
...HAPPY READING📖...
Aurora benar-benar tidak bisa berkata-kata. Apa tadi hanyalah prank? Itu artinya mamahnya tidak benar-benar mengusirnya bukan?
Aurora mengambil bunga dari Elano dan lelaki itu berdiri dari posisi bersimpuh nya. Terlihat disana Arsen atau kakak dari Aurora juga tersenyum padanya.
"Ini... "
"Ya.Kita memanfaatkan ketidak beradaanmu selama beberapa hari lalu untuk menyiapkan surprise ini. " jawab Arsen
"Ohh gitu.. "
Aurora mengedarkan pandangannya kearah seluruh ruangan yang dihias dengan balon dan pernak-pernik nya. Disana juga tertulis ucapan selamat ulang tahun untuknya dan untuk Arsen. Benar Arsen juga berulang tahun hari ini, sama dengannya. Sementara Aurora belum menyiapkan kado apapun untuknya. Astaga bagaimana bisa ia tidak tahu tanggal lahir Aurora.
"S-selamat ulang tahun bang Arsen, aku tidak menyiapkan kado untukmu, tapi tenang aja aku bakal beli kado spesial nanti. " tegas Aurora
"Tidak masalah, mereka semua sudah memberikan kado yang spesial juga. "
Aurora kembali menatap mereka yang berada disini, benar mereka pasti menyiapkan hadiah double untuk kami. Aurora tertawa atas pikirannya itu.
Mamah Sinta mengarahkan Aurora dan Arsen untuk menuju meja yang tersedia kue ulang tahun. Kami berdiri di depan kue itu persis seperti anak kecil.
"Apaan sih mah, udah gede , malu! " tolak Arsen
"Udah lah Sen, nikmati aja.. " dorong Jaka pada tubuh Arsen
"Ogah, gue udah gede anjir.. "
"Udah gede nggak sadar diri masih harus dipaksa, kalau udah gede ya nurut dong masa harus dipaksa kaya anak kecil. " sahut papah Gani saat melihat tingkah putranya itu
Skakmat
Arsen pun menegakkan dirinya dan berjalan menuju tempat Aurora berada. Oke jika papahnya sudah berkomentar seperti ini, pasti dirinya tidak bisa menolak apalagi membantahnya.
Acara dimulai dengan diiringi lagu selamat ulang tahun berlanjut ke tiup lilin hingga pemotongan kue. Selama acara mereka teman dan keluarga menahan tawa ketika Arsen dengan gaya ogah-ogahannya memotong kue itu. Sementara Aurora melakukan dengan hati senang, apalagi didampingi oleh kekasihnya.
Kue potongan pertama Aurora menyerahkannya kepada papah Gani, kemudian Arsen memberikannya kepada mamahnya. Selanjutnya diberikan kepada om Victor.
"Terimakasih."
"Sama-sama om.. " balas Aurora
"Potongan keempat diberikan kepada pasangan masing-masing dong.. " sahut Celline yang dibalas sorakan setuju.
Aurora dengan senang hati memberikannya pada Elano. Keduanya berhadapan disaksikan oleh teman dan keluarga.
"Buat kamu.. "
"Thank you sayang. " balas Elano yang membuat Aurora melotot kan matanya karena malu.
"Cieeee.. ekhemm... "
"Buchinnnnn terossss.. dunia berasa milik berdua.. lainnya ngontrakkk.. " sindir Karel
"Udah ngontrak nggak bayar lagi.. " sahut Dava
Mereka tertawa atas sesuatu yang sebenarnya tidak lucu sama sekali, namun karena didukung dengan suasana.
"Terus gue kasih ke siapa? " celetuk Arsen membuat suasana menjadi hening.
"Kenapa kamu nggak mencari pasangan saja, nak , masa kalah sama adik kamu. " ucap mamah Sinta terkekeh
Arsen terdiam begitupun yang lain. Mereka tertawa garing menanggapi perkataan mamah dari Arsen. Hubungan Arsen dan Laura belum diberitahukan pada kedua orang tua mereka, semuanya pun sudah tau akan hal itu. Saat Arsen mendengar papah dan om Victor yang melarang Aurora untuk berteman dengan Laura sebenarnya dirinya juga merasa keberatan namun harus bagaimana lagi. Jika dirinya memprotes tanpa suatu alasan yang jelas makan papahnya pasti akan langsung curiga.
