AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
51. [ Alasan Perrunangan]



Happy Reading


⛄⛄⛄


Setelah kejadian absurd tadi kini Aurora dan Elano sedang berada di sebuah ruangan musik milik keluarga Elano. Elano yang sedang bermain gitar dengan lihainya sementara Aurora sedang sibuk bertelpon ria dengan Laura.


"Gue berasa punya saingan banyak banget sekarang"


"Salah siapa pacaran sama abang gue udah tau ada dua makhluk yang ngintilin Arsen dkk"


"Udah terlanjur , btw lo lagi ngapain? " tanya Laura


" Duduk temenin Elano main gitar "


"Cie yang udah luluh.. ohiya tapi lo harus tetap ingat dunia kita sama mereka itu berbeda, gue gak mau lo jadi sadgirl.."


Aurora terdiam sejenak saat mendengar perkataan Laura, ia kemudian menolehkan kepalanya kearah Elano yang sedang asik bermain gitar. Aurora menghembuskan napasnya pelan, apa dirinya sudah jatuh hati dengan karakter novel?



Kini dirinya mulai merasa bimbang antara ingin kembali atau bertahan, namun ia juga harus tahu kalau ini bukan dunianya.


"Woi!! lo masih disana kan? " panggil Laura di seberang sana.


"Ya." jawab Aurora singkat


"Yaudah gue mau awshh.." ringis Laura diseberang sana.


"Kenapa?! lo kenapa? " tanya Aurora panik mendengarnya


Terdengar helaan napas di seberang sana.


"Gak papa! udah dulu ya gue tut-"


"Tunggu." intrupsi dari Aurora sebelum mematikan panggilan.


"Gue gak tau apa yang sedang lo alami sekarang, gue cuma mau ingetin sepertinya Aland udah ada rasa sama Laura sebisa mungkin lo cuekin , gue gak mau ada masalah baru karena hal ini apalagi sampai Salsa berubah karakternya, jujur aja gue merasa ancaman terbesar itu kalau pemeran utama cerita ini tau yang sebenarnya, dia bakal lebih mudah merubah novel . " saran Aurora serius.


"Gue juga ngerasa tatapan Aland gitu, em gue bakal usahain. " jawab Laura diseberang sana.


"Udah dulu ya! dadah! "


Panggilan dimatikan begitu saja oleh Laura, sementara Aurora langsung terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.


Ada yang gak beres sama Laura...


Aurora merasakan hal itu setelah dirinya dirawat dirumah sakit, ekspresi Laura tak seperti biasanya. Terdapat beberapa luka disana.


Aurora memejamkan matanya untuk merilekskan pikirannya, hanya sekitar 10 detik.


Saat membuka matanya dan langsung memundurkan badannya terkejut karena terdapat wajah Elano yang tepat didepan matanya.


Karena kursi yang dipakai adalah kursi tanpa penyangga punggung membuat Aurora terjungkal ke belakang dengan begitu saja.


"Arghh... pantat gue!! " ringis Aurora sambil memegang pantatnya.


Sementara Elano sudah memperhatikan gelagat gadis itu yang sepertinya sedang banyak pikiran, niatnya hanya ingin mengejutkan Aurora agar bisa melupakan masalahnya sejenak namun sepertinya tidak sesuai ekspektasi nya.


"ELANOOOOOO!!!... " teriak Aurora kesal


"Bisa gak sih jangan ngagetin! " gerutu Aurora sambil berusaha berdiri namun pantatnya terasa pegal sekali. Nyut nyutan.


Kalian tahu kan rasanya keram pantat? atau keram di betis? ototnya terasa tegang nyut-nyutan dan sangat sakit, namun itu bertahan sekitar beberapa menit sebelum lama-lama perlahan membaik.


Elano yang melihatnya pun langsung membantu Aurora berdiri dan langsung disambut dengan pukulan keras dibahunya.


"Nyeri banget njir! " sambil memukul pundak Elano kencang membuat Elano meringis pelan karena tak tanggung-tanggung Aurora memukul tulangnya.


"Iya-iya maaf.. "


Dengan susah payah Aurora berhasil bangkit dari duduknya dilantai dengan Elano yang memegang tangan serta pinggangnya.


"Masih sakit? mau kedokter? "


Ringisan Aurora perlahan tak terdengar dengan rasa nyeri yang perlahan menghilang, "Gak."


" Ngapain mukamu gitu tadi hah?! kamu sengaja ya?!" semprot Aurora mendorong tubuh Elano menjauh dari rangkulan ditubuhnya.


Elano pun menjauh dengan sabar ia memegang tangan Aurora walaupun beberapa kali ditolak, "gak sengaja,aku gak tau kalau respon mu bakal seheboh itu. " ucap Elano berusaha sabar.


