
Happy Reading
🌼
🌼
🌼
"Elano.... "
"Ngapain disini? " tanya cowok itu setelah sampai di depan Aurora.
Rambut dan baju Elano basah walaupun ia memakai jaket kulit.
"Aku pengin pulang El.. " lirih Aurora menatap Elano
"Oke kita pulang, aku bakal antar kamu pulang.. " ucap Elano melepas jaket kulitnya untuk memakai nya sebagai tudung kemudian menggandeng tangan Aurora untuk menuju motornya di seberang sana.
"Tunggu.. "
Mereka berdua berdiri di bawah hujan deras, "Kenapa? " tanya Elano menunduk menatap Aurora yang juga menatap nya.
"Aku mau pulang El. "
"Iya kita pulang sekarang. "
Aurora menggeleng bukan kerumah namun ke dunia asalnya, "kalian sebenarnya apa? kenapa seperti manusia sungguhan. "
Elano menyugarkan rambutnya kebelakang dan menatap gadis itu bingung, "kamu ngomong apaan sih. "
"El kamu manusia kan? " ucap Elano sambil mengangkat tangannya memegang wajah Elano,
"lo seperti manusia. " ucap Aurora dengan tangan menangkup pipi Elano.
Elano hanya diam dengan tangan menyangga jaketnya untuk menutupi kepala Aurora dari air hujan.
"udah cukup,kita pulang. "
"Tunggu, kamu gak akan bunuh aku kan El?kamu gak akan benci aku kan El? El kamu jan-"
"Syuttt jangan ngomong sesuatu yang mustahil. " ucap Elano memotong perkataan Aurora sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis itu.
"Aku takut... "
Elano menatap mata Aurora sepertinya ia sedang dalam kondisi yang buruk, "Aku bakal jaga kamu. " ucapnya kemudian memeluk Aurora dibawah derasnya hujan.
Di dalam dekapan Elano ia menangis dalam diam, air matanya terbawa oleh derasnya air hujan. Ini pertama kalinya ia menangis ditemanin hujan.Aurora menyukai hujan namun tidak dengan petir.
"Aku bakal jaga kamu...always with you. " peluk Elano
"Ta-tapi bagaimanagimana tanggapan kamu kalo ternyata aku bukan Aurora? " tanya Aurora
Elano melonggarkan pelukan nya memegang pundak Aurora, "Aku cinta kamu apapun jati diri kamu sebenarnya, oke. "
"Kamu gak bohong? " menatap mata Elano
Elano tersenyum mengangguk, "Setelah ini kamu ceritakan semuanya. "
Aurora tersenyum kemudian mengangguk.
"Naik motor dan hujan-hujanan gak papa?? " tanya Elano lembut
"Not problem, aku suka hujan."
Elano menggandeng tangan Aurora dan berlari menuju tempat motornya berada.
"Yaampun kalian kok sampe basah gini..dari mana saja kalian......." tanya mamah Sinta saat kami sudah sampai dirumah.
"Maaf tante kita tadi habis makan diluar terus kehujanan. " jawab Elano
"Yaudah sana ke kamar ganti baju biar gak masuk angin. " perintah Papah
Elano menuntun Aurora menuju kamarnya, namun terhenti karena ucapan papah Aurora, "Elano jangan macam-macam kamu dengan anak saya. "
"Saya tau batasan om"
Sesampainya dikamar Elano mendudukkan Aurora di tepi ranjang, "kamu ganti baju di kamar mandi, biar aku yang ganti disini. " ucap Elano.
"Aku ada baju bang Arsen di lemari itu, ambil aja. " ucap Aurora
"Hmm, bisa kan jalan sendiri? atau mau gue bantu antar ke kamar mandi? " tawar Elano tulus namun berbeda dengan Aurora.
"Jangan mesum!! gue bisa sendiri. "
"Aku kamu Ra.. lagian kita udah-"
"Elanooooo!!!!!!!" tegur Aurora saat tahu arah pembicaraan lelaki itu.
Aurora mengambil baju ganti kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan badan, sementara Elano masih duduk di sofa.
Pandangan Elano teralihkan kearah meja belajar dimana terdapat sebuah buku Diary milik Aurora.
"Aurora Diary. " baca Elano
Ia penasaran dan membukanya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka menampilkan Aurora yang sudah berganti baju.
Aurora terkejut saat melihat Elano sedang membuka buku diary nya,ia pun langsung merebutnya dari tangan Elano.Elano sedikit tersentak kemudian manatap Aurora dengan pandangan sulit diartikan.
"El kamu-"
"Gue butuh penjelasan lo setelah ini. " sahut Elano kemudian mengambil baju milik Arsen dan berjalan ke kamar mandi.
Aurora menghela napas kemudian berjalan kerarah meja.
Aurora menyimpan buku itu agar siapapun tidak ada yang membacanya kemudian berjalan kearah ranjang, duduk ditepi ranjang sambil menunggu Elano selesai.
Setelah menunggu beberapa saat kini Elano sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian milik Arsen yang melekat ditubuhnya.
"El."
Elano berjalan kearah meja belajar, "mana bukunya? aku belum selesai baca. " ucapnya
"Kamu gak marah kan? dan gak bakal bunuh aku juga kan? "
Aurora membenarkan posisi duduknya di atas ranjang, "aku bakal ceritain semuanya. " ucap Aurora penuh tekad.
"Tapi janji jangan bunuh aku. " lanjut Aurora
"Mana buku itu. " tanya Elano sekali lagi
"Buat apa? itu privasi!! "
Di dalam buku diary milik Aurora bukan hanya berisi rencana hidup milik Claudia namun juga terdapat ungkapan perasaannya bersama berbagai orang di dunia ini. Paling banyak milik Elano, setiap hari Aurora menulis Elano dengan berbagai umpatan kasar disana. Bisa bahaya kalau Elano membacanya.
