
Happy Reading
*
*
*
Setelah kemenangan yang didapat oleh SMA Bintang, kini waktunya pembagian hadiah untuk perwakilan dari sekolah yang memenangkan kejuaraan baik juara 1 sampai runner-up.
Elano berdiri di podium yang lebih tinggi dari yang lainnya karena posisinya yang memegang juara 1.Pembagian hadiah dilakukan dengan tenang dan penuh suka cita.
"Baik sekarang waktunya hadiah kita serahkan kepada tuan rumah final kali ini, sekaligus pemenang turnamen bola basket kali ini, siapa lagi jika bukan dari SMA Bintang!!! mari berikan tepuk tangannya!! "
Semua orang bersorak gembira disahuti dengan tepuk tangan yang meriah. Juara pertama mendapatkan piala kejuaraan dan uang tunai sebesar 15jt rupiah yang nantinya akan mereka berikan kepada sekolah dan masing-masing anggota.
"Selamat! "
"Terimakasih." sahut Elano saat berjabat tangan dengan ketua panitia pertandingan.
Elano mengangkat tinggi piala yang ia pegang, " SMA BINTANG???!! “
"Jaya! Jaya! Jaya! luar biasa!!... " sorak penonton.
Aurora dengan anggota yang lain juga tersenyum senang dan merayakannya dengan bertepuk tangan. Celline, Jovanya dan Laura memeluk Aurora dengan gemas.
"Apaan sih, engap tau! " dorong Aurora pada mereka yang tengah mendekap tubuhnya dengan erat sampai dirinya merasa panas dan engap.
"Udah-udah gue gak bisa napas anj. "
"Hahahaa... kasian deh. " ledek Celline
Elano turun dari atas tribun dan menyerahkan piala itu kepada pak Andri selalu pembimbing dan guru olahraga mereka.
"Kalian hebat! " puji pak Andri
"Jelas dong pak.. " sahut Jaka
"Ini juga berkat bapak. " ucap Stefano
Setelah menyerahkan piala kepada pak Andri, Elano berjalan keluar dari lapangan basket begitu saja. Membuat yang lain merasa heran.
"Susul sana... " goda Laura pada Aurora yang langsung dibalas anggukan olehnya.
Tanpa basa-basi Aurora langsung berlari menyusul Elano yang sudah keluar dari arena lapangan.
"Bucin ya gitu.. " decak Jovanya merasa lucu dengan tingkah dua pasangan itu.
"Iyaa, gue kapan ya bisa kaya dia huhuhu.. " sedih Celline dibuat-buat.
"Noh sama Stefano aja dia ganteng loh Cell.. " Goda Laura yang dibalas tawa oleh Jovanya.
"Dih ogah! "
Tiga orang laki-laki berseragam basket yang berbeda dengan sekolahnya berjalan mendekati mereka yang tengah mengobrol di pinggir lapangan.
"Congrats bro! selamat atas kemenangannya." sapa salah satu dari ketiganya.
Sagara yang berada di dekat lelaki itu pun membalas jabatan tangannya ala lelaki, " thanks Rel, kalian juga hebat. " sahut Sagara kepada lelaki bernama Farel.
"Oh iya cewek yang tadi main sama kalian mana? " tanya Farel
"Aurora lagi pergi sama Elano, kenapa? " sahut Dava
"Oh namanya Aurora. " angguk lelaki itu
"Kenapa sama adik gue? naksir? " sahut Arsen sinis
"Oh gak kok, dia keren hahaha.. "
"Yaudah kalau gitu kita pamit pulang, sekali lagi selamat. "
Ketiga lelaki itu bersalaman dengan semua orang dan berjalan menjauh menuju keluar lapangan untuk kembali ke sekolah masing-masing.
"Kalian mau jenguk Karel di UKS gak? " tanya Stefano kepada yang lainnya.
"Ayok! " sahut Jovanya
"Kalau gitu kalian kesana dulu, kita mau ganti baju. " ucap Stefano yang dibalas anggukan paham oleh semuanya.
Para prempuan berjalan terlebih dahulu, namun baru melangkah beberapa langkah tangan Laura ditahan oleh Arsen, " ikut gue! "
Dengan terburu-buru Arsen menyeret Laura keluar dari sana begitu saja, meninggalkan Celline dan yang lainnya.