Hubungannya dengan Laura adalah masalah besar dan harus disembunyikan entah sampai kapan.
Arsen tersenyum garing, " Mamah bisa aja, besok deh Arsen cari jodoh. " tawa Arsen
"Itu didepan kamu ada dua cewe temennya Aurora masa nggak kecantol sih.. " ledek mamahnya yang tidak tahu situasi, justru ledekan itu juga diangguki oleh papahnya.
Celline dan Jovanya menyengir kaku, bukan karena salting atau apapun, namun mereka lebih kearah kikuk.
"Nggak bisa lah mah. Mereka berdua udah punya pasangan masing-masing. " decak Arsen yang mendapatkan pelototan oleh keduanya.
"Lho siapa? Tante kira kalian masih jomblo. "
Celline dan Jovanya tersenyum kikuk. Mereka berdua memang masih jomblo! Kenapa Arsen justru mengatakan mereka sudah mempunyai pasangan. Keduanya saling pandang, terlihat berusaha menyembunyikan rasa bingung.
"Anu tante... "
"Kita sebenarnya nggak pu-"
"Celline pacar saya tante. " sahut Stefano membuat semua orang menatap cowok itu dengan pandangan horor.
Celline menggeleng namun segera dipegang kepalanya oleh Jovanya memaksanya untuk mengangguk, " udahlah patuhin aja, daripada ortu Arsen curiga. " bisik Jovanya
"Anjir.. " umpat Celline lirih
"Ohh begitu, Jovanya juga? "
"Hah? Gimana tan? " sahut Jovanya kaget karena sedang sibuk berbisik-bisik dengan Celline
"Aku nggak sama Stefano kok tan, Stefano buat Celline aja hehehhee.. " kekeh Celline menggaruk tengkuknya canggung.
Aurora yang melihat wajah tersiksa keduanya menahan tawa. Namun berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa itu.
"Jovanya pacarnya Karel mah.. " sahut Aurora
"Apa! Enggg-"
"Iya tante Jovanya temen Karel, maksudnya pacar. "
Sekarang giliran Celline yang memotong ucapan Jovanya dan memaksa gadis itu mengangguk dengan merangkulnya.
Karel yang memprotesnya, mereka berdua hanya teman biasa. Jangankan pacaran, dirinya sudah menganggap Jovanya sebagai adiknya. Namun itu hanya protesnya dalam hati, sementara matanya menatap Aurora tajam. Aurora hanya tersenyum melihat perilaku kedua sahabatnya itu. Tatapan tajam milik Karek justru terhalangi oleh Elano yang menatap tajam balik Karel.
"Udahlah mah jangan banyak nanya.. " sergap Arsen jengah
Sampai akhirnya acara sederhana ini dilanjutkan selama beberapa jam dengan memberikan kado kepada keduanya. Berakhir dengan makan bersama di taman belakang. Mereka memanggang daging BBQ dan sate. Mereka sangat menikmati acara itu dari sore hari hingga menjelang isya.
Saat tengah bersantai di taman belakang menunggu masakan matang, mereka berkumpul ria sambil duduk santai menikmati langit malam.
"Raa.. ada kecap nggakkkkk.. bawa sini. " teriak Celline
"Ada bentar! "
Aurora berlari memasuki rumah untuk mengambil kecap. Memasuki dapur kemudian setelah mendapat barang yang diminta, ia langsung berlari keluar.
Shutttt
"Eh."
Aurora terkejut ketika seseorang menarik tangannya saat sedang berlari dan menariknya menuju balik dinding , membenturkan tubuhnya ke tembok dan mengukungnya.
Siapa lagi jika bukan Elano pelakuanya.
"El jangan sekarang, aku mau anter kecap dulu!! " tolak Aurora mendorong tubuh Elano menjauh
"Elano! " tegas Aurora
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu. " bisiknya
"Iya nanti! Aku mau anter kecap dulu! "
Aurora terus mendorong tubuh Elano agar tidak terlalu menempel pada tubuhnya. Dengan tangan membawa kecap bungkus besar ditangannya. Elano menangkap tangan Aurora dan mengambil kecap itu lalu menjatuhkan nya kebawah. Setelah itu menahan kedua tangan Aurora di samping tubuhnya. Sekarang tangan Aurora terkunci.
