AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
40# [ Keciduk ]



Happy Reading


πŸ”₯


πŸ”₯


πŸ”₯


Aurora kembali menelungkupkan wajahnya di lipatan bantal dan memejamkan matanya agar bisa tertidur.


Sepuluh menit kemudian terdengar suara ketukan pintu Aurora yang mendengarnya pun berjalan dengan malas.


"Kenapa bi?? "


"Itu non ada den Elano di depan, katanya mau ketemu sama non Aurora. " ucap bi Asik


"Ah.. iya bi nanti Aurora turun. "


"Kalau begitu bibi kebawah dulu ya.. "


Aurora menjawabnya dengan anggukan kemudian kembali memasuki kamarnya mengganti bajunya dan turun ke bawah menemui Elano.


"Ngapain kesini?? " tanya Aurora saat sampai di ruang tamu.


Elano menyerahkan sebuah plastik padanya, "apaan? " tanya Aurora


"Buat kamu, buka aja. "


Aurora membukanya dan sedikit terkejut saat melihat jus mangga dan beberapa makanan.


"Lagi datang bulan? " tanya Elano dengan datar.


Aurora menahan senyumnya, "kok tau?"


"Aku tau semua tentangmu. " balas Elano


Aurora berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas dan meminum jus mangga pemberian Elano.


"Uhhh.. seger bangettt.. "


"Makasih banyak ya.. tau aja lagi pengen jus mangga. " ucap Aurora sambil meminum jus nya lahap.


"Hmm."


Aurora mendadak memegang perutnya karena nyeri, membuat Elano langsung memosisikan dirinya dia samping Aurora.


"Eh.. ngapain pindah kesini? "


"Tidur sini. " tunjuk Elano pada pahanya.


"Gak ah, gak enak dilihatnya. " tolak Aurora menggelengkan kepalanya dan menggeser tubuhnya.


"Ngeyel! "


Elano langsung menahan tubuh Aurora dan merebahkan kepala gadis itu ke pahanya dengan cepat membuat Aurora terpekik kaget.



"Ehhh... jangan gini oi. " ucap Aurora berusaha mendudukkan tubuhnya namun ditahan oleh Elano.


"Syuttt.. diam. " tegas Elano sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Aurora yang tidur di pahanya.


Aurora menatap wajah Elano dari bawah , yang sedang mendongak menonton TV.


Aurora melipat bibirnya ke dalam dan mengulurkan tangannya menuju benda sebutir kelereng yang berada di leher Elano, sesekali ketika Elano menelan ludahnya benda itu bergerak baik turun membuat Aurora gemas melihatnya.


ini kenapa tangan gerak sendiri sih.. batin Aurora


Tangan Aurora semakin mendekati benda itu dan mengelusnya sedikit, ia sedari dulu penasaran akan jakun yang dimiliki pria, apa mereka gak merasa risih??


Elano yang sedang menonton TV didepannya tiba-tiba tegang saat merasakan tangan lentik seseorang memegang jakunnya, membuat darahnya berdesir. Elano memejamkan matanya berusaha menahan sesuatu.


Bukannya berhenti Aurora malah menekan jakun milik Elano membuat Elano langsung menangkap tangan Aurora dan menunduk menatap gadis nakal itu.


"ngapain , hmm? "


Aurora yang tertangkap pun berusaha melepaskan tangan yang dipegang Elano dan berusaha mendudukkan tubuhnya, "El lepasin, aku mah duduk. "


Elano yang melihatnya berusaha menahan sesuatu didalam dirinya, Aurora telah membangkitkan sesuatu dari tubuh Elano.


"Kamu harus tanggungjawab. "


Aurora terpekik saat Elano tiba-tiba membalikkan tubuh Aurora berada di bawah tubuh Elano, sekarang posisi Elano berada di atas tubuh Aurora.


"El apaan sih!! nanti bi Asik liat! "


"Tadi kamu ngapain? "


"Anu.. cuma gemes aja liatnya, jadi tangannya gerak sendiri. " ucap Aurora jujur



Aurora memejamkan matanya saat wajah Elano semakin mendekati wajahnya.


1 detik


2 detik


5 detik


"Astaga! sedang apa kalian???! "


"Papah, mamah... anu tadii gak sengaja jatuh. " ucap Aurora kikuk


Dirinya mereka seperti sedang tercyduk melakukan hal yang tidak-tidak. Aurora menoleh kearah Elano dan melihat wajah santai milik lelaki itu membuat Aurora kesal. Ini semua salah Elano, kenapa lelaki itu justru menampilkan ekspresi seperti itu!


"Mamah memang ingin memiliki cucu tapi bukan karena hal seperti ini, seenggaknya kalian menikah dulu, dasar anak muda. " ucap Sinta


"Mah ini gak seperti yang mamah dan papah pikirkan, " bela Aurora berusaha menjelaskan nya.