"Berdua aja nih? " tanya Celline pada Jovanya
"Ya gimana lagi, Aurora lagi sama Elano, satunya juga diculik sama Arsen." sahut Jovanya
*
*
Beralih pada Aurora yang kini tengah berlari menyusul langkah besar dari kaki panjang milik Elano, berkali-kali gadis itu mengeluh karena kecepatan jalan lelaki itu yang sangat cepat, baru beberapa detik dikejar pun sudah sangat jauh jaraknya.
Aurora mengikuti langkah besar Elano yang berbelok memasuki sebuah ruangan, tanpa melihat apa nama ruangan itu Aurora langsung saja masuk mengikuti Elano.
"Loh kemana cowok itu?? " gumam Aurora saat sudah masuk kedalam.
Dengan langkah pelan Aurora berjalan melihat sekitar ruangan itu dan berhenti di sebuah ruang yang seperti Elano masuk kedalamnya. Tanpa ragu sekalipun Aurora masuk kedalam.
Membuka pintu dan..
"ANJ! "
Aurora terpekik dan langsung berbalik badan saat melihat Elano tengah membuka baju basketnya menghadap kebelakang, bisa ditebak lalaki itu tengah mengganti bajunya.
Tak ingin mengotori matanya yang masih suci, Aurora berbalik dan kembali membuka pintu untuk keluar.
"Aurora? " ucap Elano sedikit terkejut.
Belum sempat membuka pintu, baru saja memegang ganggang pintu suara itu langsung membuat tubuh Aurora terdiam kaku. Aurora merutuki dirinya yang seenaknya memasuki ruangan tanpa melihat nama yang tertera tadi.
Elano berjalan mendekati Aurora yang masih berdiam kaku sambil memegang ganggang pintu.
"Ngapain kamu disini?? "
Aurora diam tak menanggapi, ia masih sibuk menggerutu karena kebodohannya. Bangs@t dia tidak tau kalau Elano pergi hanya untuk mengganti pakaian! jika seperti itu lebih baik ia tidak mengikutinya!
Elano menarik bahu Aurora dan membalik kan tubuh gadis itu untuk berbalik menghadapnya.
"Kamu mau ngintip aku ganti baju hmm? " tanya Elano menunduk untuk melihat wajah gadis didepannya itu.
"Gak sengaja anjir. " ucap Aurora
"Gak sengaja? "
"Aku kira kamu mau kemana jadi aku susul kamu. "
"Ohhh.. " sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Kamu lanjutin ganti bajunya gih, aku tunggu diluar. " Aurora berbalik badan tanpa menatap Elano.
Lagi-lagi tangan Aurora ditahan membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Kenapa ia harus terjebak dalam situasi seperti ini.
"Apa lagi? " tanya Aurora lagi-lagi tanpa menatap kedepan, ia terus mengalihkan pandangan matanya dari tubuh Elano.
"Disini sepi. " jeda Elano
"Kalau... "
Perlahan namun pasti Elano berjalan mendekat kearah Aurora dan membuat Aurora mau tak mau berjalan mundur untuk menjaga jarak. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Aku mau keluar, jangan halangin."
Karena menunduk pandangan Aurora tak sengaja menatap kearah pinggang Elano yang berbalut celana bahan seragam sekolahnya. Tepat di resleting celana.
"Astaghfirullah... " lirih Aurora segera mengalihkan pandangannya.
Elano terus melihat gerak-gerik dan gelagat gadis didepannya itu. Saat melihat kemana pandangan Aurora sempat tertuju dan langsung mengalihkan pandangannya, membuat Elano tersenyum tipis.
"Mau? "
"Gak! jangan mesum deh! " sahut Aurora dengan cepat.
"Loh? aku nawarin kamu mau keluar atau masih tetap disini? kenapa kamu bilang mesum?? "
"Ohhh atau kamu sedang memikirkan hal kotor? mikirin apa hmm?? " goda Elano dengan suara menggodanya.
