
"Gimana? "
Salsa diam sambil menatap keduanya. Salsa teringat perkataan Aurora sebelum pergi.
"Jangan jadi perempuan yang bodoh Salsa, kenali mana teman yang bisa membawa lo menjadi lebih baik dan mana yang justru mengajak lo kesebuah lubang keterpurukan, open your eyes. "
Apa selama ini dirinya terlalu menutup mata dengan kehadiran mereka,? Salsa tidak punya teman hanya mereka berdua yang mau berteman dengannya.Hal itu menjadikan Salsa selalu percaya pada mereka untuk menjaga perasaan mereka agar Salsa tidak sendirian.
Benar kata Aurora, Salsa harus tahu apa yang Aurora maksud.
"Aku mau! "
"Bagus, lo emang sahabat terbaik kita... "
Mega dan Sila memeluk Salsa kemudian keduanya saling bertandang dengan senyumanan sekilas.
Salsa memang bodoh! dan mudah diperdaya, itu alasan Sila menyukainya.
"Nanti kita bicarain soal ini. "
🌪
🌪
Sejak satu hari lalu Aurora sangat susah sekalii menghubungi Laura entah kenapa bisa begitu, padahal Aurora sangat butuh bantuan gadis itu sekarang.
Terpaksa Aurora akan melakukan rencananya seorang diri.
Setelah memastikan Salsa berada di pihaknya kini Aurora berencana membujuk Aland. Namun sekarang ia justru terjebak dengan lelaki manja didepannya ini. Siapa lagi kalau bukan Elano! karena cincin sial*n itu Elano menjadi tahu semua gerak-gerik Aurora.
"Minggir Elano! aku ada urusan. "
"Urusan apa? "
"Ada deh.. jangan kepo. "
"Aku ikut. "
Aurora mendesah kasar kemudian menumpukan kepalanya ke atas meja.
Elano juga melakukan hal yang sama membuat keduanya saling berhadapan.
Mereka sekarang sedang berada di pojok perpustakaan.
Aurora memejamkan matanya berusaha menenangkan pikirannya yang sangat kacau.
Elano menatap wajah Aurora secara dekat dan intens, wajah yang selalu terbayang dipikiran Elano.
"Jangan berusaha terlalu keras. " ucap Elano
"Sekeras apapun berusaha tanpa ada keberuntungan maka akan sama saja, berusaha lah dan hasilnya serahkan ke semesta, karena semesta yang tau bagaimana takdir penghuninya. " ucap Elano sambil menatap wajah Aurora.
Aurora membuka matanya, mereka berdua saling bertatapan dengan posisi yang sama. Tangan Elano terulur mengelus rambut Aurora dengan lembut.
"Jika butuh bantuan, aku siap. " ucap Elano tersenyum manis membuat Aurora terke siap melihatnya. Jarak yang dekat membuat Aurora dapat melihat dengan jelas senyuman Elano.
Elano memajukan wajahnya membuat Aurora langsung memejamkan matanya, Elano mencium dahi Aurora. Seketika detak jantung Aurora berdetak menggila.
Elano menegakkan kembali tubuhnya begitupun dengan Aurora yang kembali membenarkan posisi duduknya.
Entah kenapa pipi Aurora mendadak panas, Aurora menatap Elano malu.
"Pipimu merah,. "
Ini kali pertama Elano melihat Aurora blushing sejak kepulangannya dari Jerman padahal yang ia lakukan hanya mengecup singkat dahinya.
Elano menyadarinya, ternyata lebih mudah mengambil hati Aurora dengan perlakuan kecil namun istimewa. Karena dulu ia melakukan ciuman kasar Aurora selalu menolaknya dengan kasar, bahkan Elano sampai membuat Aurora menangis.
Aurora atau lebih tepatnya Claudia adalah gadis yang sederhana.
"El... "
"Elano.. "
"Hmm? " deheman Elano sambil menatap wajah Aurora dengan intens, membuat Aurora semakin salah tingkah.
"Jangan tatap aku kaya gitu! " tegur Aurora
"Why? "
"Malu njir! " tegur Aurora namun wajahnya malah semakin memerarah.
Elano terkekeh melihat tingkah Aurora.
Aurora melihat jam ditangannya dan terkejut karena sudah sore, dirinya ada jadwal bertemu dengan Aland sekarang. Aurora bergegas bangkit.
"Kemana? " tanya Elano
"Ada urusan Elano, aku pergi dulu ya... " pamit Aurora
Elano menahan tangan Aurora, "cowok? "
"Hah? "
"Ck.sama cowok? " tanya Elano lagi
"Em.. iya, tapi kamu tenang aja dia cuma Aland kok bukan cowok lain , jadi jangan salah paham ya. "
"Oke."
Aurora mengangguk kemudian berjalan pergi meninggalkan Elano yang masih berdiri disana sambil memandang kepergian Aurora.
