
Happy Reading
☃☃☃
Sementara Elano kini berada di sebuah koridor untuk menelpon seseorang yang berani membuatnya merasa kesal seperti ini.
gGetara pada sau celananya membuat Aurora langsung merogoh saku seragamnya.Aurora yang sedang mengobrol bersama Abigail pun langsung mengangkat telepon dari Elano.
"Halo, ada apa El??? " tanya Aurora namun beberapa detik belum ada jawaban.
"Elano??? " panggil Aurora.
Elano disana hanya diam mendengarkan suara Aurora.
"El?? Elano?! "
"Jauhi bocah jelek itu. " setelah beberapa detik akhirnya suara Elano terdengar.
"Bocah jelek? siapa emang? " tanya Aurora bingung
Elano berdecak, " ck.cowok yang sedang bersamamu sekarang. "
"Ohh Abigail???memang kenapa El?"
"Jangan deket-deket dia,nanti kena kuman, aku gak mau tau pokoknya jangan deket-deket! "
Aurora menahan senyum ," kamu cemburu El? " goda Aurora
"Gak! "
"Jujur aja Elano, kamu cemburu kan?? "
"Gak! "
"Jauhi dia! dan tunggu aku kembali. "
Setelah mengatakan itu telepon dari Elano pun berakhir, membuat Aurora tersenyum lebar, ia baru pertama kali melihat Elano cemburu padanya namu sepertinya dia gengsi mengungkapkan nya.
"Siapa kak? kak Elano yang nelpon ya? " tanya Abigail
Aurora mengangguk sambil menahan senyum agar tidak terbit dari bibirnya.
Sementara Elano langsung menonjok dinding di sampingnya sedikit keras, "gue gak cemburu!! " ucapnya datar
Elano kembali berjalan menuju ruangan ayahnya berada dan langsung duduk didepan ayahnya.
"Sudah? " tanya Victor
"Hmm, "
Elano dapat melihat Radit tengah sibuk dengan komputer nya,
"Ada apa? " tanya Elano
"Ayah mau kamu sama Radit untuk mencari tahu kecurangan di perusahaan cabang ayah, Radit sudah tau, kamu tinggal merancangnya dengan Radit. " ucap Victor
"Kenapa harus Elano? ayah pasti bisa menyelesaikan nya sendiri, itu cuma perusahaan cabang yah..." ucap Elano datar
"Hanya untuk mengujimu , sebagai penerus ayah kamu harus bisa menyelesaikan masalah apapun itu. " terang Victor pada Elano.
"Hanya itu?? baik, Elano terima."
"Bagus, goodluck boy! " ucap Victor kemudian pergi dari sana menyisakan Elano dan Radit.
Elano berjalan mendekati Radit, " apa masalah nya? "
"Hanya pengurangan beberapa aset alat produksi,jika dilihat dari pendapatan seharusnya alat disana semakin bertambah banyak dengan kualitas yang baik, namun setelah diteliti semua mesin masih sama belum ada penambahan se unit pun.. " jelas Radit
"laporan keuangan? "
"Ada, namun saat gue memintanya namun mereka bilang sedang ada revisi, sekarang belum ada laporan keuangan. " jawab Radit.
"Udah? tanpa penjelasan pun gue udah tau problem nya dimana. "
"Ck.mengganggu saja. " gumam Elano kesal karena ayahnya pasti sengaja memberikan tugas ini agar dirinya tidak bisa berdekatan dengan Aurora sepuasnya. Lelaki tua itu menyebalkan sekali.
☃☃☃☃
Setelah kejadian tadi sekarang Laura dan Arsen sedang berada rooftop sekolah.Laura sejak dari tadi terus memegang bibirnya, semua terlihat oleh Arsen.
Arsen melepaskan tangan Laura dari bibirnya, "kenapa dipegang terus?? "
Laura mati-matian menahan ekspresi wajahnya saat mendengar suara Arsen, " parah banget abangnya Aurora, bisa-bisa gue baper kalau gini terus. " batin Laura
"Arsen, kenapa lo nyium gue di depan umum sih?? maluu tauu... "
"Kenapa malu? kan biar mereka tau kalau lo pacar gue. " ucap Arsen memegang tangan Laura lembut.
"Tapi jangan di depan umum juga.. " gemas Laura dengan wajah merah padamnya, sekuat tenaga Laura menahannya pipinya tetap memerah.
"Berarti sekarang boleh dong? kan gak di depan umum. " tanya Arsen dengan nada jahilnya melihat kegugupan Laura.
Laura mengalihkan pandangannya saat mendengar perkataan Arsen, Arsen menarik dagu Laura agar menghadap padanya, "gue gak mau lo ngejar Aland lagi, lo milik gue Laura,stop kejar dia.. " ucap Arsen
Saat keduanya saling bertatapan tiba-tiba saku celana Arsen bergetar, ia pun berdecak kesal saat melihat panggilan vidio dari adiknya itu, siapa lagi kalau bukan Aurora.
"Apa? " ucap Arsen dengan ketus.
"Selow bang selow.. mau ngingetin jangan macem-macem sama sahabat baru gue, awas kalau lo macem-macem gue bakal aduin ke mamah. " ancam Aurora diseberang sana.
