AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
70#



SELAMAT MEMBACA


*


*


*


Sesuai rencana mereka untuk menjenguk Karel yang sempat cedera, namun kata pengurus UKS itu tidak parah. Hanya seperti keseleo yang menjadikan otot-otot menegang. Kondisi ini biasanya terjadi ketika kita berolahraga tanpa melakukan pemanasan yang baik.


"Gimana kabar lo? "


"Baik udah gak sakit lagi. "


"Syukur deh. "


"Bentar gue keluar dulu mau angkat telepon. " pamit Stefano saat menerima panggilan telpon mendadak.


Setelah keluar kini mereka yang berada di dalam ruangan kembali hening. Tidak ada yang berbicara mereka sibuk dengan pikiran dan kegiatan mereka masing-masing.


"Arsen mana? " tanya Karel


"Pergi sama bebeb nya. "


"Lho siapa? "


"Bego! Laura lah siapa lagi! " sahut Dava


"Gak usah ngegas anjir!! "


Ceklek!


Celline dan Jovanya masuk kedalam UKS sembari menenteng kresek putih yang berisi gorengan. Sebenarnya mereka hendak ke uks terlebih dahulu namun perut mereka meronta ingin diisi jadi mereka mampir ke kantin terlebih dahulu. Tidak lupa membawa sebungkus gorengan serta minuman botol untuk para lelaki. Sungguh baik.


"Apaan tuh? "


"Gorengan sama minum buat kalian. "


Dava menyahut nya dengan semangat sambil menenteng kresek itu dan membaginya satu-satu untuk mereka. Sementara sisanya untuk nya.


"Udah dapet semua kan? berarti ini buat gue. "


"Itu ngapain diluar? " ucap Celline


"Itu? "


"Cowok itu yang lagi telponan. "


Mereka teridiam mencoba berpikir apa 'itu' yang dimaksud Celline.


"Ck.Stefano! " kesal Celline saat tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"Bangs@t langsung sebut dong! itu itu itu dikira kita dukun bisa tau maksud lo!! " geram Karel


"Siniin gorengannya!! "


"Apaan udah dikasih gak etis kalau diambil lagi!! "


Celline berdecak kesal.


Pintu UKS terbuka menampilkan Stefano yang terlihat seperti terkena ayan.Eh maksudnya terlihat lesu.


"Kenapa lo? "


"Bang Steven sudah sadar dan akan ditahan oleh polisi. " ucapnya


"Gue mau kesana. " pamitnya


"Tunggu! kita semua bakal temenin lo! " ucap Jaka yang dibalas anggukan oleh yang lainnya.


Mereka bergegas keluar dari dalam UKS meninggalkan Jovanya dan Celline disana. Keduanya buka ditinggal namun memang tidak bisa ikut karena ada urusan.


Hanya para lelaki seperti Karel, Sagara, Jaka dan Dava. Dimana Arsen, Aland dan Elano?? jangan ditanya lagi sedang dengan siapa mereka sekarang. Tentu saja bersama pujaan hatinya.


Disisi lain Arsen menyeret Laura menuju rooftop. Laura hanya pasrah ketika tangannya ditarik kasar oleh lelaki itu. Bukannya tidak ingin memberontak namun ia juga sebenarnya ada yang ingin disampaikan kepada lelaki itu.


Menutup pintu.


"Kemana kamu selama ini? " tanya Arsen


"A-aku pergi ke-"


"Jangan berbohong! "


"Maafkan aku Arsen. "


"Kenapa? kenapa meminta maaf? aku hanya ingin tahu dimana keberadaanmu 3 hari terakhir. " ucap Arsen


Dengan keterpaksaan Laura menceritakan semua kejadian yang ia alami belakangan ini. Kenapa dirinya tidak berangkat sekolah sampai alasannya. Dirinya percaya kepada Arsen walaupun hanya sebatas pacar. Arsen pun tidak menanggapinya lelaki itu diam mendengarkan dengan seksama.


"Aku tau kita mengambil resiko besar. "


Kisah cinta para remaja seharusnya tidak terlalu terbelit seperti yang mereka alami. Hanya pacaran dan menunggu kecocokan antar keduanya untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Seharusnya seperti itu. Namun penghalang dan berbagai macam masalah terus saja datang pada mereka, dan disitulah kesetiaan akan diuji.


"Jalani saja dulu selama keluarga kamu belum tau, itu akan baik-baik saja. " ucap Arsen menenangkan


"Semoga saja. "


"I miss you. "


"Hah? " bengong Laura


Arsen berjalan mendekat dan menarik tangan Laura kencang hingga menubruk dada Arsen. Lelaki itu langsung memeluk dan mendekap tubuh Laura yang masih terkejut. Tangannya mengelus rambut Laura dengan lembut.


"Hilangin perasaan kamu sama Aland yaa.. "


"Hilangin semuanya, aku mau hanya aku yang ada dihati dan pikiranmu. " ucap Arsen lembut


Mendengar perkataan romantis itu sontak Laura merasakan dadanya berdegup kencang disertai gelombang kupu-kupu berterbangan di dalam tubuhnya.


Apa ini yang dimaksud Aurora soal..


Belum sempat melanjutkan isi pikirannya. Wajah Laura kembali di tangkup oleh tangan berotot milik Arsen. Mengelus pipi mulusnya dengan lembut. Dengan perlahan namun pasti wajah Arsen semakin mendekat secara perlahan, memiringkan wajahnya dan..


