AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
39# [ Gara-gara Pistol]



Happy Reading~





Aurora bersedekap dada, " abang kan cowok, semua cowok kan sama aja! "


seperti Elano.. lanjut Aurora dalam hati


"Abang emang cowok tapi juga tetap milih pasangan yang baik juga kali. "


"Udahlah bang aku tau pikiran cowok kaya gimana, disatu sisi mereka merasa bersalah tapi satu sisi mereka juga seneng, kan? kan? " ucap Aurora dengan mendekatkan wajahnya kearah abangnya itu menuntut kejujuran.


"Apaan sih ini anak sok tau banget.. "


Arsen yang menjadi kesal pun mengapit kepala Aurora ke ketiaknya membuat gadis itu berteriak meminta untuk dilepaskan.


"Lepasin bang... astaga ketiak abang bau bangettt... huekkk.. " teriak Aurora dilebih-lebihkan.


"Mana ada bau.. wangi gini.. " ucap Arsen semakin memasukan kepala Aurora ke ketiaknya.


"Yaampun bang jorok banget...lepasinnnnnn.. mamahhhh!!! " teriak Aurora dengan akhiran memanggil mamahnya.


"Apaan sih jangan teriak-teriak.. "


"GAK MAUU, MAMAHHH BANTU RARAAA!!! " RARA MAU DIBUNUHHHH!! " teriak Aurora menggelegar.


BRUK!!


Pintu kamar yang tidak terkunci itu terbuka kencang, Arsen dan Aurora terkejut saat melihat suara gebrakan pintu, keduanya yang sedang bergelut itu langsung berhenti dan melihat kearah pintu kamar.


Seseorang berdiri di ambang pintu Papah dan mamahnya yang menatap kearah keduanya.


Arsen dan Aurora langsung mengangkat kedua tangannya bersamaan saat melihat papahnya menodongkan sebuah pistol kearah mereka. Sementara mamahnya membawa sebuah sapu yang diangkatnya keatas.


10 detik


Mereka berempat saling menatap cengo, 10 detik belum ada pergerakan dari keempat orang itu.


20 detik


Baru setelah detik ke 20 mamah Sinta bertanya-tanya saat melihat kedua anaknya justru mengangkat kedua tangannya sambil menatap kearahnya.


"Kalian ngapain kaya gitu?? siapa.. siapa yang mau bunuh Rara?! " ucap Sinta tegas dibelakang tubuh suaminya itu.


Sementara Gani masih bersiap dengan wajah dinginnya, menatap ke penjuru kamar anak perempuannya.


"Pa-papah.. yang mau bunuh kita mah. " ucap Aurora


"Hah? "


"Papah kenapa bawa pistol?? ampun pah kita cuma lagi mainan penculik-culikan aja kok.... " ucap Aurora sambil terus mengangkat kedua tangannya.


Sinta langsung menatap Gani yang berada didepannya itu, ia langsung meletakkan sapunya dan ikut mengangkat tangan, "astaga mas! ngapain kamu bawa pistol?! " ucap Sinta ikut panik.


Gani mengeryit bingung, dirinya yang baru saja pulang kerja dan tidur sebentar terus dibangunkan istrinya itu pun langsung berlari ke kamar Aurora, mendorong pintu dengan kencang, semua itu berputar dikepalanya bagaikan rangkaian kaset kusut. Ia tadi reflek mengambil pistol yang selalu tersimpan di sakunya, pria itu masih dalam keadaan loading.


Gani memasukkan pistol itu kedalam sakunya, "ini pistol mainan, " ucap Gani berusaha sesantai mungkin.


Padahal pistol itu asli, karena termasuk dalam koleksinya.


Semuanya menghela napas kasar mendengar nya.


