
Happy Reading
*
*
*
"Lo bilang kenapa??!! lo... arghhh... " teriak Aurora frustasi dirinya tak menyangka Tata akan bertindak sejauh itu.
"Ada apa sih? "
"Lo tau gue udah cegah semua kejadian itu dengan datang langsung kesana, gue udah bilang sama Radit buat kasih tau Elano kalau motor mereka bakal disabotase, kenapa gue bilang lewat Radit? karena kalau gue bilang langsung Elano pasti curiga sama gue.Lo tau? gue udah atur semuanya dan sudah berjalan lancar dengan membekuk Steven saat dia buat Salsa sebagai tawanan. Gue udah bantu Stefano cari bukti-bukti buat jeblosin Steven ke penjara, semuanya udah gue pikir mateng-mateng karena gue gak mau ada yang terluka. Gue gak bisa hubungi lo karena itu gue gerak sendiri dibantu Radit. Semua itu gue lakuin sendiri dan berhasil tapi tiba-tiba Bima datang dan bubarin Xanderrior?? gue disitu langsung bingung dan merasa aneh... " jeda Aurora ia berusaha menahan luapan emosi .
"Dan ternyata memang ada yang aneh dengan kejadian itu, gue seneng tapi gue juga bingung secara bersamaan. Gue gak nyangka lo yang ngelakuin itu, lo tau dengan kecerobohan lo bisa membuat masalah yang baru... Arghhh! "
Laura terdiam menyerap semua ucapan Aurora di dalam benaknya.
"Tapi apa masalahnya? semuanya sudah kembali ke semula. "
"Iya memang sudah kembali, tapi Bima?? lo tau kan siapa dia?? secara gak langsung lo seret dia buat ikut campur alur novel Lauraaaaaa.... " geram Aurora
"Jadi lo nyalahin gue?? gue lakuin itu buat kita juga. " bela Laura karena dirinya juga menganggap apa yang ia lakukan sudah benar.
"Bukan nyalahin, tapi lo terlalu ceroboh! "
"Tapi kak Bima hanya minta gue jauhi lo dari Elano ra.. "
"Hanya??lo bilang hanya??? gue tanya lo sekarang, lo tau alasan dia nyuruh lo kaya gitu untuk apa??? " tanya Aurora serius
"Gue gak tau. "
"Itu masalahnya!! kenapa lo setuju semudah itu Laura, astaga... " desah Aurora frustasi
"Apa lo udah cinta sama Elano?? " tanya Laura serius
"Iya, gue cinta sama dia. " jawab Aurora to the point.
"Tapi bukannya kita sudah sepakat dulu untuk tidak memakai perasaan dengan tokoh siapapun?? lo lupa dengan itu?? " tuduh Laura
"Sekarang gue tanya balik sama lo. Kalau gue jauhin lo sama Arsen apa lo akan diam aja Laura?? "
"Gue udah janji buat jaga Arsen. "
"Itu!! itu yang gue rasain sekarang. "
Laura terdiam sejenak meresapi semua perkataan yang terlontar dari dirinya maupun Aurora. Laura akui dirinya sendikit ceroboh meminta bantuan kepada kakaknya itu. Namun waktu itu yang ia pikirkan adalah keselamatan Arsen, Laura juga ingin membantu Aurora untuk kembali menyatukan Delvandeer. Laura tak berpikir feedback nya yang akan mereka lalui setelah.
"Maaf... " lirih Laura
"Lo pikir dengan maaf bisa mengembalikan situasi?? " ucap Aurora ketus.
Sumpah mendengar ucapan ketus dari Aurora membuat hatinya sakit. Laura tau sahabatnya pasti tengah merasa kecewa padanya.
"Maaf Aurora... "
"Gue gak marah sama lo, gue hanya kecewa sama perbuatan lo.. "
"Aku bakal bilang sama kak Bima untuk merubah perjanjian itu, gue bakal coba bilang sama dia.. " bujuk Laura
Aurora menghela napas kasar memandang Laura dengan lembut tidak seperti sebelumnya, " Tata makasih atas semua bantuanmu dan gue apresiasi keberanian lo buat ngomong soal ini dengan Bima, tapi gue takut lo yang kenapa-napa.. " ucap Aurora lembut
"Gue bakal lakuin apapun agar lo gak kecewa sama gue. "
"Makasih."