Arsen hanya memutar bola matanya malas.
"Btw mana Laura? "
Arsen pun mengarahkan telpon ke arah Laura, "kenapa? " tanya Laura saat melihat Aurora disana.
"Gak papa sih wkwkwk.. "
Disisi lain Abigail melihat Aurora yang sedang video call pun bertanya, " vc sama siapa kak?? " tanya Abigail sambil melihat ke layar ponsel milik Aurora.
"Loh kak Laura?? " kagetnya.
"Tunggu kalian saling kenal?? " tanya Aurora bingung
"Dia kakak aku ka.. " jawab Abigail
Aurora tersentak kaget, " jadi dia adik lo Laura?? kok lo gak cerita?!! parah banget lo! " kesal Aurora sambil menatap Laura di telepon.
"Gue kira lo udah tau. "
"Gak lah! gue taunya Laura anak tunggal sama seperti di no- maksudnya di berita... " ucap Aurora tersendat sedikit.
"Berita mana?? Kita lima bersaudara kak Aurora. " ucap Abigail lagi-lagi membuat Aurora tekejut.
"LIMA???"
Aurora langsung menatap Laura menuntut penjelasan, "gue butuh penjelasan lo nanti. " ucap Aurora datar
"Iyaa iyaa. "
Arsen merebut ponselnya, " udah gak usah ganggu, kamu sama Elano aja sana! "
"Elano lagi pergi kak, jadi gue jomblo lagi sendrian. "
"Berarti kakak mau dong jadi pacar aku selama sehari aja?? " tanya Abigail berniat bercanda.
"Emm, boleh juga. " ucap Aurora enteng.
"Elano tau mampus lo!!! " ucap Arsen dan Laura berbarengan.
"Gak lah, dia kan lagi pergi , karena ada urusan. " ucap Aurora terkekeh saat mendengar mereka berdua berkata bersamaan.
Laura mendekati ponsel Arsen agar melihat wajah Aurora, "lo lupa sama cincin lo,?? " bisik Laura membuat Aurora terdiam kaku.
Astaga!Aurora melupakannya!
"Siap-siap aja. " ucap Laura mengejek Aurora yang terdiam.
"Bacot lo! "
Aurora langsung mematikan panggilan itu secara sepihak,
" Eh gak deh Bi, kakak udah ada Elano hehehe... jadi gak jadi pacar-pacaran, soalnya Elano itu baik banget sama kaka hehe.." ucap Aurora sambil mendekatkan bibirnya pada cincinnya.
"Santai aja kak," ucap Abigail sambil terkekeh juga.
"Maaf Elano, semoga lo gak denger. " harap Aurora dengan wajah pucatnya, Aurora takut Elano kembali brutal seperti awal mereka bertemu.
"Sayangnya aku mendengar semuanya. "
☃
☃
Hampir 3 hari Aurora tidak melihat Elano, lelaki itu juga jarang menelpon nya membuat Aurora penasaan.Sebenarnya kemana lelaki itu?
"Muka lo kenapa kusut gitu,?? " tanya Laura
"Gak papa. " jawab Aurora sambil menganggap dagunya di atas meja.
"Itu sih lagi galau namanya. " ucap Jovanya yang ikut duduk disana.
"Ciee yang lagi galau di tinggal pergi. " ucap Celline jahil.
Aurora hanya memandang mereka malas, "ck apaan sih ganggu aja kalian. "
"Btw kalian berdua udah punya pacar, gue doang yang masih jomblo. " ucap Celline lesu
Jovanya mengeryit, "gue juga kali." ralat Jovanya
"No! lo kan udah ada dia. " goda Celline
"Apaan sih lo, sok tau! "
"Tunggu dia siapa? " tanya Aurora
"Gak usah hirauin Celline, dia emang suka ngeship-in orang. " ucap Jovanya sementara Celline hanya tersenyum puas.
"Btw Ra, si Sila masih nginep di rumah lo?? " tanya Laura
"Laura nginep di rumah lo? kok bisa? " ucap Celline dan Jovanya bersama-sama.
"Kok lo ngikutin gue sih Cell! "
"Lo yang ngikutin gue Jo!"
"Jovanya not Jo!! " tegas Jovanya kesal
"Panjang ceritanya. " sahut Aurora
"Pendekin dong! " ucap Jovanya, Celline dan Laura bersamaan membuat Aurora melongo terkejut.
Mereka bertiga langsung saling bertatapan sesaat kemudian tertawa😂 atas tingkah konyol mereka bertiga, Aurora juga ikut terkekeh mendengarnya.
" Aduhhh prik banget asli. " ucap Celline sambil tertawa lepas sambil memegang perutnya.
Mereka kembali menahan untuk tidak tertawa dan melihat Aurora meminta penjelasan, Laura juga ingin tau karena Aurora belum sempat memberitahu nya.
"Tertawalah sepuasnya sebelum mati. "
☃
Hai🙋♀️
don't forget to..
Like👍Vote 🎟coment ✉️Beri hadiah📥🎁
See you next chapter!