Elano berbalik badan dan menyenderkan tubuhnya ke meja belajar sambil bersedekah dada, "privasi karena mengatai tunangan sendiri dengan perkataan yang kasar? " tanyanya santai menatap gadis yang terduduk bersila di atas ranjang.
"Bu-bukan gitu.. anu yakan itu diary terserah pemiliknya dong mau nulis apa. " elak Aurora
Elano kembali mengubah ekspresi nya menjadi serius membuat Aurora sedikit gugup untuk berbicara.
Elano berjalan ke arah kasur dan duduk di hadapan Aurora, "ceritakan semuanya atau kamu aku bunuh. " ucapnya menatap Aurora tajam namun di dalam hatinya ia terkekeh geli melihat gadis itu ketakutan. Segitu takutnya Aurora dengannya?
"Iyaa, tapi setelah aku cerita kamu jangan pernah bilang aku halu atau semacamnya. "
Elano mengangguk.
Aurora membasahi bibirnya sebelum berbicara semua itu dilihat jelas oleh Elano, "mau godain?" tanya Elano
"Aku gugup, bukan mau godain kamu. " sinis Aurora
Elano tersenyum kecil sambil menepuk kepala Aurora pelan, " ceritakan. " ucap Elano lembut
Aurora diam sejenak dan mengambil napas panjang, "aku bukan Aurora tapi Claudia Aku ber transmigrasi ke tubuh milik Aurora dan gak tau bagaimana bisa terjadi seperti ini ,jadi tolong jang-" ucap Aurora tanpa jeda.
"Ngomong itu yang jelas,jangan cepet-cepet, " tegur Elano memotong perkataan Aurora.
Aurora mengambil napas lagi, "aku bukan Aurora El, aku cuma jiwa lain yang memasuki tubuh Aurora."
"Kemana Aurora asli? "
"Di-dia udah gak ada, aku juga gak tau kenapa bisa berada disini. Aku Claudia not Aurora, Elano do you believe me? " tanya Aurora hati-hati.
"Itu sesuatu yang sulit untuk dipercaya. "
"Tapi dunia ini memang penuh misteri, apapun bisa terjadi , termasuk berubah nya perasaan benci menjadi cinta. " ucap Elano menatap manik mata Aurora.
Aurora menatap Elano dalam berusaha mencari kebohongan dimata cowok itu, namun tak ada itu perkataan jujur.
"Ka-kamu cinta sama Aurora atau Claudia? " tanya Aurora memastikan, ia tak ingin hatinya salah paham.
"Orang yang ada dihadapanku sekarang. "
Jiwa Claudia terkekeh miris, memang lebih baik dirinya tak mencintai seseorang seperti dulu.Elano pasti mencintai Aurora bukan Claudia.
Elano melihat ekspresi Aurora yang terdiam, "Claudia nama lo Claudia,? " tanya Elano
Aurora menatap Elano dan mengangguk mantap.
"Gue suka sama lo Claudia. "
"Hah???"
"Kita mulai dari awal. " ucap Elano membuat Aurora mengerjapkan matanya bingung.
Melihat Aurora hanya terdiam bingung, Elano akan mengerjainya sedikit, "atau lo mau gue bunuh aja sekarang? "
"Jangan!jangan ngomong kaya gitu.. " ucap Aurora takut kemudian turun dari ranjang menjauhi Elano.
"Aku bakal nurutin perintah kamu tapi jangan bunuh aku El... " ucapnya sambil melangkah mundur.
Sudut bibir Elano berkedut menahan senyum melihat tingkah Aurora.Elano berdiri berjalan mendekati Aurora yang juga memundurkan langkahnya, "kayaknya kalo lo gue bunuh daging lo enak buat dimakan. "
Aurora bergidik takut mendengar ucapan Elano yang seperti psikopat dengan ekspresi yang mendukung pula.
"Elano aku kan udah cerita semuanya El.. aku gak bohong. "
"Sumpah aku gak bohong"
"El... "
Aurora terus mundur sampai dirinya mentok di tembok sementara Elano langsung mengukung tubuh milik Aurora.
Aurora meringsut dengan kepala menoleh kesamping agar tidak menatap mata hitam milik Elano.
"Jadi pacar sekaligus tunangan gue Claudia. " ucap Elano membuat jantung Aurora berdetak kencang saat Elano menyebutkan nama aslinya.
"Atau lo gue-"
"Stop!!aku mau, jadi jangan pernah ngomong kata itu lagi. " ucap Aurora, ia trauma dengan kata "bunuh" yang diucapkan Elano.
Elano melepaskan kukungannya, " kita mulai dari awal. " sambil mengelus pucuk kepala Aurora.
Hati Aurora menghangat apa dia mulai nyaman dengan Elano,? semoga saja ini hanya perasaan Aurora asli.
"Kamu percaya omongan aku? "
"Siapa yang bisa percaya hal seperti itu? tetapi aku menghargai perkataan mu. " ucapnya membuat Aurora bernapas lega, seenggaknya Elano tak menyangkal omongannya.
"Mulai dari awal ya?"ucap Arsen
Aurora tersenyum dan mengangguk.
🌼
🌼
🌼
Hai🙋♀️
cerita ini aku buat gak se klise itu.. mungkin untuk alur sedikit lambat.. dan mungkin kalian ada yang emosi bacanya wkwk:'
⚠️JANGAN LUPA
Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
Jadikan Favorit💌
see you! 🌼