Ponsel Elano berdering mendapat telepon dari Sagara.
"Apa."
"Oke, gue kesana. "
Elano memasukan ponselnya kedalam saku celana dan melenggang pergi dari perpustakaan.
🌪
🌪
Motor Aurora memasuki pekarangan sebuah kafe yang sering mereka gunakan ketika berkumpul khusus nya murid dari SMA Bintang.
Setelah melepas helm dan membenarkan penampilannya, ia langsung berjalan memasuki kafe itu.
Aurora mengedarkan ke penjuru kafe namun belum menemukan keberadaan lelaki itu, Aurora pun berjalan kearah meja dekat jendela.
Sambil menunggu Aland , Aurora membuka ponselnya untuk memberikan pesan kepada seseorang. Aurora akan menyelesaikannya sekarang, dan setelah itu rencana selanjutnya Aurora akan membongkar kejahatan Mega dan Sila dengan bantuan Salsa tentu saja.
Aurora meletakkan ponselnya dan menopang dagu, kenapa Laura sulit dihubungi? Aurora tidak tahu dimana rumah Laura.
"Ohh! Abigail ya dia adiknya Laura kan... tapi gue gak punya nomornya, mungkin besok disekolah gue bisa minta. "
"Sorry lama. "
Aland datang sendirian dengan memakai pakaian sederhana nya.
"Santai aja. "
"Ada apa? tumben ngajak ketemu. " ucap Aland
"Gue mau to the point aja, hubungan lo sama Salsa sedang renggang kan? " tanya Aurora
"Hm."
"Aland dengerin gue, gue tau kalau lo mulai nyaman sama Salsa kan? " tanya Aurora lagi
"Hmm."
Aurora berdecak mendengar deheman Aland, "Tapi lo juga mulai tertarik sama Laura? benar? "
"Lo tahu? "
"Gue manusia bukan tahu btw. " ucap Aurora asal
"Gue serius. " tegas Aland
Aurora tersenyum, "gue itu cenayang asal lo tau. " gurau Aurora yang dibalas decakan oleh Aland.
"Bener ya kata Arsen lo emang berubah, berubah jadi nyebelin. " decak Aland
Aurora terkekeh mendengarnya, entah kenapa Aurora juga tidak tahu pdahal dulu waktu menjadi Claudia dia type orang yang sedikit minim bercanda.
"Jauhi Laura Land, karena rasa tertarik lo itu hanya sementara. Percaya sama gue deh.. "
"Lo masih mau lanjutin hubungan lo sama Salsa kan?? dia sendirian Land, kasihan dia harus punya sahabat modelan kaya kunti gitu..." ucap Aurora
"Jadi lo kesini mau bujuk gue? "
"He'em." angguk Aurora
"Gue emang udah nyaman dan suka sama dia terlepas masalah kenapa gue bisa pacaran sama dia, lagian tanpa lo suruh gue bakal memperbaiki hubungan gue sama dia dan melupakan Laura. " ucap Aland dengan santai.
"Kalau begitu ngomong dong sama orangnya langsung. " ucap Aurora tersenyum senang.
"Nant-"
"Aland..."
"Maaf.. maafin aku ya Land. "
Aland menolehkan wajahnya kesamping dan terkejut mendapati Salsa berdiri disana.
"Ngapain disini? " tanya Aland
"Gue yang suruh Salsa kesini, gue kasihan sama dia, btw jaga cewek lo ya, dia polos banget sumpah! mudah dikibulin. " ucap Aurora dengan ujung kalimat dibisikan ke Aland agar Salsa tidak mendengarnya.
Aurora mengajak Salsa duduk disampingnya, dan melihat kedua pasangan itu yang masih sama-sama diam. Aurora berdecak kesal.
"Bilang dong Land! jangan cemen jadi cowok! " tegur Aurora
Ayolah Aurora ingin segera pergi dari sini setelah urusan dia sejoli itu selesai, namun malah saling diam.
"Kita mulai dari awal, mau? " tanya Aland
Salsa mengangguk malu, " aku mau. "
"Sippp!!! " teriak Aurora dengan menggebrak meja membuat sebagian pengunjung menoleh kearahnya, Aurora pun meringis malu.
"Napa sih lo?? kurang asupan Elano? " tanya Aland menatap Aurora aneh.
Makin aneh aja nih bocah, gue bakal bilangin sama Arsen.. bisa bahaya kalau semakin menjadi ~batin Aland
"Hehe... sebagai gantinya karena kalian udah gue bantu baikan, gue butuh bantuan kalian nih...."
"Bantuan apa? " tanya Aland
"Mudah kok. " ucap Aurora tersenyum misterius.
🌪
🌪
🌪
Hai🙏
Btw nih, Ada yang tau kabarnya Laura??
Jangan lupa
like, vote, coment dan beri hadiah yakk;)
See you next chapter!! 🌪