"Apakah jika kami tidak datang kalian akan melanjutkannya sampai ke kamar? " tanya Sinta


Aurora menggeleng, "gak mah, "


"Menurut mu seperti itu namun apa kamu tahu pikiran seorang lelaki? dia bisa pikir sebaliknya. " ucap Sinta


"Maaf maah. "


Bughh..


Gani menarik kerah baju milik Elano dan membogem wajah lelaki itu sekali, " ini peringatan untukmu, jangan melakukan hal yang macam-macam dengan putri saya. '


"Saya tahu kamu anak dari sahabat saya tidak segan-segan menegurmu jika berani melakukan hal yang menyakiti putriku. " lanjut Gani


Elano menerima pukulan itu dengan tenang, " om, jaga putri om untuk saya, jangan biarkan putri om didekati orang lain, karena dia milik saya milik Elano King Alister.. "


"Saya suka sifatmu , sama seperti ayahmu. " ucap Gani menepuk pundak Elano.


Sementara Aurora yang mendengar ucapan Elano bergidik ngeri, entah kenapa ucapan itu seperti sebuah ungkapan hak paten.


πŸ”₯


Hari begitu cepat, tak terasa Claudia sudah berada di dunia ini hampir dua bulan. Ia mulai merasa nyaman dengan dunia yang ditempatinya, namun juga masih terus berharap bisa kembali ke tempat asalnya.


"Stefano!! " panggil Aurora pada lelaki yang sedang berjalan di Koridor.


Stefano berhenti menoleh kearah gadis yang memanggilnya, "Apa? "


"Bisa bicara sebentar?? " tanya Aurora setelah sampai di depan lelaki itu.


"Bicara soal apa? "


"Penting pokoknya, bisa kan? "


Stefano mengangguk, "mau bicara dimana? " tanya nya.


Aurora berencana mendekati lelaki didepannya ini, bukan untuk masalah hati hanya untuk memperluas relasinya.


"Rooftop."


Keduanya berjalan menuju roftof sekolah yang memang jarang dikunjungi karena panas dan memang dilarang oleh pihak sekolah, namun bukan berarti semua siswa mematuhinya. Beberapa murid


"Mau ngomong apa? " tanya Stefano setelah mereka sampai di rooftop.


"Maaf sebelumnya, gue mau nanya Steven kakak lo?? " tanya Aurora


"Bagaimana lo tau dia?" tanya Stefano terkejut.


"Dia pernah nemuin gue, bener dia kakak lo?? " tanya Aurora sekali lagi.


Stefano mengangguk, "lo gak papa? lo gak disakitin sama dia kan? " tanya Stefano khawatir.


Aurora sedikit terkejut melihat respon Stefano yang ramah padanya, ia kira Stefano lelaki yang seperti Elano dingin dan kaku, tetapi ternyata tidak.


"Gue gak papa. "


Ekspresi Stefano kembali dalam mode datar, "ngapain lo nanya dia?? "


Sebelum menjawab Aurora mengajak Stefano untuk duduk di sofa yang terdapat di sana.


"Apa bener dia pernah suka sama gue? sorry tapi dia pernah ngomong gitu sama gue, sebagian ingatan gue hilang karena sesuatu hal , jadi gue pengin nanya soal ini sama lo, karena lo adiknya jadi gue bisa percaya sama lo.. " ucap Aurora sambil memandang ke depan menikmati hembusan angin.


"Dia gila, jangan dengerin omongan dia. "


"Maksudnya? "


"Dia suka sama adiknya sendiri, dia juga yang udah bunuh adiknya sendiri. " ucap Stefano datar


Aurora menutup mulutnya dengan kedua tangannya terkejut, "maksudnya?sisterkompleks gitu?! "


"Bisa dibilang gitu, mungkin lo udah diceritain sama Elano kalau dia pacar Diva alm adik gue. "


Aurora menggeleng, "dia gak pernah cerita itu, tapi gue tau dari abang gue. " Stefano menatap Aurora sedikit terkejut mendengarnya.


"Boleh lo ceritain semuanya? gue gak maksa sih, tapi kalau lo gak keberatan.. " ucap Aurora sambil tersenyum menatap lelaki di sampingnya.


Stefano kembali memandang ke depan, " dia yang cabut infus adiknya sendiri karena gak suka kalau Diva jadi pacarnya Elano, dia suka sama adiknya sendiri!! dia emang gila... lo tau setelah Diva meninggal kami terus masuk SMA dan Elano akhirnya tunangan sama lo, Dia gak suka liat Elano bahagia dia ingin rebut lo juga dari Elano...dia suka sama lo Ra , tetapi suka sebatas balas dendam. " jelas Stefano sambil terus menatap kosong ke depan.


Fakta ini membuat Aurora sedikit terkejut mendengarnya, " terus kenapa lo gak suka sama Elano? "


πŸ”₯


πŸ”₯


πŸ”₯


Jangan lupa jadikan favorit yaw..


⚠️Like, vote, coment dan beri hadiah - hadiah..Coment


See you next chapter!!πŸ”₯