"Tapi, gue baru aja kemarin searching kalau Bima itu bakal menjadi penerus ayah lo. Sedangkan Elano adalah calon penerus dari ayah Victor, aduh.. lo tau kan maksud gue?? "
Pikiran Aurora menjadi berantakan dan tidak terkendali, namun semoga saja apa yang ia pikirkan tidak terjadi.
"Perebutan kekuasaan?? "
"Ya."
"Maaf ini salah gue, gue yang nyeret kak Bima buat ikut campur alur novel.. " sesal Laura
"Gue belum bisa cari tau siapa pembunuh Aurora asli sampai sekarang, niatnya setelah urusan Elano dkk selesai gue bisa fokus untuk itu dan setelahnya novel akan tamat. Akhirnya kita bisa kembali ke dunia kita. Namun sepertinya penulis lebih pintar daripada gue hmm.. "
Aurora sangat menyayangkan hal itu. Padahal ia sudah berharap semuanya akan berjalan sesuai rencananya. Kalian pikir Aurora tidak lelah?? gadis itu sangat lelah, bahkan ia jarang tidur tepat waktu hanya untuk kebahagiaan semua tokoh novel.
Jika bukan karena pesan dari penulis itu sendiri, mungkin Aurora akan bodoamat dengan alur. Namun ia sudah berjanji dan janji harus ditepati.
"Apa boleh gue nginep dirumah lo malam ini?? gue malas kembali kerumah, gue gak betah terus dikekang dan diawasi. " pinta Laura
"Hmm.. serah lo aja. "
"Makasih."
"Oh ya apa keluarga lo tau hubungan lo sama Arsen?? " tanya Aurora serius
Laura menggelengkan kepalanya, " lo tau gue sama Arsen sejak awal memang backstreet, karena keluarga kita yang bertolak belakang. "
"Dan sekarang hubungan kalian udah terpublis secara perlahan, lo tau apa akibatnya kan? "
"He'em gue tau. "
Aurora menghela napas sejenak, entah mengapa dirinya sering menghela napas. Seolah napas yang ia keluar bisa membuat pikirannya tenang.
"Jangan hindari masalah, lo harus bisa menghadapi masalah itu. Semakin lo menghindari semakin lo dikejar dengan ribuan masalah yang lain dan itu bakalan menumpuk. Tolong segera bilang soal hubungan lo sama Arsen sama ayah Laura, gue gak mau ada salah paham disini.. tolong bantu gue Ta.. " pintar Aurora
"Tapi gue gak berani bi-"
"Gue percaya sama lo. " potong Aurora
Laura mengangguk pasrah, ia akan mencobanya nanti.
"Gue bakal selalu ada di belakang lo, jadi jangan takut.. " ucap Aurora memegang pundak Laura.
"Oke."
"Satu pertanyaan lagi, ini pertanyaan yang sejak kemarin terngiang di kepala gue."
"Apa? "
"Kenapa keluarga Laura bisa menaruh kebencian kepada Laura? " tanya Aurora
"Cari tau! "
"Oke."
Sepertinya Laura harus benar-benar ekstra kerja keras nanti. Laura tidak ingin mengecewakan Claudia.
Drett drettt drettt
Bunyi ponsel di saku Aurora, terlihat Jovanya menelponnya. Aurora segera mengangkatnya.
"Ada apa? "
"Yaampun Aurora, lo dimana? katanya ke toilet kita cari lo ke semua toilet kok gak ada? lo ada dimana sekarang?? " tanya Celline bertubi-tubi.
Aurora meringis kecil, dirinya sampai lupa kalau sempat berjanji menyusul mereka ke kantin.