Sinta mendekati kedua anaknya itu dan menarik telinga keduanya, "kalian ngapain bertengkar malam-malam gini, hmm? " tekan Sinta


"Aduh.. mah tadi bang Arsen main ke clu-"


"Gak mah, tadi kita lagi acting buat acara di sekolah. " potong Arsen, ia hanya sesekali meringis sakit. Ia tak mah terlihat kesakitan di depan papahnya itu.


Gani menyenderkan tubuhnya di tembok sambil bersedekap dada, ia tak mau ikut campur.


Sinta melepaskan tangannya dari telinga kedua anaknya itu, "kalian benar-benar ya!! mamah sampai nyeret papah kamu yang baru tidur karena denger teriakan kalian, lain kali kunci pintunya biar kedap suara! " ucap Sinta menatap kedua anaknya garang.


"Iya maaf mah.. " ucap Aurora


"Tapi tadi lucu bangettt... " lanjut Aurora tertawa saat mengingat kejadian tadi.


"Kok bisa mamah bawa sapu? terus papah dapet darimana pistol mainan itu? .. " ucap Aurora sambil menahan ketawanya.


"Kamu ya.. dasar anak nakal! " gemas Sinta melihat kelakuan anak perempuannya itu.


Arsen hanya diam sambil duduk di ranjang, ia merasa sedang diintimidasi oleh tatapan papahnya itu yang menatap lekat kearahnya. Bagaimana Arsen tau papahnya orang yang berbahaya sama seperti ayahnya Elano. Arsen tau itu pistol asli bukan mainan.


"Kamu kenapa natep Arsen kaya gitu mas? " tanya Sinta


Gani menggeleng, "ayok balik ke kamar. " ajaknya yang dibalas anggukan oleh Sinta.


Mereka pamit dan pergi keluar kamar Aurora tidak lupa menutup pintu nya.


"Bang? abang kenapa sih? kaya takut sama papah. " tanya Aurora


"Gak papa." ucap Arsen langsung merebahkan tubuhnya diranjang Aurora, "abang nginep di sini ya. " ucap Arsen kemudian menutup matanya dengan tangan.


"Night bang. "


"Hmm."


Aurora ikut berbaring di sebelah Arsen, ia terkekeh Aurora tahu abangnya itu takut dengan papahnya.


Papah Gani sangat menjaga keluarganya.


"Itu pistol asli. " gumam Aurora sambil menatap langit kamar.


Aurora tahu karena ia pernah mengikuti club menembak, beberapa jenis pistol pernah dipelajarinya dulu. Ia hanya sekitar 5 bulan saja mengikutinya setelah itu ia keluar karena harus mengikuti beberapa lomba olahraga di sekolah nya.


Desert Eagle Mark XIX pistol yang dianggap paling mematikan karena menembakkan peluru 50 Action Express (.50AE), salah satu peluru terbesar dan paling mematikan dalam sejarah senjata genggam. (google)




Bagaimana hubunganmu dengan anaknya Gani itu? " tanya pria berkisaran 38tahunan itu.


"Kau mulai mencintainya?? "


"Tentu saja, El rasa ayah sudah tau hal itu. "


"Baiklah.. "


Victor menghela napas kasar saat mendengar jawaban anak lelakinya itu, persis seperti dirinya dulu.


"Dia sedang berusaha menyelesaikan sebuah masalah. " celetuk Elano


"Kenapa kamu tidak membantunya?? jangan biarkan gadismu itu menyelesaikannya sendiri, Ayah lihat dia sedikit ceroboh. " ucap Victor


"El mau melihat seberapa bisa ia melakukannya sendiri, Aurora bilang ingin menyelesaikan nya sendiri. " ucap Elano


"Baiklah.. jika kau butuh bantuan ayah langsung bilang sama ayah. " ucap Victor sambil menepuk punggung Elano.


"Tentu."


Susana disana kembali hening, Elano sibuk dengan pikirannya sementara Victor sibuk mengutak-atik laptopnya.


"Jangan suruh El buat jaga Salsa lagi.. El sudah punya tunangan, El hanya mau memprioritaskan Aurora saja. " ucap Elano dingin.