"Elano!! " pekik Aurora
"Aku mau ngomong, makannya jangan ngeberontak mulu. " kesal Elano
"Tapi nggak usah kegini juga posisinya. "
"Biarin."
"Astaga Elano, lepasin dulu! Ngobrol nya bisa sambil duduk kan. Jangan kaya gini, kalau ada yang liat gimana coba. " panik Aurora
"Kamu tau, ujian sudah selesai tinggal menunggu waktu untuk pengumuman hasil dan kelulusan. "
Aurora mengangguk dengan posisi yang sama . Tangan yang pegang oleh tangan Elano di dinding.
"Prom night. Setelah itu aku ingin kita menikah. "
"What?! "
"Tapi aku mau kuliah Elano!!"
"Nikah sambil kuliah bisa kan? "
"Ya bisa aja, tapi ak-"
"Kamu nolak? "
Bibir Aurora terkatup. Sebenarnya bukan masalah menikah. Namun, Aurora takut ketika malam prom night sekolah dirinya sudah kembali ke dunia nya dulu. Aurora tidak ingin membuat cowok di depannya ini sedih karena kepergiannya. Karena pada dasarnya dunianya dan Elano itu berbeda. Aurora tidak ingin terjebak terlalu lama disini. Aurora ingin kembali kepada orang tuanya.
"Maaf.. " lirih Aurora
Elano melepaskan pegangan tangannya berjalan mundur untuk menjaga jarak, namun beberapa detik kemudian Elano kembali menarik tangan Aurora membawanya memiliki tangga menuju rooftop rumah. Disana sedikit gelap hanya mendapatkan pencahayaan dari lampu seberang dan cahaya bulan. Didepan sana bisa melihat kerlap-kerlip perkotaan.
"Kasih alasan kenapa kamu bisa menolak menikah setelah kelulusan selain karena ingin kuliah. Kamu tau bukan, wala sudah menikah seseorang bisa tetap kuliah dan banyak yang seperti itu. " tekan Elano
"Kasih gue alasan Aurora! " bentak Elano membuat Aurora berjengit.
"El.. "
"Bukankah kamu sudah tau kalau aku bukan Aurora asli?Kenapa kamu masih bertanya akan hal ini. "
Elano terdiam.
"Kamu sudah mengetahuinya. Seharusnya kamu tau apa alasanku menolak itu. "
Elano masih terdiam
"Apa perlu aku ingatkan lagi kalau aku bukanlah Aurora namun Claudia? D-dunia kita berbeda Elano, aku ingin kembali keduniaku." lirih Aurora
"Aku enggak bisa terus sama kamu. "
"Aku harus pulang. "
"Aku.. aku merindukan duniaku dulu. "
"A-aku... "
"STOP." cegah Elano
"Lo nggak boleh pergi tanpa seizin gue! " tegas Elano
"Jangan egois Elano. "
"Why? Gue nggak akan pernah biarin lo pergi tanpa gue. "
"Kalau lo pergi gue juga bakal ikut, karena lo milik gue, nggak akan ada yang bisa dapetin lo dimanapun lo berada. " Ucapan Elano dengan nada rendah dan terlihat dimatanya bahwa lelaki di depannya memang sudah sangat mencintai Aurora, atau bahkan lebih.
Elano menarik pinggang Aurora dan memiringkan wajahnya, mencium bibir Aurora dengan lembut dan penuh perhatian. Aurora hanya diam. Semakin lama ******* bibir Elano semakin menuntut membuat Aurora membelalakan matanya dan mendorong tubuhnya menjauh. Elano menjauh kan wajahnya dengan.
Aurora terkejut saat terlihat mata itu menatapnya dengan sendu, setitik air mata membasahi bulu mata Elano. Elano memeluk tubuh Aurora, "bisa kah kamu tetap disini hanya untuk ku? " mohonnya sungguh-sungguh.
BERSAMBUNG...
Jadi galau author nya😌yuk tinggalkan jejak