"Aduh gue lupa, gue kesana sekarang ya.. "
"Emang lo ada dimana? " tanya Jovanya
"Emm.... gue... oh gue mampir ke perpustakaan tadi. "
"Owhh gue kira lo diculik, yaudah kita tunggu di kantin yak.. "
"Hmm, Oke. "
Panggilan telepon tertutup, Aurora segera memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.
"Gue mau ke kantin, mau ikut?? "
"Ayok! gue juga laper. " sahut Laura
Aurora berbalik badan berjalan keluar namun tangan nya ditahan kembali oleh Laura, " lo udah maafin gue kan?? "
"Gue gak marah. "
"Tapi lo kel-"
"Kita bahas ini nanti. "
#Kantin
Aurora mengedarkan pandangan nya kearah meja kantin yang sedikit ramai namun tidak sampai padat seperti biasanya. Terlihat disana Celline melambaikan tangannya mengajak Aurora mendekat.
Aurora berjalan santai ditemani Laura disampingnya.
"Kak Aurora!! " panggil gadis berkuncir kuda, sepertinya dia adik kelasnya.
"Ada apa ya? "
"Kakak pacarnya kak Elano kan? " tanya gadis itu
"Em.. memang ada apa? "
"Ka Elano sedang bertanding bola basket dengan sekolah lain dan mereka sekarang sedang ribut di lapangan kak, ayo bantu pisahin mereka kak.. " pintar gadis itu.
"Hah? kenapa gue? biarin lah namanya juga cowok. " sahut Aurora santai
"Bego!! apa lo mau ribut biasa sampai memakan korban?? pikir ra, gimana tempramental nya Elano. " bisik Laura
"Dimana? "
"Ada di lapangan Indoor kak, dibagian stadion basket. " sahut gadis itu, namanya Mita.
"Ayo kak!! "
Mita langsung saja menggandeng tangan Aurora menarik gadis itu dengan cepat keluar dari kantin. Aurora diam membiarkan gadis kecil itu menariknya.
"Eh mau kemana? " tanya Celline mencegah Laura
"Udah ikut aja. " sahut Laura
"Yaudah yuk! " ajak Jovanya
"Tapi makanan kita? "
"Udahlah, makanan mulu deh. " decak Jovanya
Ketiganya menyusul kemana Aurora dibawa pergi. Sementara Aurora sudah sampai di lapangan basket yang luas itu. Memang benar disana terdapat sebuah keributan.
Bahkan para guru juga ikut menengahi keduanya, terlihat Elano yang tengah berusaha melepaskan dirinya dari tangan yang menahannya.
"Dia main curang!! pak dia udah buat temen gue cedera!! " bentak Elano
"Sudah Elano, tahan emosi kamu, kita bisa mencari pengganti Karel. " ucap guru pelatih
"Dia sahabat saya!! bagaimana bisa saya diem aja ketika tim saya dicurangi!!! " berontak Elano , sebagai ketua tim jelas ia marah karena ada anggotanya yang terluka.
"Gue gak sengaja, sorry. " jawab lekaki yang sepertinya menjadi biang dari keributan ini.
"Gak sengaja??! jelas-jelas lo dorong dia!! "
Dengan susah payah mereka berusaha menarik Elano ke pinggir lapangan. Pertandingan kali ini SMA Bintang melawan SMA Bintara 07 yang memang keduanya sering berebut posisi yang pertama. Sudah sering terjadi setiap pertandingan pasti akan sangat sengit, penonton juga banyak ditribun. Ya meski rata-rata cewek.
"Kok gue baru tau ada pertandingan kaya gini, pantas aja Elano sering keluar . " batin Aurora
"Siapa yang bakal gantiin Karel pak?? kita gak ada cadangan. " ucap Sagara, walaupun dirinya juga ikut emosi.
"Hufft.. nanti bapak akan pikirkan. "
"Saya masih bisa main kok pak. " ucap Karel
"Lo buta hah??! lo jalan aja pincang gitu! " semprot Jaka
Seorang panitia mendekati Elano dkk, " pertandingan final akan tetap dilaksanakan sekarang, apa sudah ada pengganti untuk yang cedera?? "
"Saya pak!! "
"Aur-"
"Nama saya Aldebaran pak. " potongnya