"Baiklah.. nanti ayah akan membicarakan nya dengan ibu mu. " balas Victor sambil menatap laptop nya.


"Ibu tiri. " koreksi Elano


Victor terkekeh mendengarnya, "ternyata kamu belum bisa menerimanya dengan tulus. "


"El butuh waktu. " ucap Elano dingin.


"Tentu saja bagaimana pun mamahmu tetap nomor satu dihati kita. " ucap Victor


"Bagaimana pekerjaan Ayah akhir-akhir ini? " tanya Elano berusaha membuat percakapan antara dirinya dan ayahnya itu.


"Sedikit banyak masalah. " jawab Victor membuat Elano menaikan sebelah artinya seolah bertanya lewat tatapan matanya.


"Banyak tikus pengganggu, "


Elano menganggukan kepalanya, ayahnya itu pembisnis terkenal membuatnya banyak sekali pesaing .


"Beberapa bulan lagi kau akan lulus bukan? ayah ingin kau mempelajari bisnis dan melanjutkannya perusahaan ayah nanti, jika kau mau, ayah tak memaksa. " ucap Victor menatap putra satu-satunya itu.


"Aku akan melanjutkannya, asal... "


"Asal?? "


"Asal bisa menikahi Aurora tentu saja. " lanjut Elano santai.


Victor tertawa mendengar nya, ia tak menyangka putranya akan jatuh cinta pada gadis itu, " tentu saja Ayah dukung, memiliki cucu adalah keinginan ayah. " ucap Victor dengan senyum misterius.


"El akan membuatnya untuk ayah. " ucap Elano tersenyum misterius.


Like father like son


"Apa kau akan melakukannya sekarang,?? "


"Jika ayah menyetujuinya,"


"Tidak, kamu akan dihabisi oleh Gani jika melakukan sesuatu pada putrinya itu. " ucap Victor sambil terkekeh


"Jagalah dia jangan sampai di ambil oleh lelaki lain, ayah akan melihatnya dari jauh. " ucap Victor menepuk punggung Elano pelan.


"Tanpa Ayah suruh pun. " sahut Elano



Seorang gadis sedang bermain di pulau kapuknya, Aurora sedari pulang dari sekolah ia terus mengurung dirinya di dalam kamar.


Perutnya sangat sakit dan malas untuk bergerak, efek pms hari pertama sering sekali ia rasakan seperti ini. Mood nya sering sekali berubah-ubah.


Sekarang ia sedang ingin meminum jus mangga namun malas beranjak dari ranjang nya, ia berharap abang atau mamahnya datang ke kamar dan membawakannya itu.


Beberapa posisi ia lakukan agar nyaman dan tidak membuat perutnya sakit, " kenapa kalau Aurora pms sakit banget sih, perasaan dulu gue gak sesakit ini. " ucapnya sambil meremas perutnya.


Claudia heran kenapa hari pertama tidak sakit namun hari kedua-tiga akan merasakan sakit.


Aurora menelungkupkan kepala ke lipatan bantal, namun terdengar dering telpon di ponselnya, ia pun mengangkatnya dengan malas, "ya? " ucap Aurora malas.


"Kenapa, hmm? "


"hmm... " jawab Aurora mager.


"Kamu kenapa? jawab Aurora. "


"Gak papa El... "


"Lagi pms? "


"Hmm, "


"Oohhh.. "


"Yaaaa... "


Elano langsung mematikan telponnya membuat Aurora berdecak kesal.


"Dasar es berjalan. " decak Aurora


Aurora kembali menelungkupkan wajahnya di lipatan bantal dan memejamkan matanya agar bisa tertidur.


******


Hai🙋‍♀️


Jangan lupa jadikan favorit yaw.. coment juga..


⚠️Like, vote dan beri hadiah-hadiah..


Cinta Untuk Zara 👈jangan lupa baca juga


see you!!!⚡