"Gak ada ! yaudah minggir kamunya! "
Aurora mendorong tubuh Elano yang toples bagian atasnya otomatismembuat tangannya bersentuhan langsung dengan kulit dada bidang milik Elano, bisa dirasakan rasa hangat disana. Setelah tersadar Aurora menarik kembali tangannya namun ditahan oleh Elano. Tindakan itu sontak membuat Aurora melotot kaget.
Ceklek!
"ASTAGHFIRULLAHALAZIM!!! " pekik Dava saat membuka pintu ruang ganti, namun melihat hal tak mengenakan dilihat.
Sama dengan Aurora, Elano juga terkejut melihat teman-temannya berada di ambang pintu menatap keduanya horor. Dengan segera Aurora menarik tangannya dari dada bidang Elano dan menjauh.
"ANJ! kalian habis ngapain woyy!! " kaget Jaka
Elano mengembalikan ekspresi nya menjadi datar dan berlagak tidak terjadi apa-apa, ga memang tidak ada apa-apa kan? sementara Aurora menunduk malu. Kedua pipinya sudah semerah tomat.
"Gak ngapa-ngapain. " sahut Elano santai
"Terus? "
"Kenapa Aurora bisa ada di ruang ganti cowok??! " selidik Stefano
"Kalian habis-" jeda Dava dengan ekspresi menuduhnya.
"Gak usah mikir macem-macem! " tegas Elano
"Gimana gak mikir macem-macem? kalian berduaan di tempat sepi dengan lo bertelanjang dada dan Aurora megang dada lo?? itu jelas sangat mencurigakan. " ucap Sagara penuh selidik.
Aurora terus menunduk, sumpah dirinya sangat malu dan awkward sekarang. Bagaimana tidak? ia sedang berada di ruang ganti laki-laki dan dikelilingi oleh teman dan sahabat dari Elano? ini suasana yang sangat canggung.
Tak tahan dengan suasana seperti itu, Aurora langsung kabur dari sana namun tangannya dicegah oleh Dava sebelum dirinya keluar.
"Gak boleh, sebelum kalian jawab. " cegah Dava menahan tangan Aurora.
Aurora memejamkan matanya dan kemudian mengangkat wajahnya menatap semua lelaki yang berada disana, " gu-gue yang salah. "
"Loh? maksudnya lo yang nyosor duluan ra? " shook Dava
"Wah parah agresif juga lo, untung Arsen pergi kalau dia nemu lo disini , gak bisa gue bayangin nantinya bakal kaya apa.. "
"Nyosor duluan apaan sih! bukan itu! " kesal Aurora
"Lalu?? atau jangan-jangan lo yang nodain Elan- emphhh.."
Aurora segera menutup mulut Dava agar tidak berbicara hal yang tidak-tidak, "gue nyusul Elano dan gak sengaja masuk ruangan ganti. Gue kira Elano marah sama gue! jangan ngomong hal yang ngaco " tegas Aurora
"Lwepash whoi. "
Aurora segera melepas tangannya dari mulut Dava.
"Gak usah bekap mulut gue juga kalik, cewek kok kasar banget herann.. " gerutunya Dava
"Lo sih nyerocos muluk! "
"Serius gak ngapa-ngapain? " bahas Jaka lagi.
"Gak."
Elano tersenyum tipis saat melihat ekspresi Aurora yang berusaha menahan rasa malu, dilihat dari gelagatnya saja sudah tertebak. Salah satu tangan gadis itu terus meremas ujung baju yang ia kenakan.
"Yaudah sana pergi, kita mau ganti baju. Atau lo mau liat kita ganti baju? " goda Dava sang fuckboy kelas kakap.
"Dih ogah! mending punya Taehyung! "
Setelah mengatakan itu Aurora beranjak membuka pintu dan pergi dari ruang ganti begitu saja.
"Siapa Taehyung? " tanya Stefano
"Selingkuhan nya mungkin. " jawab Jaka mengedikkan bahunya tak acuh dan berjalan menuju loker.
"Yaelah itu loh boyband, oppa-oppa dari Korea, gitu aja gak tau! " sahut Dava
"Ohhh... " sahut Jaka
"Udah-udah segera ganti baju, kita jenguk Karel! "
*
*
*
Haiii🤩
Tinggal kan jejak yuk👇like, vote, coment dan beri hadiah plisss... 😊