"Maaf.. aku antar kamu beristirahat dibawah. "


"Hmm.. "


Aurora melenggang pergi meninggalkan Elano yang menatap punggung Aurora sabar," lo harus sabar Elano, nenangin macan betina emang butuh sabar yang banyak. " ucapnya


Elano berjalan menyusul Aurora untuk pergi ke lantai bawah.




"Baik." balas Gani datar


"Ada gerangan apa kesini? butuh suntikan dana lagi ? jika iya aku akan memberikannya dengan percuma. " ucap Victor .


"Aku ingin bicara denganmu. " ucap Gani


"Tentu , ayo silahkan duduk. "


Victor mempersilahkan temannya untuk duduk di ruang tengan.


"Kita sudah sepakat dulu tentang pertunangan anak kita dan kau memberikan suntikan dana pada perusahaanku waktu itu karena sedang krisis, aku mau mencabutnya dan membayar semua uangmu itu.. " ucap Gani


Pelayanan datang menaruh makanan serta minum dimeja kemudian pergi dari sana.


"Aku tidak butuh uang itu, kamu pakai saja lagian anak kita sudah bertunangan bukan? lupakan saja hal itu. " ucap Victor sambil santai menyeruput kopinya.


"Aurora ingin membatalkan pertunangan ini, aku mendapatkan info itu dari kedua orangtuaku. " ucap Gani juga sambil menyeruput teh nya.


"Apa?! bagaimana bisa? bahkan jika dilihat hubungan keduanya semakin membaik. " sanggah Victor


"Kau meragukan perkataan kedua orangtuaku Victor? " tanya Gani dingin


"Kau bisa menilainya nanti jika sudah bertemu dengan mereka. " ucap Victor santai.


"Batalkan pertunangan dan aku akan mengembalikan semua ua-"


"Jadi ini alasan papah menerima pertunangan ku? karena papah butuh suntikan dana? apa papah memanfaatkan ku karena dulu aku ingin bertunangan dengan Elano? ... "


Victor dan Gani langsung menolehkan kepalanya kearah tangga, Gani sangat terkejut karena kehadiran putrinya itu.


Aurora berjalan menuruni tangga dengan tenang, sementara Elano masih berdiam dibelakang Aurora. Ia berdecak kesal dengan pembahasan kedua orang tua itu , kenapa mereka tidak membicarakan hal seperti ini di ruangan lain?!


Elano tahu seharusnya ayahnya memberitahukan keberadaan Aurora pada Gani namun sepertinya ini memang rencana ayahnya agar Aurora tahu dan sekarang beneran terjadi?


Elano mengacak rambutnya frustasi, ia takut Aurora kembali menjauhinya karena hal ini. Sehari saja tanpa melihat Aurora dirinya sudah seperti orang gila karena sangat merindukan gadis cerewet itu.


Ayah Sial*n!!


"Jawab Aurora pah... "


Gani berdiri menatap mata putrinya dengan pandangan sulit diartikan, kenapa Victor tak memberitahunya kalau ada anaknya disini!!


Gani tak ingin Aurora salah paham apalagi sampai kecewa padanya.


Victor sial*n!!


Sementara Victor ayah Elano dengan santai duduk sambil menyeruput kopinya, tak berselang lama ia terbatuk dua kali saat meminum kopinya.


Pasti ada dua orang yang mengumpatiku.. batinnya


Victor pun meletakkan kopinya dan berdiri mendekati Aurora menepuk pundak gadis itu, " apa kamu tadi mengumpatiku ? " tanya Victor


Aurora mengernyitkan dahi, "maksud om? aku tak berani berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua, mungkin yang om maksud adalah dua orang itu. " Aurora menunjuk dua lelaki dengan dagunya.


Victor tersenyum dan mengelus pucuk kepala Aurora dengan lembut, ia tersenyum kemenangan saat merasakan tatapan tajam dari dua lelaki disana. Berani asekali mereka mengumpatiku seorang Victor de Alister .


"Bagus.. " puji Victor


"Ayo kita duduk agar suasana tidak tegang. " perintah Victor menggenggam tangan Aurora agar duduk disampingnya namun segera dicegah dengan tangan Gani, "dia putriku jangan coba-coba merebutnya dariku, Victor! " tekan Gani dingin.


Kini Aurora, Elano dan dia pria paruh baya itu sudah duduk di ruang tengah dengan Aurora yang duduk dengan papahnya.


Elano menatap mereka tanpa minat.


"Maafkan papah, waktu itu kebetulan perusahaan papah sedang kritis, papah terpaksa menerima suntikan dana dari om Victor. " jelas Gani sambil menggenggam tangan putrinya.


"Bagus dong. "





Hai


maaf lama up soalnya udah sibuk kuliah😭sibuk banget ;)


Tapi bakal tetep up sampai end kok


Like, Vote, Coment dan berjalan hadiah kak☃️


Terimakasih semua💕


SEE YOU!!