, membuat Arsen khawatir sekaligus bingung.


Bruk!


"KELUAR BANG!! AT-"


Arsen mengecilkan panggilan Aurora dan membantu gadis itu berdiri.


"Lo gak pa-, Sila? ngapain lo disini? " ucap Arsen bingung.


Sementara Aurora yang mendengarnya pun terdiam sejenak, "Sila? wah gawat.. jangan sampai terjadi. "


Aurora terus memanggil Arsen sampai suaranya sedikit serak, "rasanya gue pengen nerobos masuk, njir. " hati Aurora sangat cemas ia tak bisa berdiam diri di tempat.


Aurora bimbang antara masuk atau tidak.


"BANG ARSENNNNN!!! WOII JAWAB GUE!! SUMPAH, SAMPAI LO BERBUAT SESUATU GUE ORANG PERTAMA YANG BAKAL BENCI SAMA LO! !! "


"CEPETAN KELUAR BANG!! GUE GAK BAKAL IJININ LO SAMA LAURA KALAU LO GAK PULANG SEKARANG!!! " teriak Aurora


"Kenapa sih? abang mau bantu Sila, kakinya keseleo. " ucap Arsen diseberang sana.


"BIARIN AJA, PLISS DENGERIN GUE SEBELUM LO MERAWANIN ORANG Njir!!"teriak Aurora geregetan, abangnya kenapa ngeyel sekali.


" Biarin aja bang, tinggalin dia, lo suruh temen lo bawa Sila, jangan lo! " ucap Aurora dengan mengecilkan nada ucapannya.


"Ok-"


"Awsshh.. sakit banget. " terdengar suara ringisan Sila.


Aurora meneguk ludahnya mengumpulkan kembali suaranya, "bang, pliss, keluar SEKARANGGGG!!! "


Arsen meringis mendengar suara menggelegar milik Aurora, beruntung sekali Jaka datang menghampiri keduanya.


"Mending lo keluar aja, gue kasihan sama pita suara adik lo itu, kalo tiba-tiba gaak bisa ngomong gimana? udah biar ini gua sama Dava yang ngurus. " ucap Jaka


"Lo sama Jaka, sekali lagi sorry. "


Arsen bersiap lari namun tangannya di pegang oleh Sila, " lo harus tanggungjawab Sen, ini sakit banget. "


Arsen menghentakkan tangan Sila, "sorry, gue lebih takut amukan Aurora daripada kasihan sama lo. "


Setelah mengatakan itu Arsen langsung pergi dari sana.


"Nanti gue suruh pelayan disini buat bantu lo-"


"Gue gak papa. " potong Sila kemudian pergi dari hadapan Jaka dengan jalan seperti biasa.


"Katanya keseleo? wah parah tuh cewek. " Jaka menggeleng tak habis pikir melihatnya.


Arsen sudah berada diluar Club, ia melihat Aurora di parkiran dan langsung berlari kesana.


"Kena-"


Ucapan Arsen terhenti saat Aurora menerjang Arsen dengan pelukan. Arsen yang masih dalam mode bingung pun hanya membalas pelukan itu.


Pikiran Arsen blank sekarang, dia sedang pusing karena alkohol tiba-tiba Aurora menelponnya dan berteriak memakinya untuk keluar.


"Ada apa? bikin abang bingung aja. " tanya Arsen saat sudah melepas pelukan sambil mengusap rambutnya kebelakang.


"Nanti dirumah bang, aku capek teriak-teriak. " ucap Aurora dengan suara seraknya.


"Lagian ngapain teriak-teriak, abang gak budeg. "


"Demi abang selamat dan rencana mereka gagal. " batin Aurora


"Sial*n rencana gue gagal gara-gara cewek itu lagi. " ucap Sila yang melihat mereka pergi dari sana.


💥


"Kenapa suruh abang pulang? "


Setelah sampai dirumah Aurora langsung diintimidasi oleh abangnya itu. Mereka sedang ada di dalam kamar Aurora.


"Nih!! dengerin sendiri. " Aurora melemparkan ponselnya kearah Arsen dan langsung ditangkap olehnya.


"Apaan? "


Tanya Arsen saat sudah menangkap dan melihat ponsel milik adiknya itu, hanya ada sebuah rekaman suara yang tertampil dilayar ponsel.


"Buka aja sih, " ucap Aurora cuek, ia masih kesal dengan abangnya itu.


Arsen duduk diranjang disamping Aurora, namun Aurora langsung pindah ke kursi belajarnya.


Arsen mengeryit bingung, "ngambek pasti dia. " batin Arsen


Arsen menghiraukan adiknya yang sedang kesal padanya, ia langsung membuka rekaman suara itu.


Awalnya memang hanya obrolan biasa namun saat akhiran ia tau apa yang menjadikan adiknya itu bersikap seperti itu padanya.


"Siapa? " tanya Arsen


"Udah didengerin belum sih? massa gak kenal sama suara itu. " ucap Aurora


"Lah ya mana abang tau, suaranya kecil gitu mana berisik lagi. " ucap Arsen


"Adalah pokoknya orang.. "


Arsen berdecak menghampiri Aurora, "udah jangan manyun gitu, yang penting gak terjadi kan? " ucap Arsen sambil mengelus pucuk kepala Aurora.


Aurora langsung berdiri, "Terus kalau aku gak kesana tetap gak bakal terjadi gitu?! aku teriak-teriak suruh abang keluar tapi abang hirauin teriakanku, lama banget lagi, kalau abang tetep bantu Sila gimana??? Rara gak suka!! " teriak Aurora dengan ekspresi kesalnya.


"iyaa iyaa maaf.. " Arsen memeluk Aurora agar gadis itu tidak kembali marah padanya.


"Abang pasti bakal kesenengan merewanin anak orang... " celetuk Aurora dipelukan Arsen.


Arsen melepaskan pelukannya, " mana ada kaya gitu, yang ada abang bakal kena masalah. " ucap Arsen


"Halah.. bilangnya sih gitu, tapi nyatanya kalau malam pasti kepikiran terus dan lama-lama pengin terus. " ucap Aurora sinis.


"Siapa yang ngomong gitu,? abang gak gitu ya.... " bela Arsen


Aurora bersedekap dada, " abang kan cowok, semua cowok kan sama aja! "


💥


💥


Hai🙋‍♀️


Like, vote, favorit, coment dan beri hadiah yaw...


see you next chapter!!💥