Ceklek!


Pintu rooftop terbuka menampilkan wajah Aurora dan Elano di depannya. Sontak adegan selanjutnya pun tertunda karena kehadiran dua sejoli itu.


Arsen dan Laura langsung menjauhkan tubuhnya masing-masing dan berdiri canggung. Dalam hari Arsen mengumpati Aurora yang selalu saja mengganggu momen romantisnya! Kenapa harus Aurora yang datang!! Ck. mengganggu sekali anak satu itu.


Sementara disatu sisi Elano yang tidak tahu bahwa Arsen akan mengajak Laura ke rooftop, jadi dirinya menyeret Aurora kesana untuk berbincang sesuatu.


Aurora yang kepalang sudah melihat sedikit adegan itu pun sontak terkejut, tidak menyangka akan menggangu adegan romantis abangnya lagi. Lagian ini bukan salahnya, ia hanya menuruti perintah Elano untuk kesini.


"El kita salah tempat. "


"Balik aja yuk. " ajak Aurora


"TELAT!! " teriak Arsen geram sampai rasanya ia ingin menggulung adiknya itu kedalam toples dan mendangnya jauh-jauh.


Aurora yang memang mudah terpancing jika sudah memasuki ranah adu bacod dengan abangnya pun berjalan maju mendekati Arsen.


"Heh bang! "


"Yang salah siapa? Ini sekolah bukan ajang buat pacaran! mana di rooftop lagi! gak dikunci juga. " cerocos Aurora


"Kalian kan bisa cari tempat lain! "


"Lah mana kita tau kalau abang disini! "


"Adek pengganggu!! "


"Abang mesum!! "


"Pengganggu!! "


"MESUM!!! MESUM! MESUM!!! " teriak Aurora berkali-kali


Ummmhh..


Elano segera membekap mulut tunangannya itu. Selain berisik dirinya juga tidak suka Aurora berteriak-teriak apalagi sampai menyakiti tenggorokan kecilnya.


"Jangan teriak, kasian tenggorokan nya. " ucap Elano


"Lephasinnn anj-"


Elano segera melepaskan bekapannya di mulut Aurora, " jangan ngomong jorok! "peringat Elano


Arsen dan Laura menatap dua sejoli yang tengah dimabuk asmara dengan tatapan jengah. Sudah mengganggu merebut suasana dengan mengumbar keromantisan lagi!


Ceklek!


Pintu Rooftop kembali terbuka, membuat keempat manusia disana kaget. Mereka menunggu siapa yang masuk kesini. Semoga saja bukan guru petugas sekolah.


Terlihatlah disana Aland yang menarik tangan Salsa dengan lembut masuk keroftof kemudian menutup pintu. Mereka belum menyadari empat manusia disana.


Berbalik dan..


" Lho?? " kaget Salsa begitu pun dengan Aland


"Kalian? " bingung Aland


Aurora menatap abangnya jahil, " sudah tau kan siapa yang salah?? " menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak mengunci pintu. " ledek Aurora


Aland dan Salsa berjalan mendekat dengan tangan yang masih bertaut satu sama lain, "kenapa ngumpul disini ? " tanya Aland


"Lagi nyari angin. " ucap Arsen datar


"Udah ketemu anginnya ? " tanya Salsa polos


Aurora tertawa mendengar ucapan Salsa, kemudian menarik Salsa dan Laura untuk bergabung bersama.


Sekarang ada dua kubu, kubu Aurora dan kubu Arsen.


"Anginnya ada dimulut Laura Sal.. " ucap Aurora


"Maksudnya? "


"Jadi tuh mer-"


"Bacod! diem gak lo! " cegah Laura agar mulut Aurora tidak ember.


"Ada apa sebenarnya? " tanya Salsa


"Bukan apa-apa. "


Sementara ketiga lelaki itu menatap ketiga cewek yang tengah cekikikan ngobrol dengan datar. Sampai bunyi telpon menyambut pendengaran. Elano segera mengangkatnya.


"Apa? "


"Kita semua mau jenguk Steven, dia bakal dibawa polisi hari ini. " ujar Sagara


"Hmm oke. "


"Lo kesini sekarang, gue mau telpon Arsen sama Aland. "


"Gak usah biar mereka gue yang urus. "


"Oke! "


TUT!


Panggilan dimatikan oleh Elano.


"Siapa? " tanya Aland


"Sagara."


"Ngapain? " tanya Arsen


"Polisi sudah mau membawa Steven kepenjara hari ini. " jelas Elano singkat.


"Kita ke sana sekarang"


Aurora yang mendengar nya sontak langsung menimbrung, "aku ikut. "


"Gak! " tolak Elano


"Pokoknya ikut! " tekan Aurora


"Gak! "


"Kalian cewek belanja aja ini urusan cowok. " ucap Arsen


Ketiga lelaki itu langsung berjalan pergi keluar dari rooftop begitu saja.


"Yaudah kita pulang aja. "


"Oke."


Dalam hati dan pikiran Aurora tertuju pada Steven, mungkin ia akan memastikan sesuatu setelah ini. Terutama keberadaan Sila yang tidak terlihat belakangan ini.


Untuk Mega dirinya beberapa kali berpapasan dengan gadis itu, namun terlihat tidak tertarik ribut dengannya tercetak jelas juga Mega menghindarinya. Entah karena apa.


*


*


*


Like, vote, coment, dan beri hadiah guysss..


wajib! see you!!